



The hero and the coward both feel the same thing, but the hero uses his fear, projects it onto his opponent, while the coward runs. It’s the same thing, fear, but it’s what you do with it that matters.D’Amato, Cus
“Dan sejarah mencatat, kisah heroik dibalik kaburnya kapten kapal pesiar Costa Concordia, Francesco Schettino (52). Kepala Pelabuhan Livorno, Gregorio de Falco (48) yang memaki Schettino menjadi salah satu pahlawan diantara kisah heroik lainnya.”


Barusan saya melihat tayangan ulang sepak terjang almarhum Jendral Hoegeng di @KickAndyShow. Melihat penampilan keluarga amarhum dan sahabat-sahabat beliau, kelihatannya mereka memperoleh “Kenikmatan Yang Tertunda” dan “Sengsara Membawa Nikmat”. Mengapa? Setelah mengalami “pendzoliman” oleh fihak-fihak yang merasa terganggu dengan Niat, Pikiran dan Tindakan (Heart, Head & Hand) untuk memerangi kejahatan dan kemaksiatan, akhirnya almarhum Jendral Hoegeng, keluarga serta sahabat dekat yang satu visi mendapat tempat istimewa di hati masyarakat. Bahkan istri dan keluarganya bisa berangkat ke Hawaii, tempat yang diidamkannya bersama almarhum Jendral Hoegeng, dengan sumbangan dari para donor yang bersimpati dan berterima kasih kepada beliau. Berikut adalah tulisan Andy F. Noya yang berisi kekagumannya pada Jenderal Hoegeng: Suatu hari, seorang teman lama menelepon saya. Dia menceritakan kisah yang membuat hati saya tersentak lalu tergerak. Cerita tentang istri almarhum mantan Kapolri Jenderal Hoegeng Iman Santoso. Menurut teman saya, ketika Pak Hoegeng masih hidup, dia pernah berjanji suatu hari kelak, jika punya uang, dia akan mengajak istrinya ke Hawai, Amerika Serikat. Mengapa Hawai? Karena mereka berdua begitu mencintai lagu-lagu “irama lautan teduh”. Hoegeng dan Merry Roeslani, sang istri, sejak muda memang sangat menyukai musik hawaian. Kecintaan pada jenis musik tersebut mendorong mereka menghidupkan kembali kelompok musik Hawaian Seniors yang dulu pernah dibentuk Hoegeng semasa remaja. Mereka bahkan tampil sebulan sekali di TVRI dan merupakan program yang sangat diminati pada tahun 1970-an. Namun apa mau dikata. Sebelum janji itu bisa dipenuhi, sang jenderal yang jujur dan sederhana itu lebih dulu dipanggil Tuhan. Hoegeng pergi selama-lamanya tanpa sempat mengajak sang istri menginjak pasir Waikiki Beach di Hawai yang terkenal itu. Hoegeng juga tak pernah sempat mengajak Merry melihat penari hula-hula asli di pulau tersebut. Karena itu, saya bisa membayangkan betapa sedih hati Ibu Merry. Bagi Anda yang mungkin lupa, selama menjadi Kapolri, Pak Hoegeng setiap akhir bulan tampil bermain musik bersama Hawaian Seniors membawakan lagu-lagu irama lautan teduh. Duet Hoegeng dan Merry sanggup menyihir penonton televisi pada tahun 1970-an. Bahkan penampilannya di TVRI waktu itu terus berlanjut walau Pak Hoegeng sudah pensiun. Hingga pada 1978, Hawaian Seniors “dicekal” tidak boleh tampil di TVRI oleh penguasa Orde Baru. Tidak pernah jelas mengapa. Alasan “resminya” karena acara tersebut dinilai tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Tetapi diduga pencekalan itu berkaitan dengan keikutsertaan Pak Hoegeng menandatangani “Petisi 50” yang berisi kritikan keras terhadap Pak Harto. Pencekalan terjadi setelah Pak Hoegeng, Ibu Merry, dan Hawaian Seniors sepuluh tahun tampil menghibur di TVRI. Waktu yang cukup lama. Tetapi, percaya atau tidak, selama itu pula belum pernah sekalipun Ibu Mery menginjakkan kakinya di pasir Waikiki Beach yang terkenal itu. Padahal, sebagai Kapolri, Pak Hoegeng sudah pernah tiga kali bertugas ke Amerika dan sempat mampir di Hawai. Ibu Merry tidak pernah ikut karena Pak Hoegeng memiliki prinsip yang sangat teguh: selama melakukan perjalanan dinas, istri dan anak-anak tidak boleh ikut “numpang” fasilitas kantor “Dia tidak pernah mengijinkan saya dan anak-anak memanfaatkan kesempatan menggunakan fasilitas dinas,” ungkap Ibu Mery. “Sementara untuk beli tiket dengan uang sendiri kami tidak mampu.” Ironis memang. Sulit dipercaya ada orang sejujur Pak Hoegeng di negeri ini. Tak heran jika kemudian muncul idiom: Di Indonesia hanya ada tiga polisi yang jujur. Polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng. Begitu jujurnya sampai ketika meninggal tak banyak harta benda yang dia tinggalkan untuk keluarganya. Bahkan setelah 32 tahun mengabdi di kepolisian, uang pensiun yang diterima Pak Hoegeng cuma Rp 10 ribu. Kawan saya menilai kisah tentang Ibu Mery tersebut layak diangkat di Kick Andy. Agar banyak pihak terbuka matanya bahwa di negeri ini ada sebuah ironi. Ironi kehidupan seorang pejabat yang jujur dan seorang istri yang tabah. Setelah mendengar kisah tentang Pak Hoegeng dan Ibu Merry, ada “panggilan” yang begitu kuat di dalam dada. Panggilan untuk mewujudkan mimpi Ibu Merry. Mimpi untuk bisa menginjakkan kaki di Pantai Waikiki. Dalam usianya yang sudah di atas 80 tahun, mungkin ini permintaan terakhir yang akan dikenangnya sebelum Tuhan memanggilnya. Tapi, jujur saja, saya sempat ragu apakah bisa mewujudkan mimpi tersebut. Terutama ketika mendengar cerita bahwa sudah dua kali Ibu Merry ditolak ketika mengajukan visa ke kedutaan besar Amerika Serikat. Tak ada penjelasan mengapa permohonannya ditolak. Sejak penolakan yang kedua, Ibu Merry sudah mengubur dalam-dalam impiannya untuk bisa melihat Hawai. Saya mencoba menghubungi pihak kedutaan Amerika dan menjelaskan keinginan saya untuk membantu Ibu Merry guna mendapatkan visa. Saya berusaha menjelaskan siapa Pak Hoegeng dan kisah tentang mimpi Ibu Merry untuk bisa menginjakkan kaki di pulau yang selama ini hanya dikenalnya melalui gambar dan cerita-cerita orang. Pihak kedutaan Amerika mengatakan tidak berjanji dapat mengabulkan permintaan saya itu. Mereka menegaskan adanya peraturan keras dari pemerintah Amerika yang tidak pandang bulu. Saya katakan kepada mereka saya bisa memahami dan tidak akan memaksa. Saya hanya ingin menyenangkan hati seorang wanita luar biasa yang selama hidupnya banyak mengalami kepahitan hidup. Apa salahnya di ujung hidupnya, sekali ini, dia dapat mereguk kebahagiaan. Apalagi ada kemungkinan ini adalah “last wish” atau permintaan terakhirnya. Akhirnya, kisah tentang Pak Hoegeng, Hawaian Senior, dan Ibu Merry saya angkat di Kick Andy. Pada bagian akhir acara, kepada Ibu Merry saya tanyakan tentang apa keinginannya yang belum terwujud. Dengan suara pelan, sembari menghela nafasnya, Ibu Merry bercerita tentang kerinduannya untuk bisa ke Hawai. Kerinduan yang sudah dikuburnya. Dua kali visanya ditolak dan keuangan yang terbatas, membuatnya pasrah. Dia juga harus mengubur impiannya untuk bertemu dengan sahabatnya Mukiana, perempuan asal Hawai, yang sangat dirindukannya. Sudah tiga puluh tahun lamanya mereka tidak berjumpa. Mukiana pernah tinggal di Indonesia selama enam tahun dan bersama-sama menari dan bernyanyi di acara Hawaian Seniors. Di ujung acara Kick Andy saya menyambungkan hubungan telepon antara Keala Mohikana dan Ibu Merry. Tampak Ibu Merry terkejut mendapat sambungan langsung dengan sahabat yang dirindukannya itu. Ibu Merry lalu menanyakan kapan Keala Mohikana bisa ke Jakarta. Tapi, pada pertengahan pembicaraan, tiba-tiba Keana Mohikana muncul dari balik panggung. Ibu Merry tertegun seakan tak percaya. Sahabatnya itu kini berada tepat di depannya. Kedua wanita tua itu lalu saling berpelukan melepas rindu. Belum sempat Ibu Merry meredakan rasa harunya, tiba-tiba Aditya, putra Ibu Merry, mengeluarkan visa dari kantongnya. Tuhan maha besar. Kedutaan Amerika kali ini meloloskan Ibu Merry dan juga Aditya untuk masuk wilayah Amerika. Mereka berdua mendapat visa! Selesai sampai di situ? Belum. Kepada Ibu Mery, saya serahkan sebuah amplop. Isinya kemudian dibaca oleh Ibu Merry: tiket pulang pergi Jakarta-Hawai-Jakarta. Maka sempurnalah perjuangan saya, teman saya, dan Aditya untuk memberikan “hadiah” paling indah dalam hidup Ibu Merry, yakni kesempatan pergi ke Hawai. Sejumlah penonton di studio tak kuasa menahan haru. Mereka menitikan air mata. Apalagi saat Aditya menunjukkan visa dan kemudian Ibu Merry menerima tiket ke Hawai yang dipersembahkan Surya Paloh, pemilik Metro TV. Seusai rekaman Kick Andy, semalaman saya tidak bisa tidur. Hati rasanya bahagia sekali. Semua upaya dan jerih payah terbayar sudah. Kalau melihat ke belakang, rasanya semua itu tidak mungkin terjadi. Mulai dari upaya teman saya mendatangkan Mukiana ke Jakarta, usaha untuk mendapatkan visa yang sudah dua kali ditolak, sampai tiket ke Hawai pemberian Surya Paloh, semua berjalan tanpa hambatan. Tuhan maha besar. (Sebagian Dikutip dari Sumber: http://www.kickandy.com)
![]()
Formula Einstein E = mc2 dapat diterapkan pada prinsip ekonomi. Dengan sedikit adaptasi teori, kita ketahui, perubahan salah satu kekuatan/energi ekonomi ke bentuk lain dari kekuatan/energi ekonomi tidak dapat mengubah jumlah total ekonomi. Prinsip dasar ekonomi yang mengambil keuntungan/laba besar dari modal/saham kecil hanya dapat diterapkan pada waktu dan atau wilayah sangat terbatas.
Pada jurnal berjudul “The Great Depression. George Bush vs Einstein on economic policy“, dikatakan bahwa Albert Einstein adalah salah satu matematikawan terbesar abad sebelum ini. Jurnal tersebut menentang klaim yang dilakukan oleh Ronald Reagan atau George W. Bush perihal pertumbuhan ekonomi. Ayahnya, George Bush Senior, menyebut “teori ekonomi menetes turun” (trickle down economic theory) sebagai ‘ekonomi voodoo’ ketika ia menantang Reagan untuk nominasi partainya, tapi menjadi diam setelah terpilih menjadi Wakil Presiden. Menurut Einstein “teori ekonomi menetes turun” (trickle down economic theory) adalah kebijakan ekonomi yang tidak layak sama sekali, juga bukan cara untuk menciptakan pekerjaan. Ini hanya transfer atau pemindahan kekayaan, dengan konsekuensi bencana, termasuk pada akhirnya hilangnya manfaat dan keuntungan bagi banyak fihak. Reaganomics, seperti yang akhirnya disebut, membutuhkan waktu sekitar lima belas tahun untuk mulai menghancurkan perekonomian sehingga berdampak berdasarkan pengalaman kita sekarang.
“Depresi Besar (Great Depression)” adalah kejadian yang biasa dalam perekonomian Amerika tahun 1800-an, berulang secara berkala sepanjang abad, membawa kesedihan bagi bangsa di dunia lagi dan lagi. Depresi Besar yang paling terkenal, dimana orang biasanya merujuk ke saat menggunakan istilah, adalah depresi terkenal yang berlangsung sepanjang dekade tiga puluhan. Karena analisis ekonomi melibatkan matematika dan angka-angka, Albert Einstein menggunakan bakatnya untuk menganalisis penyebab “Depresi Besar” ini. Apa yang dia temukan adalah bahwa Depresi Besar disebabkan oleh apa yang disebut sebagai ‘pekerja yang dibayar murah serta tidak memberikan pasar yang menguntungkan’ (yang menyebabkan hilangnya keuntungan dan aset di zaman itu) serta “motif keuntungan, dalam hubungannya dengan kompetisi di antara kapitalis yang bertanggung jawab dalam akumulasi ketidakstabilan dan penggunaan modal yang mengarah ke depresi semakin parah”.
Apa yang dimaksud di sini adalah begitu banyak uang menumpuk di atas karena para kapitalis bersaing keras untuk siapa yang dapat menjadi terkaya yang akhirnya bagian bawah perekonomian jatuh dan ambruk, dimana pasar tidak lagi dapat didukung karena ketidakseimbangan dalam distribusi kekayaan. Hal ini menghasilkan kejenuhan barang di pasar yang tidak dapat dijual yang menghasilkan deflasi harga serta mengakibatkan hilangnya keuntungan selanjutnya pemutusan hubungan kerja (PHK) yang kemudian mengarah ke kerusakan lebih lanjut di pasar sebagai spiral ekonomi yang mengarah menjadi bencana. Depresi besar tidak disebabkan ketika gelembung pasar saham meledak, melainkan ledakan gelembung hanyalah reaksi terhadap keruntuhan di pasar (gejala dan bukan sebab). Depresi Besar disebabkan oleh transfer besar kekayaan pada sebuah minoritas kecil di puncak piramida, yang seperti Einstein mengatakan, penyebab ‘ketidakstabilan’ dalam ‘pemanfaatan modal’ yang kemudian menghasilkan ‘depresi semakin parah’ dengan keparahan depresi berkorelasi langsung dengan tingkat ketidaksetaraan pendapatan yang telah berkembang di masyarakat.

Business Intelligence (BI) merupakan suatu proses untuk melakukan ekstraksi data-data operasional perusahaan dan mengumpulkannya dalam sebuah “data warehouse”. Selanjutnya “data warehouse” diproses menggunakan berbagai analisis statistik [atau data mining] sehingga dapat diperoleh berbagai kecenderungan atau pola data. Hasil penyederhanaan data dan informasi tersebut disajikan kepada “end user” yang biasanya merupakan pengambil keputusan. Disini dapat diambil keputusan berdasarkan fakta-fakta aktual serta tidak hanya mengandalkan intuisi dan pengalaman kuantitatif belaka.
Business Intelligence (BI) merupakan aplikasi dan teknologi untuk mengumpulkan, menyimpan, menganalisis dan menyediakan akses ke data dan informasi untuk membantu penggunanya dalam mengambil keputusan bisnis dengan lebih baik.Aplikasi ini mencakup beberapa aktivitas sistempendukung keputusan, seperti: query, reporting, OnLine Analytical Processing (OLAP), “Statistical Analysis”, “Forecasting” dan “Data Mining”.
Business Intelligence (BI) akan berfungsi sebagai analis dan sekaligus memberikan rekomendasi pada pengguna terhadap tindakan yang sebaiknya diambil. BI berfungsi sebagai “Dashboard” dimana penggunanya akan cepat mengenali penyimpangan-penyimpangan pada perusahaan sekaligus dengan penyebabnya sebelum hal tersebut berkembang menjadi masalah yang serius.
Business Intelligence (BI) memberikan ukuran-ukuran yang dapat menentukan kinerja organisasi. Analogi dengan menggunakan “Dashboard” mobil:

Walaupun bukan ulat atau semut hitam, EsemKa sedang naik daun sekarang terutama setelah salah satu karyanya dipakai oleh Walikota Solo Joko Widodo. Semua orang terhenyak dengan hasil karya anak bangsa yang begitu mempesona. Mulai dari mobil SMK-2 Solo sampai dengan pesawat terbang Jabiru SMK-29 Jakarta, seolah memperlihatkan SMK sedang meninggalkan lawan-lawannya di arena “Formula-1” pendidikan. Belum lagi SMK-SMK lain dengan hasil karya yang membanggakan, mulai dari inovasi pertanian, otomotif, kimia sampai elektronika. Kelihatannya setelah dulu menjadi “anak tiri”, SMK bangkit menyeruak kekuatan segmen pendidikan yang patut diperhatikan.
Melalui Tag-line “SMK bisa”, perlahan-lahan program yang dikomandani oleh DR. Joko Sutrisno sebagai Direktur Pembinaan SMK KemDikBud telah memperlihatkan hasilnya. Hampir di semua daerah perkotaan dan pedesaan, kebanggaan menjadi siswa SMK begitu besar. Hal ini menjadikan animo semua pemangku kepentingan termasuk guru, siswa, wali dan dinas pendidikan serta kalangan lain bisa bersatu padu dalam pencapaian hasil pendidikan. Bahkan di beberapa daerah, animo masyarakat untuk memasukkan anaknya ke SMK dapat mengalahkan animo masuk SMU karena “Brand” yang lebih kuat melalui iklan TV, pencapaian siswa, kebutuhan dunia usaha dan lain-lain.
Hal ini tidak datang tiba-tiba, saya masih ingat dengan peran ayah sebagai pensiunan pengawas Dikmenjur (Pendidikan Menengah Kejuruan). Beliau pada kurun tujuh-puluhan sampai akhir sembilan-puluhan berusaha keras untuk juga membangun kompetensi dan strategi SMK-SMK di Jawa Barat. Dan sekarang, kelihatannnya program pendidikan SMK saat ini sudah “cukup membumi” sehingga bisa memberikan kepuasan pada kalangan ”Academic, Business & Goverment” (Akademis, Bisnis dan Pemerintah). Pada akhirnya ini memberikan “Above Average Return” (Tingkat Pengembalian Di Atas Rata-Rata) pada semua fihak yang terlibat karena mendahuluan filosofis “Benefit” (Manfaat) daripada “Profit” (Keuntungan) …..
Diharapkan filosofis yang sama dapat juga “merasuki” segmen dan tingkat pendidikan yang lain seperti PAUD, SD, SMP, SMU, Perguruna Tinggi serta pendidikan non-formal/informal….Semoga….

Kegiatan Pesantren IT yang telah dilaksanakan pada 23-24 Agustus 2011 lalu akan kembali diselenggarakan dengan tujuan untuk lebih memperdalam kemampuan para guru alumni kegiatan tersebut dalam penguasaan perencanaan pembelajaran kreatif.
Sebagai wahana persiapan menghadapi semester baru, kegiatan ini kembali akan diselenggarakan oleh komunitas #gurukreatif Pojok Pendidikan bekerjasama dengan ComLabs USDI ITB pada :
Hari/tanggal : Jumat – Sabtu/6 – 7 Januari 2012
Pukul : 09.00 s.d. 16.00
Tempat : Ruang Seminar & Ruang Pelatihan Multimedia ComLabs USDI ITB, Gedung ComLabs ITB, Jalan Ganesha No.10 Bandung 40132.
Acara diselenggarakan secara gratis bagi guru-guru alumni pesantren IT tahun lalu.
Agenda Acara :
Hari I
Hari II

Ada beberapa orang yang terkenal di “Socia Media” sekarang, mereka adalah Dahlan Iskan, Joko Widodo dan Marissa Haque. Mereka bertiga menjadi sorortan publik karena sepak terjangnya yang secara positif atau negatif menjadi ”Social Media Branding” ketiganya. Banyak sorotan dari pemirsa televisi dan media daring yang menanggapi semua ucapan dan perilaku mereka yang menjadi “selebritas” dalam bidang dan topik tertentu.
Pujian dan cacian menjadi makanan sehari-hari tokoh seperti mereka. Misalnya Dahlan Iskan yang punya hobi melakukan hal-hal yang “di luar kebiasaan” seorang menteri seperti naik KRL dan ojek, diberitakan menjadi begitu terkenal serta diharapkan menjadi salah “Kuda Troya” Calon Presiden 2014. Sedangkan Joko Widodo yang Walikota Solo, mendapat sambutan positif dan negatif di media daring (online) karena mulai hari ini menggunakan mobil dinas “Esemka”. Begitu pula Marissa Haque yang menjadi “Trending Topic” di Twitter karena menulis blog sebagai protes pada orang-orang yang meragukan gelar doktornya.
Menurut Techipedia, kebanyakan orang berkecimpung di dunia online adalah membangun “merek” atau persepsi orang. Tapi kadang-kadang orang yang sedang membangun persepsi lupa untuk membuat langkah strategis yang tepat. Kita telah melihat banyak “Social Media Branding” yang sukses meledak secara online karena sudah berpikir tentang bagaimana mereka ingin dipersepsikan atau telah perlahan-lahan tumbuh menjadi peran mereka saat ini, dengan berbagai eksperimen, keberuntungan dan kerja keras. Media sosial, di sisi lain, memungkinkan kita untuk berhubungan langsung dengan audiens yang ingin ditargetkan dan membangun hubungan dengan mereka.