Feeds:
Tulisan
Komentar

(In My Humble Opinion)……Pengalaman pribadi sebagai murid, guru dan orang tua , saya selalu melihat “azas keberlimpahan” (abundance principle) adalah sangat penting dalam pengelolaan sekolah. Setelah membandingkan beberapa sekolah (dari SD s/d PT), ternyata “things can be anything but is not everything” dan “human is more important than numbers” juga dikhidmati bahwa “schools is not an assembling plant”

Sebagai guru, diluar parameter ekonomi, saya berpandangan seorang murid melihat guru (dan juga sekolah) bukan dari apa yang dikatakan atau diberikannya, tapi apa yang dirasakannya….Mungkin pemeo Sunda “Basa mah teu meuli” sangat tepat dalam hubungan guru/sekolah dengan murid serta stakeholder lainnya.

“I have come to believe that a great teacher is a great artist and that they are as few as there are any other great artists. Teaching might even be the greatest of the arts since the medium is the human mind and spirit.” – John Steinbeck Tags:

Setelah munculnya film Laskar Pelangi, makin besar kesadaran kita akan pentingnya guru (baca: pendidik)…. Tidak hanya di Indonesia tapi di belahan dunia manapun karir ini menempati posisi yang terhormat dan sangat strategis……

Baru-baru ini muncul “The Last Lecture”, sebuah buku biografi dan film dokumenter yang menceritakan Randy Pausch seorang professor dari Carnegie Mellon University…. Buku ini menceritakan perjuangannya menghadapi kanker pankreas pada akhir hidupnya tanpa menghilangkan kecintaan, dukungan dan selera humornya pada keluarga, sahabat, teman dan koleganya.

Pada akhir kuliahnya yang historis (mirip pidato Steve Jobbs di Stanford) ia masih sempat menyampaikan kuliah dengan judul “Really Achieving Your Childhood Dreams”. Randy menceritakan apa saja mimpi-mimpi masa kecilnya, mulai dari mendapatkan boneka beruang paling besar di pasar malam, menjadi salah satu designer animasi walt disney (walt disney imagineering), merasakan berada di ruang hampa, menulis artikel untuk World Encyclopedia, bermain untuk NFL (National Football League), dan menjadi Captain Kirk dalam film Star Trek. Hebatnya, hampir semua mimpi masa kecil itu menjadi kenyataan dengan keunikan caranya masing-masing.

Bagi sebagian orang, mungkin mimpi-mimpi itu hanyalah mimpi “kecil”. Tapi kemudian justru mimpi-mimpi itulah yang mengubah kehidupan Randy, menjadikannya manusia yang berbeda. Bagaimana ia berusaha untuk membantu setiap orang yang dikenalnya (minimal adalah para mahasiswanya) untuk dapat merealisasikan mimpi-mimpi masa kecil mereka, serta bagaimana kita dapat memaknai hidup bila kita tahu kalau kita hanya punya sedikit kesempatan, dan kesempatan itu akan segera habis.

“If you lead your life the right way, the karma will take care of itself. The dreams will come to you.” Itulah salah satu pesan dari Randy, dan itulah keyakinan yang terus menuntun Randy hingga akhir hidupnya.

Kuliah terakhir Randy sangat fenomenal. Bukan karena yang menyampaikannya adalah seorang yang sedang sekarat akibat kanker, tapi karena apa yang disampaikannya benar-benar menginspirasi. Rekaman kuliah terakhir ini dengan cepat beredar di youtube , kemudian juga dibukukan. Dan telah menginspirasi banyak orang yang menonton ataupun membaca bukunya.

Randy sendiri merekam kuliah terakhirnya tersebut bukan untuk sebuah kenangan semata-mata. Tetapi untuk ketiga anaknya, Dylan (6 tahun), Logan (3 tahun) dan Chloe (18 bulan). Randy sangat tahu bahwa kelak, ketiga anak-anaknya mungkin tidak akan ingat dengan jelas seperti apa sosok ayahnya. Mereka hanya akan mengenal ayahnya melalui foto dan cerita. Yang diinginkan Randi adalah agar kelak anak-anaknya bukan hanya mengenangnya (melalui rekaman kuliah terakhir itu), tapi juga yakin bahwa ayah mereka selalu mencintai mereka. Melalui rekaman kuliah terakhir tersebut, Randy ingin mengajarkan pada anak-anaknya, “how to live this life through achieving your childhood dreams”.

Rekaman kuliah itu memang sengaja dibuat oleh Randy untuk ketiga anaknya. Ia sudah tidak punya cukup waktu untuk ikut mendampingi ketiga anaknya tumbuh besar. Pelajaran dalam kuliah terakhirnya adalah pelajaran tentang kehidupan yang ingin ia wariskan pada anak-anaknya. Warisan yang tidak akan habis, sebagai pengganti waktu yang tidak akan pernah ia dapatkan untuk menemani mereka tumbuh dewasa.

Randy memberikan kuliah terakhirnya pada 18 September, 2007. Dan Jumat, 25 July 2008 yang lalu, Prof. Randy Pausch, akhirnya dikalahan oleh penyakitnya. Tetapi, Randy telah meninggalkan warisan yang besar, bukan hanya untuk anak-anaknya tetapi juga untuk semua orang yang mengenalnya (meski hanya melalui buku dan rekaman kuliah terakhirnya), tentang bagaimana memaknai hidup dan kehidupan, bagaimana membuat mimpi menjadi nyata, dan pelajaran tentang harapan.

“Brickwalls are there for a reason. They give us a chance to show how badly we want something. Only those who want it so badly can scale that brickwall., …Experience is what you get when you didn’t get what you wanted” (Randy Pausch, 2007)

Note:
Dikutip dari Kick Andy dan beberapa sumber

Saat ini banyak orang tua,  saudara, teman dan handai taulan kita dari Indonesia sedang menjalankan ibadah haji…Mereka semua terpilih dari ratusan juta umat muslim negeri ini yang alhamdulillah telah dikarunia oleh Allah SWT dengan tiga hal yaitu :  Niat, Kuat dan Sempat. Sering kali 3 hal tersebut diungkapkan bapak pada saat beliau diminta untuk menyampaikan Tausiah Haji pada beberapa kesempatan mengutip ungkapan dari KH. Sulaeman Faruq.

Begitu pentingkah 3 hal tersebut diatas?  Coba kita analisis satu-persatu:

  1. Niat:
    • Hal ini mejadi “causa prima” dari segala amal yang dperbuat umat manusia…tanpanya suatu pekerjaan tidak akan punya “mind map” yang jelas.
    • Dalam buku  berjudul “Fiqih Niat”, Penulis: Dr Umar Sulaiman Al-Asyqar dan Penerjemah: Faisal Saleh, Lc diungkapkan bahwa : Nabi bersabda, ”Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang memperoleh apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena dunia, ia mendapatkannya, atau karena wanita, ia menikahinya. Hijrah itu sesuai yang dia inginkan.” Abu Dawud berkata, ”Hadis — innamal a’maalu binniyat — ini setengah dari Islam, karena agama itu terdiri dari aspek lahir, yaitu amal, dan aspek batin, yaitu niat.” Hadis di atas menunjukkan urgensi niat. Niat merupakan salah satu hal terpenting dalam kehidupan seorang Muslim, dan menentukan apakah amal kita akan diterima atau tidak. Para ulama meyakini bahwa amal batin lebih utama dari amal lahir. Dan niat orang-orang beriman lebih baik dari amalnya.Begitu pentingnya niat, tak heran kalau pembahasan niat merupakan bahasan pertama dan utama yang dipaparkan oleh para ulama, terutama dalam kajian fikih. Niat juga diibaratkan sebagai posisi akar dari suatu batang, cabang, dan dahan pohon. Maka, bagaimanakah kondisi suatu jasad jika dicabut ruh? Dan bagaimana juga kondisi suatu pohon jika dicabut akarnya?
  2. Kuat (Mampu):
    • Ibadah haji diwajibkan bagi mereka yang mampu pergi ke Tanah Suci untuk mengerjakannya. Mampu di sini maksudnya mampu biaya, mampu fisik dan mampu memahami tata cara melaksanakan haji dengan baik dan benar. Dengan demikian, diharapkan predikat haji mabrur bisa diraih. Dari tanya jawab Pesantren Virtual disebutkan bahwa Ayat 97 surah Ali Imran menjelaskan :”mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup melakukan perjalanan ke Baitullah” Syarat wajib haji adalah mampu “istitha’ah” (mampu ), baik secara financial, fisik maupun memenuhi keperluan perjalanan. Mampu secara finansial, artinya mampu membayar biaya perjalanan dan biaya keluarga yang ditinggalkan. Mampu secara fisik artinya tidak sakit parah dan mampu duduk di kendaraan untuk melewati perjalanan jauh.
      Kemampuan perjalanan artinya mampu untuk memenuhi persyaratan perjalanan haji, seperti keperluan transportasi dan imigrasi serta kondisi perjalanan yang aman. Mampu secara financial artinya memiliki biaya tersebut dari dirinya sendiri.
      Orang yang belum memiliki harta tersebut dari dirinya sendiri belum diwajibkan haji. Bahkan kalau ada orang yang memberinya uang agar berangkat haji dia tidak wajib menerimanya karena itu bukan kemampuan dari dirinya sendiri. Namun orang yang memaksakan dirinya agar bisa berangkat haji, padahal ia belum wajib dengan tanpa menimbulkan mudlarat atau kerugian kepada dirinya atau orang lain, sah hajinya dan mendapatkan pahala. Ini mencerminkan kemauannya yang keras dalam memenuhi perintah Allah. Seseorang yang bisa mendapatkan pinjaman untuk membayar biaya haji, termasuk orang yang mampu, namun kemampuannya tidak sempurna. Ia belum wajib haji namun bila ia berangkat haji dengan uang pinjaman tersebut, sah hajinya dan menggugurkan kewajibannya.
    • Dalam keadaan krisis ekonomi seperti sekarang, sepertinya Ibadah Haji menjadi prioritas nomor sekian dari banyak orang. Pengalaman pribadi, ukuran mampu ini menjadi “subyektif” karena pada saat menunaikan haji tahun 1422 H (2001 M)  saya bertemu dengan  seorang bapak dari Indramayu pada ssat melaksanakan Ibadah Jumrah di Mina….cobak simak ceritanya (summarize)….Saya menunaikan ibadah haji karena merasa inilah adalah salah satu tujuan utama hidup….Biaya haji saya kumpulkan dari menjual kebun mangga di Indramayu karena anak-anak sudah berkeluarga…..Dia menjawab dan yakin bahwa setelah kembali dari Ibadah Haji akan menjadi buruh tani dan mengabdikan diri hanya beribadah pada Allah SWT….Kelihatannya “exxagerated”, namun bercermin dari hal yang agak ekstrim ini mungkin kita bisa bercermin dan menghitung “Cash Flow dan Balance Sheet” apakah sudah sampai Nisab untuk melaksanakan Ibadah Haji.
  3. Sempat:
    • Saat ini komponen waktu menjadi penting bagi kita…Semua prioritas didasarkan pada variabel ini. Aktifitas kita dibidang ibadah, pekerjaan, keluarga, pendidikan, kehidupan bermasyarakat dan lain-lain hanya mempunyai kurun waktu 24 jam sehari yang tidak bisa ditambah atau dikurangi……So…Kita hanya bisa melakukan Ibadah Haji bilamana kita “menyempatkan diri” dan punya komitmen untuk melaksanakan ibadah ini…Prioritas perlu dipikirkan sejak awal agar kita Tawaddu dan siap melaksanakan ibadah besar ini….
    • Menurut KH Quraish Shihab, memahami makna ibadah haji membutuhkan pemahaman secara khusus sejarah Nabi Ibrahim dan ajarannya, karena praktek-praktek ritual ibadah ini dikaitkan dengan pengalaman-pengalaman yang dialami Nabi Ibrahim as. bersama keluarga beliau. Ibrahim as. dikenal sebagai “Bapak para Nabi”, juga “Bapak monotheisme,” serta “proklamator keadilan Ilahi” kepada beliaulah merujuk agama-agama samawi terbesar selama ini. Demikian sebagian kecil dari keistimewaan Nabi Ibrahim, sehingga wajar jika beliau dijadikan teladan seluruh manusia,seperti ditegaskan al-Qur’an surah al-Baqarah 2:127. Keteladanan tersebut antara lain diwujudkan dalam bentuk ibadah haji dengan berkunjung ke Makkah, karena beliaulah bersama putranya Ismail yang membangun (kembali) fondasi-fondasi Ka’bah (QS. al-Baqarah 2:127), dan beliau pulalah yang diperintahkan untuk mengumandangkan syari’at haji(QS. al-Haj 22:27). Keteladanan yang diwujudkan dalam bentukibadah tersebut dan yang praktek-praktek ritualnya berkaitan dengan peristiwa yang beliau dan keluarga alami, padahakikataya merupakan penegasan kembali dari setiap jamaahhaji, tentang keterikatannya dengan prinsip-prinsip keyakinanyang dianut Ibrahim, yang intinya adalah,

      • Pengakuan Keesaan Tuhan, serta penolakan terhadap segala macam dan bentuk kemusyrikan baik berupa patung-patung, bintang, bulan dan matahari bahkan segala sesuatu selain dari Allah swt.
      • Keyakinan tentang adanya neraca keadilan Tuhan dalam kehidupan ini, yang puncaknya akan diperoleh setiap makhluk pada hari kebangkitan kelak.
      • Keyakinan tentang kemanusiaan yang bersifat universal, tiada perbedaan dalam kemanusiaan seseorang dengan lainnya, betapa pun terdapat perbedaan antar mereka dalam hal-hal lainnya.

Pada beberapa kesempatan lain, bapak sering menegaskan juga perlunya menyatukan 3 (tiga) hal diatas yaitu Niat, Kuat dan Sempat agar kita dapat melaksanakan Ibadah Haji……Tanpa satu komponen itu maka Ibadah Haji kita akan tertunda dan untuk menyatukannnya kembali butuh waktu dan tekad yang kuat……

Listrik….Oh Listrik


Listrik memang lagi bermain “cantik”
Bagai putri yang semakin dilirik…..
Namun ia juga sering dibidik
Sebagai alat untuk melanggengkan politik……
Lihat juga:


Artikel “Penjara Banceuy, Riwayatmu Kini” dimuat di Detikcom 19 Februari 2008.
Permuatan itu bermula dari keinginan untuk menceritakan pengalaman pribadi atas kondisi penjara tersebut yang terbengkalai.
Ditengah maraknya wisata yang sedang digalakkan, alangkah baiknya kita mengajak putra putri kita mengunjungi tempat-tempat bersejarah mereka ingat akan jati dirinya.


 


Sejak SMP saya senang lagu-lagu dari Iwan Abdulrachman (a.k.a Abah Iwan), termasuk lagu “Seribu Mil Lebih Sedepa“. Syairnya yang lembut, penuh rasa cinta dan inspirasi kehidupan ini memang sarat dengan pesan moral yang tinggi.
Coba kita simak syairnya:

SERIBU MIL LEBIH SEDEPA

Gubuk sunyi di pinggir danau

Diam-diam tersenyum dipeluk mentari senja

Yang juga nakal meraba-raba ujung bunga rerumputan

Lagu alam memang sunyi, sayang

Apalagi sore ini, sore ini sore Sabtu. Sore biasa kita berdua

Membelai mentari senja di ujung jalan Bandung utara

Mentarinya yang ini juga, sayang

Cuma jarak yang memisah kita

Seribu mil lebih sedepa

Seribu mil pun lebih sedepa

Lagu alam memang sunyi.. mmm..

Lagi pula bukan puisi

Cuma bahana yang diam-diam

Lalu bangkit dari dalam hati

Lagu alam memang sunyi, sayang

Kini jarak yang memisah kita

Seribu mil lebih sedepa

Seribu mil pun lebih sedepa

Gubuk sunyi di pinggir danau.. mmm..


Sepertinya sekarang sangat jarang pemusik balad yang punya penghayatan tinggi terhadap karyanya seperti Abah Iwan……Kecintaannya pada manusia, alam, tanah air dan budayanya (termasuk Budaya Sunda) sungguh sangat menyentuh, terbukti dari pujian dan penghormatan media….salah satunya saya kutip dari “Pikiran Rakyat” – 10 Desember 2006:
Iwan, Alam, dan Cianjuran
Oleh SONI FARID MAULANA Sore tadi sudut perlahan
Dan bayang-bayang senja merayap satu-satu
Menjemput bintang-bintang
Yang diam-diam hadir
Kuterpana tiba-tiba bagai dalam mimpi
Langit luas malam ini penuh lagu
ENAM larik puisi di atas dipetik dari lirik lagu “Nyanyian Langit,” yang ditulis sekaligus dinyanyikan oleh musikus Iwan Abdulrachman. Penggalan enam lirik lagu tersebut tidak hanya menggambarkan tentang terjadinya pergeseran waktu yang demikian cepat dalam kehidupan manusia di muka bumi, akan tetapi mengungkapkan pula suasana malam yang datang menjelang, yang dilimpahi dengan nyanyian serangga.

Tentu saja nyanyian yang hadir pada saat itu adalah bunyi-bunyian serangga dan desir angin di daun-daun. Hanya masalahnya kemudian, di tempat macam apakah suasana semacam itu bisa hadir kalau bukan di pinggir hutan? Apa sebab? Kita yang kini hidup di kota besar, yang tinggal di perumahan, yang halaman rumahnya sempit dan hanya ditumbuhi tanaman hias, rasanya sangat tidak mungkin bisa mendengar suara alam.

Berkait dengan hal itu, mendengarkan lagu demi lagu yang dikreasi oleh Iwan Abdulrachman baik yang digelar dalam berbagai pertunjukan maupun lewat kaset dan CD, adalah mendengar renungan seorang penghayat lingkungan hidup, yang dalam kehidupan sehari-hari terlibat total di situ. Betapa, lelaki kelahiran Sumedang, 3 September 1947 itu, memang dikenal sebagai aktivis lingkungan hidup dan pendaki gunung. Ia aktif di Wanadri sejak tahun 1964. Pengalaman semacam itulah yang menyebabkan dirinya kian dekat dengan alam.

**

SEBUAH lirik yang baik yang ditulis oleh seorang penyair, memang lahir dari pengalaman. Karena lahir dari pengalaman maka terasa geregetnya. Iwan adalah penyair dalam pandangan saya, yang lirik-liriknya ditulis dengan kalimat yang sederhana, namun kaya makna. Di dalam liriknya yang sederhana itu memang sangat jarang kita temukan metafora, namun apa yang ingin diungkapnya cukup jelas. Sering menyeret apresiator lirik dan lagunya ke dalam suasana batin yang hening, seperti kita baca dalam penggalan lirik lagu di bawah ini, yang dipetik dari lagu “Seribu Mil Lebih Sedepa” yang berbunyi: Gubuk sunyi di pinggir danau/ Diam-diam tersenyum dipeluk mentari senja/ Yang juga nakal meraba-raba/ Ujung bunga rerumputan/ Lagu alam memang sunyi, sayang// atau dalam lirik lainnya pada lagu “Melati dari Jayagiri” yang berbunyi: Melati dari Jayagiri/ Kuterawang keindahan kenangan/ Hari-hari lalu di mataku/ Tatapan yang lembut dan penuh kasih//.

Gambaran-gambaran tentang alam dalam lirik lagunya semacam itu sering kali diposisikan sebagai pintu masuk untuk mengungkap persoalan-persoalan kalbunya, yang ada kalanya dilanda kesepian, kesunyian, serta kerinduan yang menggelegak pada kekasihnya yang jauh, yang entah di mana pada saat itu. Lagu “Melati dari Jayagiri” dan “Seribu Mil Lebih Sedepa” mengungkap suasana kalbu semacam itu.

Dalam pandangan saya, pola lirik dan pola lagu semacam itu mengingatkan kita pada tembang Sunda cianjuran, entah dalam wanda papantunan maupun dalam wanda jejemplangan dan panambih. Dan apa yang baru saja digelarnya dalam Festival Sunda Ambu II-2006 yang baru saja berlangsung di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Jln. Buahbatu 212 Bandung itu, mengambil pola semacam itu. ***

Penulis, wartawan “PR,” penyair.


 

Top Badak….Top Maung

Sok inget baheula mun ngadengekeun Kang Ibing ngocoblak di Radio Mara, mun muji sok teu lepas ngomong “Top Badak….Top Maung”. Kuring teu ngarti naon maksudna….Anu pasti ieu teu lepas tina kabiasaanana anu sok resep heureuy.

Meureun mun urang geus top (baca: terkenal) bakal moal lepas tina sifat Maung atawa Badak? Atawa boga sagala kasieun ku rupa2 jalma anu boga sifat siga Maung/Badak? Kadituna bisa jadi…..meureun…urang bakal rubah rupa jadi Maung/Badak….Hiy seyeeemmm…..

Kuring neangan rambat lancah….eh salah tumbu rambat keur “Top Badak….Top Maung”, ngan kapanggih ieu wungkul…….

 

Apa yang kita cari dari suatu pekerjaan?
Pertanyaan strategis ini saya tanyakan sebagai pembuka artikel ini sebagai pancingan atau pencerahan bagi kita yang pernah, sedang dan akan bekerja…….Hal ini saya bahas sebagai renungan setelah pertama kali bekerja di salah satu penerbangan nasional tahun 1991, dimana gaji pertama saya saat itu hampir 70% habis untuk biaya hidup di Jakarta sedang istri tinggal di Bandung. Namun ada suatu kebanggaan karena saat itu dapat “mengalahkan saingan” dari beberapa PTN yang terkenal dan bisa keliling Indonesia secara gratis….. :-) . Saat ini setelah mengarungi berbagai ombak kehidupan, ingin rasanya berbagi suatu perspektif tentang makna suatu pekerjaan……


Menurut saya, ada beberapa komponen yang perlu kita perhatikan sebelum masuk kerja sebagai berikut:

a. Kesempatan Belajar:
Kelihatannya naif, tapi terasa sekali bahwa setelah lulus ada kekosongan atau “gap” antara dunia kerja dengan pendidikan. Kita ternyata harus berhubungan bukan hanya sekedar dengan Rangkaian Listrik, Elektronika, atau Propagasi Antena. Namun juga harus bisa bekerja secara tim, berjiwa proaktif, berbicara atau bekerja sama dengan orang asing, menyusun jadwal atau laporan dan lain-lain. Hal ini dapat diperoleh dari institusi atau perusahaan yang mapan dan “well organized” atau juga sedang berkembang namun memberi kesempatan untuk pengembangan diri pegawainya. Itulah mengapa saya niatkan pertama kali lulus untuk bekerja di tempat seperti ini agar memberi nilai tambah…..

b. Lokasi yang tepat:
Kadang kita lupa bahwa tempat kita bekerja selama minimal 8 jam sehari (baca: 33,3% dari hidup kita)memerlukan lingkungan yang tepat. Mulai berangkat sampai pulang kerja harus kita perhatikan semua biaya (termasuk kerugian) dan penghasilan/keuntungan yang kita peroleh. Jangan lupa perhatikan juga “emotional atau social cost” yang kita tanggung dari pengambilan keputusan tsb. Sebagai contoh saya pernah memutuskan dan memilih bekerja di Bandung walau gajinya lebih kecil dengan alasan keluarga serta ingin memperoleh kesempatan pengembangan diri…..

c. Nama besar:
Kadang kita perlu suatu “papan loncat” (baca: spring board) agar kita tercatat (terutama di CV)pernah bekerja atau terlibat dengan institusi atau perusahaan besar. Bisa juga itu berupa kerja sama dengan tokoh besar yang bisa merekomendasikan kita agar dapat pekerjaan yang lebih baik.

d. Gaji besar:
Bagi saya hal ini relatif, karena setelah bekerja selama ~18 tahun (di beberapa perusahaan yang berbeda), dirasakan bahwa kebahagiaan pada saat pertama kali bekerja sampai sekarang relatif hampir sama. Karena hal itu sesuai dengan rumus “High Risk High Gain” karena perusahaan yang kita tempati bukan milik kakek atau nenek kita. Kecuali kalau perusahaan itu milik pribadi, maka kita bisa memperlakukan institusi atau perusahaan sesuai keinginan kita.

e. Identifikasi Diri:
Bagi laki-laki (terutama yang sudah berkeluarga) bekerja bukan hanya urusan mencari uang namun merupakan identifikasi diri. Ada hal-hal di luar material yang membuat dia bahagia dan berharga dihadapan komunitasnya agar tetap eksis. Pekerjaan (baca: kegiatan) apapun yang kita pilih asal memenuhi azas ini akan membuat kita bahagia dan berharga. Sebagai contoh, saat ini saya punya impian kembali sebagai guru (juga dosen) karena merasa karir ini (termasuk jadi orangtua) tidak pernah berakhir kecuali maut memisahkan kita.

Sekian…….

 

Mendapat kiriman dari Milis, semoga bermanfaat dan menjadi pencerahan semangat kita:“Wahai manusia, siapakah makhluk Allah yang imannya paling menakjubkan (man a’jabul khalqi imanan)?” Demikian pertanyaan Nabi Muhammad kepada sahabatnya di suatu pagi.

Para sahabat langsung menjawab, “Malaikat!”. Nabi menukas, “Bagaimana para malaikat tidak beriman sedangkan mereka pelaksana perintah Allah?”

Sahabat menjawab lagi, “kalau begitu, para Nabi-lah yang imannya paling menakjubkan! ” “Bagaimana para Nabi tidak beriman, padahal wahyu turun kepada mereka,” sahut Nabi.

Untuk ketiga kalinya, sahabat mencoba memberikan jawaban, “kalau begitu, sahabat-sahabatmu ya Rasul.” Nabi pun menolak jawaban itu dengan berkata, “Bagaimana sahabat-sahabatku tidak beriman, sedangkan mereka menyaksikan apa yang mereka saksikan.”

Rasul yang mulia meneruskan kalimatnya, “Orang yang imannya paling menakjubkan adalah kaum yang datang sesudah kalian. Mereka beriman kepadaku, walaupun mereka tidak melihatku. Mereka benarkan aku tanpa pernah melihatku. Mereka temukan tulisan dan beriman kepadaku. Mereka amalkan apa yang ada dalam tulisan itu. Mereka bela aku seperti kalian membela aku. Alangkah inginnya aku berjumpa dengan ikhwanku itu!”

Kita bukanlah sahabat Nabi yang menyaksikan secara langsung betapa mulianya akhlak junjungan kita itu;
kita juga bukan malaikat yang tidak memiliki hawa nafsu;
kita juga bukan waliyullah yang telah merasakan manisnya kasih sayang Allah.Kita adalah manusia biasa yang penuh dengan kelemahan.

Dalam kelemahan itulah kita masih beriman kepada Allah. Dalam ketidakhebatan kita itulah kita selalu berusaha mendekati Allah. Di tengah kesibukan dan beban ekonomi yang semakin meningkat, kita tetap keluarkan zakat dan sedekah. Tak sedikitpun kita akan gadaikan iman kita.

Di tengah dunia yang semakin kompetitif, kita masih sempatkan untuk shalat. Di tengah godaan duniawi yang luar biasa, kita tahan nafsu kita di bulan Ramadhan. Di tengah kumpulan manusia yang putus asa dengan krisis moneter ini, kita masih bisa mensyukuri sejumput ni’mat yang diberikan Allah.

Nabi Muhammad menghibur kita, “Berbahagialah orang yang melihatku dan beriman kepadaku,” Nabi ucapkan kalimat ini satu kali.

“Berbahagialah orang yang beriman kepadaku padahal tidak pernah melihatku.” Nabi ucapkan kalimat terakhir ini tujuh kali.

 

Membaca, melihat dan mendengar peristiwa tewasnya 10 orang dalam pertunjukan band di Bandung pada tanggal 09 Februari 2008, bisa dianggap biasa atau luar biasa. Biasa karena kejadian tersebut telah terjadi berkali-kali dan sepertinya tidak meninggal “lesson learned” (baca: hikmah atau pelajaran) bagi semua fihak terutama kaum muda dan penyelenggara pertunjukan. Tidak biasa karena petaka tersebut mengakibatkan korban jiwa yang tidak sedikit dan menorehkan bagaimana peristiwa itu bisa “sering” terjadi.Saya coba mengerti kebutuhan kaum muda terhadap hiburan, perlunya sebuah band untuk manggung sebagai pembuktian eksistensinya dan manfaat dari penyelenggara pertunjukan seperti itu sebagai bagian dari hak asasi. Namun semua itu tidak membuat suatu azas baru yang menghalalkan segala cara seperti pemeo “Muda foya-foya, Tua kaya raya dan mati masuk syurga”. Tapi mungkin saat ini skala prioritas telah berubah dan kita lebih mendahulukan “Distorsi Lebih Besar Dari Informasi”, sehingga aspek-aspek kehidupan lebih diukur dari hal-hal yang tersurat daripada yang tersirat. Hal ini menjadi salah kaprah sehingga jauh dari arti sebuah kebanggaan seperti disindir oleh kartun berikut:




Hai Kaum Muda……Hidupmu Sangat Berharga. Jangan biarkan kenikmatan “Fun, Food and Fashion (F3)” penuh racun itu menghancurkanmu…….

 

Tulisan Sebelumnya »