Neuteuli Dan Arogansi, Bukan Solusi Namun Distorsi

Saat ini bangsa kita dalam keadaan bermutasi…….. Semua permasalahan dicoba diselesaikan dengan diplomasi yang seringkali nafsi-nafsi…….Masalah BBM, UN, Kurikulum, Impor Daging, Waduk Pluit bahkan Eyang Subur………

Banyak orang menanggap kemarahan bisa menyelesaikan masalah……Kemudian membahas kesalahan sampai berlarut-larut (bahasa sunda : Neuteuli). Apa tidak melelahkan membuang energi dengan membuat jiwa menjadi tidak tenang, tekanan darah meninggi, otot tegang, kening berkerut, alis bertaut….dan yang terpenting, apakah kemarahan menyelesaikan masalah?

Karena arogansi seringpula suatu masalah melenceng keluar jalur….Walau teknologi dan metodologi sudah canggih (can kapanggih), seperti pesawat Lion Air Boeing 737-800NG yang gagal mendarat Bandara Bali…….Semua berteriak ingin berpatispasi, namun akhirnya menimbulkan distorsi daripada didapatnya informasi…….

Apakah kita harus menyelesaikan masalah setelah mendapat azab Illahi? Contohnya setelah Tsunami, perdamaian menjadi hakiki serta orang  mengerti bahwa tidak ada yang mustahil untuk suatu solusi….Audzubillahi Min Dzalik……………..

Ditulis pada Canda, Filosofi, Pemikiran, Pribadi | Di-tag , , , , , | Tinggalkan Komentar

Kehidupan Manusia Dan Arena Bermain

Kehidupan manusia sering seperti masuk arena bermain, kadang kita harus beli karcis terusan dan antri panjang agar bisa naik wahana yang diinginkan.

Ditulis pada Filosofi, Pemikiran, Pribadi | Di-tag , , , | Tinggalkan Komentar

President Fidel Ramos: “This is the challenge to our leadership today to work together for the common good and the national welfare”

Presiden Fidel Ramos received Token as inspiring Keynote Speaker at the 2012 International Conference on Business, Entrepreneurship and Management which I attended and held on January 25-26, 2012 in Manila, Philippines.

Fidel “Eddie” Valdez Ramos, GCMG (born March 18, 1928), popularly known as FVR, was the 12th President of the Philippines from 1992 to 1998. During his six years in office, Ramos was widely credited and admired by many for revitalizing and renewing international confidence in the Philippine economy.

Prior to his election as president, Ramos served in the Cabinet of President Corazon Aquino first as chief-of-staff of the Armed Forces of the Philippines (AFP), chief of Integrated National Police, and later on, as Secretary of National Defense from 1986 to 1991.

During the historic 1986 EDSA People Power Revolution, Ramos upon the invitation of then Defense Minister Juan Ponce Enrile, was hailed as a hero even though he was not part of the plan by many Filipinos for his decision to breakaway from the administration of the late strongman Ferdinand Marcos and pledge allegiance and loyalty to the newly established government of President Aquino.

Under Ramos, the Philippines experienced a period of political stability and rapid economic growth and expansion, as a result of his policies and programs designed to foster national reconciliation and unity. Ramos was able to secure major peace agreements with Muslim separatists, communist insurgents and military rebels, which renewed investor confidence in the Philippine economy. Ramos also aggressively pushed for the deregulation of the nation’s major industries and the privatization of bad government assets. As a result of his hands-on approach to the economy, the Philippines was dubbed by various internationally as Asia’s Next Economic Tiger.

However, the momentum in the economic gains made under his administration was briefly interrupted during the onset of the 1997 Asian Financial Crisis. Nevertheless, during the last year of the term, the economy managed to make a rebound since it was not severely hit by the crisis as compared to other Asian economies. He also oversaw the Philippine Centennial Independence celebrations in 1998.

Video | Posted on by | Di-tag , , , , | 2 Komentar

“You have to perform at a consistently higher level than others. That’s the mark of a true professional.” ~ Joe Paterno

Video | Posted on by | Di-tag , , , , | Tinggalkan Komentar

Telepon Seluler dan Budaya Terbang: Bukan Hanya Masalah Uang, Namun Juga Pikiran Yang Timpang

Dalam dunia penerbangan, khususnya angkutan udara  menghadapi dua hal yang harus sama-sama dipenuhi. Pertama dari aspek kinerja keselamatan yang harus menjadi perhatian semua pihak terkait, tidak saja internal perusahaan penerbangan, tapi juga dukungan total dari pengelola bandara dan pemakai jasa penerbangan serta pemakngku kepentingan lain yang terkait. Kedua kinerja produksi yang tercermin dari kapasitas tersedia, jadwal penerbangan, ruang kabin pesawat yang ergonomis, pelayanan penerbangan yang baik, harga yang di tawarkan sistem dan prosedur pembayaran, system reservasi dan ticketing ,dan lain-lain. Dalam konteks ini Airlines harus mampu membuat keseimbangan antara kinerja keselaamtan dengan kinerja produksi atau pendapatan supaya kelangsungan hidup perusahaan tetap terjamin.

Keselamatan merupakan prioritas utama dalam dunia penerbangan, tidak ada kompromi dan toleransi. Pemerintah berkomitmen bahwa “Safety is Number One” sesuai dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1992.

Penyelenggaraan transportasi udara tidak dapat dilepaskan dari pertumbuhan ekonomi masyarakat pengguna jasa transportasi udara yang dilayani dan juga kecenderungan perkembangan ekonomi global. Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang semakin membaik, peran Pemerintah yang semula sebagai penyedia jasa dan pelaku kegiatan ekonomi, akan berubah peran menjadi sebagai regulator.

Namun saat ini, ada kecenderungan masyarakat dengan “Kesenjangan Budaya Terbang” yang semakin mudah dilakukan banyak orang.  Contohnya, Peristiwa pendaratan Lion Air di perairan Bali belum diketahui penyebabnya. Dalam kondisi darurat semacam itu, penumpang harus mengikuti arahan awak kabin. Karena, keselamatan penerbangan tidak terlepas dari sikap penumpangnya.

Ada banyak arahan yang harus Anda perhatikan dari awak kabin saat traveling dengan pesawat. Tentu saja, arahan tersebut bertujuan untuk memberikan kemanan dan kenyamanan selama penerbangan. Satu arahan yang sering ditekankan dari awak kabin saat hendak terbang adalah, jangan menyalakan ponsel!

Ya, awak kabin akan mengingatkan Anda untuk tidak menyalakan ponsel saat pesawat hendak lepas landas dan mendarat. Awak kabin pun selalu mengingatkan, sinyal ponsel dapat merusak sinyal komunikasi antara pilot dan petugas bandara

“Orang yang ngotot untuk hidupin HP sebelum pesawat mendarat, itu sikap yang konyol!” tegas pengamat penerbangan Alvin Lie, kepada detikTravel, Senin (15/4/2013).

Mungkin sekedar sharing saja buat kita semua yang memiliki dan menggunakan ponsel/telpon genggam atau apapun istilahnya. Ternyata menurut sumber informasi yang didapat dari ASRS (Aviation Safety Reporting System) bahwa ponsel mempunyai kontributor yang besar terhadap keselamatan penerbangan. Sudah banyak kasus kecelakaan pesawat terbang yang terjadi akibatkan oleh ponsel. Mungkin informasi dibawah ini dapat bermanfaat untuk kita semua, terlebih yang sering menggunakan pesawat terbang.

Mengapa ponsel sebaiknya tidak dinyalakan saat pesawat hendak mendarat atau pun lepas landas?

“Begini, coba taruh HP di dekat TV atau radio. Kalau ada SMS masuk, pasti ada suara ‘tetet..tetet..tetet’. Sinyalnya terganggu,” kata alvin.

Nah, rupanya hal seperti itu juga akan merusak komunikasi antara pilot dan menara lalu lintas udara yang disebut ATC. “Bayangkan kalau ada banyak HP di dalam pesawat, tak cuma satu. Sinyal juga akan menganggu auto pilot dan alat bantu navigasi,” papar Alvin.

Ketika pesawat hendak terbang, pilot akan mendapat arahan dari menara lalu lintas untuk terbang. Pilot akan tahu harus terbang di ketinggian berapa dan lewat mana. Adanya sinyal ponsel saat itu, dipastikan akan menganggu komunikasi pilot.

Mengapa ponsel sebaiknya tidak dinyalakan saat pesawat hendak mendarat atau pun lepas landas?

“Begini, coba taruh HP di dekat TV atau radio. Kalau ada SMS masuk, pasti ada suara ‘tetet..tetet..tetet’. Sinyalnya terganggu,” kata alvin.

Nah, rupanya hal seperti itu juga akan merusak komunikasi antara pilot dan menara lalu lintas udara yang disebut ATC. “Bayangkan kalau ada banyak HP di dalam pesawat, tak cuma satu. Sinyal juga akan menganggu auto pilot dan alat bantu navigasi,” papar Alvin.

Ketika pesawat hendak terbang, pilot akan mendapat arahan dari menara lalu lintas untuk terbang. Pilot akan tahu harus terbang di ketinggian berapa dan lewat mana. Adanya sinyal ponsel saat itu, dipastikan akan menganggu komunikasi pilot.

Oleh sebab itu, jangan pernah nyalakan ponsel Anda saat berada di dalam pesawat yang hendak terbang atau mendarat. “Kalau mau menyalakan HP, baiknya saat keluar dari landasan. Kalau masuk lapangan parkir juga silakan, karena navigasi sudah tidak menggunakan auto pilot,” kata Alvin.

Sekiranya bila kita naik pesawat, bersabarlah sebentar. Semua orang tahu kita memiliki ponsel. Semua orang tahu kita sedang bergegas. Semua orang tahu kita orang penting. Tetapi, demi keselamatan sesama, dan demi sopan santun menghargai sesama, janganlah mengaktifkan ponsel selama di dalam pesawat terbang.

Ditulis pada Kebijakan, Liputan, Pemikiran, Pribadi, Telematika | Di-tag , , , , , , , , | Tinggalkan Komentar

Nostalgia: Kondisi Jalan Lingkar Nagreg 01Sep10

REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG- Pada saat arus mudik akan meningkat, truk barang akan dilarang melalui jalur lingkar Nagreg. Hal ini berdasarkan uji coba yang dilakukan pada tiga hari terakhir dimana kendaraan berat tidak dapat melalui tanjakan di sekitar Jembatan Citiis, salah satu ruas jalur lingkar Nagreg.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Barat, Dicky Saromi, menyatakan dalam pengoperasian jalur lingkar Nagreg sepanjang 5,2 kilometer tersebut, akan dilarang untuk dilalui kendaraan berat. Pasalnya, hingga uji coba yang dilakukan pada Jumat (3/9) sekitar pukul 11.00 WIB, kendaraan berat tetap tidak dapat melalui tanjakan di sekitar Jembatan Citiis.

“Padahal kemiringannya sudah diminimalisasi menjadi 14 persen. Setelah Lebaran akan dipapas lagi kemiringannya menjadi 10 persen,” ungkap Dicky Jumat (3/9) siang.

Uji coba itu pun hanya berlangsung singkat, hanya satu jam. Karena banyaknya kendaraan berat yang tidak dapat melalui tanjakan di Jembatan Citiis, pihak Dishub dan Polda Jabar pun terpaksa menutup kembali jalur yang menghubungkan Bandung dengan Garut dan Tasikmalaya itu. “Antisipasinya, angkutan berat akan dialihkan kembali ke jalur Nagreg yang lama. Sehingga jalur lama tetap dioperasikan khusus untuk angkutan berat,” tuturnya.

Ia menambahkan, sebenarnya untuk jenis kendaraan bukan berat, sudah dapat melalui jalur lingkar Nagreg. Namun wewenang untuk dioperasikan atau tidaknya jalur lingkar Nagreg, dipegang oleh Kapolda Jabar. “Kata Kapolda tadi, pengoperasiannya situasional saja. Jika arus kendaraan meningkat, jalur lingkar Nagreg akan dibuka untuk umum,” imbuhnya.

Kapolda Jabar, Irjen Pol Sutarman, menyatakan pengoperasian jalur lingkar Nagreg akan disesuaikan dengan kebutuhan. Namun ia menjanjikan, mulai H-4 jalur lingkar Nagreg akan segera dibuka untuk umum.

Ia juga mengimbau kepada para pemudik untuk berhati-hati pada tiga titik rawan longsor di sepanjang jalur lingkar Nagreg. Menurutnya, meski peluang untuk terjadinya longsor kecil, namun harus tetap diwaspadai.

“Titik-titik rawan longsor tersebut berada di ruas jalan yang membelah bukit dan terdapat jurang sedalam 30 meter di sisinya. Maka dari itu, kami sangat selektif untuk jenis angkutan yang dapat melalui jalur lingkar Nagreg,” tegasnya.

Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, menyatakan optimistis jalur lingkar Nagreg aman dari longsor. Pasalnya, tanah di sekitar jalur lingkar Nagreg merupakan jenis tanah yang keras bukan tanah gembur yang dapat terurai oleh air.

Selain itu, jalur tersebut juga sudah diberi penguat dengan bronjong-bronjong kedap air, sehingga tidak dapat mengikis tanah. “Jalur lingkar Nagreg sudah aman digunakan untuk umum meski penyelesaiannya belum 100 persen,” kelitnya.

Ditulis pada Bandung, Pribadi, Tokoh, Wisata | Di-tag , , , | Tinggalkan Komentar

Engineers … are not superhuman

Engineers … are not superhuman. They make mistakes in their assumptions, in their calculations, in their conclusions. That they make mistakes is forgivable; that they catch them is imperative. Thus it is the essence of modern engineering not only to be able to check one’s own work but also to have one’s work checked and to be able to check the work of others.
Henry Petroski
To Engineer Is Human. Engineers Creed

Kutipan | Posted on by | Di-tag , , , , , , | Tinggalkan Komentar