Restropeksi: From Zero To Hero (And Back Again To Zero)

 

Sering kita lihat tayangan (terutama di TV) dan liputan (media cetak dan elektronik) yang menceritakan sepak terjang seseorang dari nol kemudian menjadi terkenal (From Zero To Hero). Di lain fihak media yang sama mengisahkan juga cerita sedih seseorang yang terkenal menjadi bukan siapa-siapa (From Hero To Zero) dan kembali ke titik nol (Ground Zero).

Dari cerita dan khazanah tersebut ada benang merah yang mungkin perlu kita resapi dan selami bahwa: Tidak selamanya “kesuksesan” itu adalah benar-benar pencapaian yang abadi dan mutlak. Kadangkala itu merupakan perangkap diri (Self Trap) karena salah mempersepsikan sebuah kesuksesan.

Ukuran kesuksesan mutlak (Absolute Successful Measurement) kadangkala bercampur dengan metoda atau takaran yang berbeda untuk setiap orang, kalangan/golongan bahkan bangsa. Sebagai contoh, bila ukurannya penguasaan bangsa, betapa Majapahit telah menguasai bangsa-bangsa di dunia sebagai “Super Power” (So….ini seperti sebuah “arisan” dimana bangsa-bangsa besar pernah menjadi “penguasa dunia”). Ini juga berlaku untuk perseorangan, ada yang mempunyai ukuran bahwa “Tahta (Power/Position), Harta (Wealth/Money) dan Wanita (Spouse)” sebagai acuan kesuksesan.

Variabel yang mutlak adalah waktu (plus takdir/kehendak yang Maha Kuasa) karena sesuatu akan dianggap sukses dalam suatu era dan lokasi geografis (atau mungkin suatu konstelasi), berubah drastis dalam era dan geografis yang berbeda. So…Kalau tidak hati-hati, kesuksesan itu bisa berubah menjadi “mode” yang tidak cocok di segala jaman serta gampang berubah sesuai minat zaman dan lokasi di mana kesuksesan itu diukur.

Penutup:
Kita semua punya pilihan dan kesempatan yang sama untuk mewujudkan “From Zero To Hero” atau “Bisa Juga: From Hero To Zero”.

Posted in Filosofi, Kebijakan, Leadership, Pahlawan, Pemikiran, Pribadi, Tokoh | Tagged , | Tinggalkan komentar

Restropeksi “Costa Concordia”: Perbedaan Seorang Pengecut dan Pemberani

 The hero and the coward both feel the same thing, but the hero uses his fear, projects it onto his opponent, while the coward runs. It’s the same thing, fear, but it’s what you do with it that matters.    D’Amato, Cus
Peribahasa di atas sangat tepat dengan apa yang terjadi di kehidupan kita sehari-hari. Banyak kejadian yang memperlihatkan Perbedaan Seorang Pengecut dan Pahlawan seperti yang digambarkan dengan peristiwa tenggelamnya Kapa Pesiar Costa Concordia baru-baru ini. Berikut ini adalah transkrip yang diterjemahkan dari percakapan antara Kapten Gregorio de Falco (Penjaga Pantai Italia) dan Schettino (Kapten Kapal Pesiar Costa Concordia):
De Falco: Ini adalah De Falco yang berbicara dari Livorno. Apakah saya berbicara dengan Komandan Kapal?
Schettino: Ya. Selamat malam, Komandan De Falco.
De Falco: Tolong beritahu saya nama Anda.
Schettino: Saya Komandan Schettino, komandan.
De Falco: Schettino? Dengarkan Schettino. Ada orang yang terjebak di kapal. Sekarang Anda pergi dengan perahu Anda ke bawah haluan di sisi kanan kapal. Ada sebuah tangga pertolongan. Anda harus menaiki tangga itu dan masuk kapal. Kemudian Anda akan memberitahu saya berapa banyak orang tertinggaldi sana. Apakah itu jelas? Saya merekam percakapan ini, Komodor Schettino …
Schettino: Komandan, biarkan aku memberitahu Anda satu hal …
De Falco: Bicaralah! Letakkan tangan Anda di depan mikrofon dan berbicara lebih keras. Apakah itu jelas?
Schettino: Pada saat ini, kapal ini sudah miring …
De Falco: Saya memahami dan mendengarkan, ada orang-orang yang turun tangga di haluan. Anda naik tangga lain yg tersedia, masuk ke kapal itu dan katakan padaku berapa banyak orang yang masih di dalam. Dan apa yang mereka butuhkan. Apakah itu jelas? Anda perlu memberitahu saya jika ada anak-anak, wanita atau orang yang membutuhkan bantuan. Dan katakan jumlah pasti dari masing-masing kategori. Apakah itu jelas? Dengarkan Schettino,  Anda selamay dari laut, tapi saya akan … benar-benar melakukan sesuatu yang buruk kepada Anda … Saya akan membuat Anda membayar untuk ini. Go on board, (sumpah serapah)!
Schettino: Komandan, silahkan …
De Falco: Tidak, silakan. Anda sekarang bangun dan pergi ke kapal. Mereka mengatakan bahwa kapal masih ada penumpang…
Schettino: Saya di sini dengan perahu penyelamat, saya di sini, saya tidak ke mana-mana, saya di sini …
De Falco: Apa yang Anda lakukan, komandan?
Schettino: Saya di sini untuk mengkoordinasikan penyelamatan …
De Falco: Apa yang Anda koordinasikan di sana? Pergilah ke kapal! Koordinasikan dari kapal penyelamatknnya. Apakah Anda menolak?
Schettino: Tidak, saya tidak menolak.
De Falco: Apakah Anda menolak untuk pergi naik, Komandan? Dapatkah Anda memberitahu saya alasan mengapa Anda tidak pergi?
Schettino: Saya tidak pergi karena sekoci lainnya menghalangi.
De Falco: Anda pergi ke kapal!!! Ini adalah perintah!!! Jangan membuat alasan lagi. Anda telah menyatakan “Tinggalkan kapal”. Sekarang saya yang bertanggung jawab. Anda pergi ke kapal! Apakah itu jelas? Apakah Anda mendengar saya? Pergilah, dan telepon saya ketika Anda naik. Awak udara penyelamatan saya ada di sana.
Schettino: Mana penyelamat Anda?
De Falco: penyelamatan udara saya di haluan. Pergi. Sudah ada di sana, Schettino.
Schettino: Berapa banyak mayat yang ditemukan?
De Falco: Saya tidak tahu.  Anda adalah orang yang harus memberitahu saya tentang banyaknya korban!!!
Schettino: Tapi apakah Anda menyadari suasana gelap dan di sini kita tidak bisa melihat apa-apa …
De Falco: Jadi apa keinginanmu? Anda ingin pulang, Schettino?  Suasana  gelap dan Anda ingin pulang? Arahkan pada haluan kapal dan naik menggunakan tangga pertolongan serta katakan padaku apa yang bisa dilakukan, berapa banyak orang di sana dan apa kebutuhan mereka. Sekarang!
Schettino: … Saya dengan orang kedua (wakil) saya di sini.
De Falco: Jadi Anda berdua harus naik … Anda dan Wakil Anda pergi ke kapal sekarang. Apakah itu jelas?
Schettino: Komandan, saya ingin pergi kel kapa, tapi ada perahu lain di sini yg menghalangi … Ada penyelamat lainnya. Kami berhenti dan menunggu …
De Falco: Telah beberapa jam Anda  mengatakan hal yang sama. Sekarang, pergi ke kapal. Pergilah ke kapal! Dan kemudian beritahu saya segera berapa banyak orang ada di sana!!!
Schettino: OK, Komandan.
De Falco: Pergilah, segera!
“Dan sejarah mencatat, kisah heroik dibalik kaburnya kapten kapal pesiar Costa Concordia, Francesco Schettino (52). Kepala Pelabuhan Livorno, Gregorio de Falco (48) yang memaki Schettino menjadi salah satu pahlawan diantara kisah heroik lainnya.”

Posted in Filosofi, Kebijakan, Leadership, Pahlawan, Pemikiran, Pribadi, Tokoh | Tagged , , , , | Tinggalkan komentar

Herru Azhar/0509u014: Peranan Elektronika Dalam Industri

Sekarang ini peranan elektronika dalam kehidupan banyak banget.Mulai dari TV, Komputer, Radio de el el. Dan kebanyakan, elektronika menggunakan listrik (yealah masa pake tenaga dalem ;p) Oke itu just for fun aja ye…..
Elektronika dalam industri itu intinya merupakan benda untuk memudahkan, efisien, dan meningkatkan produktifitas. Ini dilakukan untuk penekanan pengeluaran yang berlebih. Secara ya, IPTEK itu udah berkembang jauh, dari yang asalnya radio butut, jadi tipi item putih sampe tipi plasma cem sekarang2 ini.
Sama halnya dengan di Perindustrian, dulu yang harus dikerjain manual, cekrak cekrek pake palu ini itu skrg udah pake mesin yang kepresisiannya ampir 100%. Dulu satu benda dikerjain rame rame trs lama lagi, mahal nyari bahannya, mahal bayar pegawainya. Skrg mah tinggal cklik tuas ama seekor manusia, biarin mesin jalan, tungguin, berees. ngehemat waktu, biaya dan super efisien kan?
Tapi kekurangannya ya mempersempit lapangan kerja sih. Dan otomatis harus lulusan sarjana teknik juga biar ngerti gimana cara ngejalaninnya ini itu bla bla bla. Tapi ini harusnya bukan menjadi masalah, justru harusnya membuat persaingan industri menjadi ketat, sehingga produsen kelas menengah ke bawah dapat bermerger ria buat ngelawan produsen kelas atas.
Nah peran saya sekarang cuma bisa belajar dan mengikuti proses pembelajarannya aja, biar nanti kalau diaplikasiin bisa buat sebuah perindustrian yang menggunakan elektronika, namun juga dapat menyerap tenaga kerja manusia yang baik pula. Bukan berarti asal cabut, tapi berkompeten dalam pekerjaannya. Orang tanpa pendidikan yang amat rajin jauh lebih baik daripada lulusan doktor yang pemales kok.
Yang penting kita bisa menggunakan kelebihan kita buat ngebantu yang kurang beruntung. Disini, sebagai lulusan Teknik Indusri, alangkah baiknya apabila kita membuka usaha yang menggunakan tenaga kerja yang baik, dan penggunaan IPTEK yang bagus pula. Soal pengguna IPTEK yang bagus sih ga perlu dari jurusan teknik, tapi cukup dikasih tau atau diajari dari nol. Ga rugi rugi amat kok ngajarin ini itu bla bla bla juga. Lagian pahala nambah kok, trus kan kalau gitu bisa menekan biaya penggajian karyawan :P
Posted in E-Learning, Ilmiah, Lingkungan, Listrik, Manajemen, Pemikiran, Pendidikan, Telematika, Widyatama | Tagged , , | Tinggalkan komentar

Jenderal Hoegeng: Polisi Yang Tak Pernah Tidur

Jenderal Hoegeng Tidak Bisa Disuap

Barusan saya melihat tayangan ulang sepak terjang almarhum Jendral Hoegeng di @KickAndyShow. Melihat penampilan keluarga amarhum dan sahabat-sahabat beliau, kelihatannya mereka memperoleh “Kenikmatan Yang Tertunda” dan “Sengsara Membawa Nikmat”. Mengapa? Setelah mengalami “pendzoliman” oleh fihak-fihak yang merasa terganggu dengan Niat, Pikiran dan Tindakan (Heart, Head & Hand) untuk memerangi kejahatan dan kemaksiatan, akhirnya almarhum Jendral Hoegeng, keluarga serta sahabat dekat yang satu visi mendapat tempat istimewa di hati masyarakat. Bahkan istri dan keluarganya bisa berangkat ke Hawaii, tempat yang diidamkannya bersama almarhum Jendral Hoegeng, dengan sumbangan dari para donor yang bersimpati dan berterima kasih kepada beliau.

Berikut adalah tulisan Andy F. Noya yang berisi kekagumannya pada Jenderal Hoegeng:

Suatu hari, seorang teman lama menelepon saya. Dia menceritakan kisah yang membuat hati saya tersentak lalu tergerak. Cerita tentang istri almarhum mantan Kapolri Jenderal Hoegeng Iman Santoso. Menurut teman saya, ketika Pak Hoegeng masih hidup, dia pernah berjanji suatu hari kelak, jika punya uang, dia akan mengajak istrinya ke Hawai, Amerika Serikat. Mengapa Hawai? Karena mereka berdua begitu mencintai lagu-lagu “irama lautan teduh”.

Hoegeng dan Merry Roeslani, sang istri, sejak muda memang sangat menyukai musik hawaian. Kecintaan pada jenis musik tersebut mendorong mereka menghidupkan kembali kelompok musik Hawaian Seniors yang dulu pernah dibentuk Hoegeng semasa remaja. Mereka bahkan tampil sebulan sekali di TVRI dan merupakan program yang sangat diminati pada tahun 1970-an.

Namun apa mau dikata. Sebelum janji itu bisa dipenuhi, sang jenderal yang jujur dan sederhana itu lebih dulu dipanggil Tuhan. Hoegeng pergi selama-lamanya tanpa sempat mengajak sang istri menginjak pasir Waikiki Beach di Hawai yang terkenal itu. Hoegeng juga tak pernah sempat mengajak Merry melihat penari hula-hula asli di pulau tersebut. Karena itu, saya bisa membayangkan betapa sedih hati Ibu Merry.

Bagi Anda yang mungkin lupa, selama menjadi Kapolri, Pak Hoegeng setiap akhir bulan tampil bermain musik bersama Hawaian Seniors membawakan lagu-lagu irama lautan teduh. Duet Hoegeng dan Merry sanggup menyihir penonton televisi pada tahun 1970-an.

Bahkan penampilannya di TVRI waktu itu terus berlanjut walau Pak Hoegeng sudah pensiun. Hingga pada 1978, Hawaian Seniors “dicekal” tidak boleh tampil di TVRI oleh penguasa Orde Baru. Tidak pernah jelas mengapa. Alasan “resminya” karena acara tersebut dinilai tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Tetapi diduga pencekalan itu berkaitan dengan keikutsertaan Pak Hoegeng menandatangani “Petisi 50” yang berisi kritikan keras terhadap Pak Harto.

Pencekalan terjadi setelah Pak Hoegeng, Ibu Merry, dan Hawaian Seniors sepuluh tahun tampil menghibur di TVRI. Waktu yang cukup lama. Tetapi, percaya atau tidak, selama itu pula belum pernah sekalipun Ibu Mery menginjakkan kakinya di pasir Waikiki Beach yang terkenal itu. Padahal, sebagai Kapolri, Pak Hoegeng sudah pernah tiga kali bertugas ke Amerika dan sempat mampir di Hawai.

Ibu Merry tidak pernah ikut karena Pak Hoegeng memiliki prinsip yang sangat teguh: selama melakukan perjalanan dinas, istri dan anak-anak tidak boleh ikut “numpang” fasilitas kantor “Dia tidak pernah mengijinkan saya dan anak-anak memanfaatkan kesempatan menggunakan fasilitas dinas,” ungkap Ibu Mery. “Sementara untuk beli tiket dengan uang sendiri kami tidak mampu.”

Ironis memang. Sulit dipercaya ada orang sejujur Pak Hoegeng di negeri ini. Tak heran jika kemudian muncul idiom: Di Indonesia hanya ada tiga polisi yang jujur. Polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng. Begitu jujurnya sampai ketika meninggal tak banyak harta benda yang dia tinggalkan untuk keluarganya. Bahkan setelah 32 tahun mengabdi di kepolisian, uang pensiun yang diterima Pak Hoegeng cuma Rp 10 ribu.

Kawan saya menilai kisah tentang Ibu Mery tersebut layak diangkat di Kick Andy. Agar banyak pihak terbuka matanya bahwa di negeri ini ada sebuah ironi. Ironi kehidupan seorang pejabat yang jujur dan seorang istri yang tabah.

Setelah mendengar kisah tentang Pak Hoegeng dan Ibu Merry, ada “panggilan” yang begitu kuat di dalam dada. Panggilan untuk mewujudkan mimpi Ibu Merry. Mimpi untuk bisa menginjakkan kaki di Pantai Waikiki. Dalam usianya yang sudah di atas 80 tahun, mungkin ini permintaan terakhir yang akan dikenangnya sebelum Tuhan memanggilnya.

Tapi, jujur saja, saya sempat ragu apakah bisa mewujudkan mimpi tersebut. Terutama ketika mendengar cerita bahwa sudah dua kali Ibu Merry ditolak ketika mengajukan visa ke kedutaan besar Amerika Serikat. Tak ada penjelasan mengapa permohonannya ditolak. Sejak penolakan yang kedua, Ibu Merry sudah mengubur dalam-dalam impiannya untuk bisa melihat Hawai.

Saya mencoba menghubungi pihak kedutaan Amerika dan menjelaskan keinginan saya untuk membantu Ibu Merry guna mendapatkan visa. Saya berusaha menjelaskan siapa Pak Hoegeng dan kisah tentang mimpi Ibu Merry untuk bisa menginjakkan kaki di pulau yang selama ini hanya dikenalnya melalui gambar dan cerita-cerita orang.

Pihak kedutaan Amerika mengatakan tidak berjanji dapat mengabulkan permintaan saya itu. Mereka menegaskan adanya peraturan keras dari pemerintah Amerika yang tidak pandang bulu. Saya katakan kepada mereka saya bisa memahami dan tidak akan memaksa. Saya hanya ingin menyenangkan hati seorang wanita luar biasa yang selama hidupnya banyak mengalami kepahitan hidup. Apa salahnya di ujung hidupnya, sekali ini, dia dapat mereguk kebahagiaan. Apalagi ada kemungkinan ini adalah “last wish” atau permintaan terakhirnya.

Akhirnya, kisah tentang Pak Hoegeng, Hawaian Senior, dan Ibu Merry saya angkat di Kick Andy. Pada bagian akhir acara, kepada Ibu Merry saya tanyakan tentang apa keinginannya yang belum terwujud. Dengan suara pelan, sembari menghela nafasnya, Ibu Merry bercerita tentang kerinduannya untuk bisa ke Hawai. Kerinduan yang sudah dikuburnya.

Dua kali visanya ditolak dan keuangan yang terbatas, membuatnya pasrah. Dia juga harus mengubur impiannya untuk bertemu dengan sahabatnya Mukiana, perempuan asal Hawai, yang sangat dirindukannya. Sudah tiga puluh tahun lamanya mereka tidak berjumpa. Mukiana pernah tinggal di Indonesia selama enam tahun dan bersama-sama menari dan bernyanyi di acara Hawaian Seniors.

Di ujung acara Kick Andy saya menyambungkan hubungan telepon antara Keala Mohikana dan Ibu Merry. Tampak Ibu Merry terkejut mendapat sambungan langsung dengan sahabat yang dirindukannya itu. Ibu Merry lalu menanyakan kapan Keala Mohikana bisa ke Jakarta. Tapi, pada pertengahan pembicaraan, tiba-tiba Keana Mohikana muncul dari balik panggung. Ibu Merry tertegun seakan tak percaya. Sahabatnya itu kini berada tepat di depannya. Kedua wanita tua itu lalu saling berpelukan melepas rindu.

Belum sempat Ibu Merry meredakan rasa harunya, tiba-tiba Aditya, putra Ibu Merry, mengeluarkan visa dari kantongnya. Tuhan maha besar. Kedutaan Amerika kali ini meloloskan Ibu Merry dan juga Aditya untuk masuk wilayah Amerika. Mereka berdua mendapat visa!

Selesai sampai di situ? Belum. Kepada Ibu Mery, saya serahkan sebuah amplop. Isinya kemudian dibaca oleh Ibu Merry: tiket pulang pergi Jakarta-Hawai-Jakarta. Maka sempurnalah perjuangan saya, teman saya, dan Aditya untuk memberikan “hadiah” paling indah dalam hidup Ibu Merry, yakni kesempatan pergi ke Hawai.

Sejumlah penonton di studio tak kuasa menahan haru. Mereka menitikan air mata. Apalagi saat Aditya menunjukkan visa dan kemudian Ibu Merry menerima tiket ke Hawai yang dipersembahkan Surya Paloh, pemilik Metro TV.

Seusai rekaman Kick Andy, semalaman saya tidak bisa tidur. Hati rasanya bahagia sekali. Semua upaya dan jerih payah terbayar sudah. Kalau melihat ke belakang, rasanya semua itu tidak mungkin terjadi. Mulai dari upaya teman saya mendatangkan Mukiana ke Jakarta, usaha untuk mendapatkan visa yang sudah dua kali ditolak, sampai tiket ke Hawai pemberian Surya Paloh, semua berjalan tanpa hambatan. Tuhan maha besar.

(Sebagian Dikutip dari Sumber: http://www.kickandy.com)

 


Posted in Anak, Filosofi, Ibadah, Islam, Keluarga, Pahlawan, Pemikiran, Pendidikan, Pribadi, Tokoh | Tagged , , , , , , | 2 Komentar

Kasih Sayang Keluarga……Dimanakah Engkau Berada?

Posted in Anak, Ibadah, Islam, Keluarga, Pribadi | Tagged , , , , | Tinggalkan komentar

Formula Einstein dan Penerapannya Pada Prinsip Ekonomi

Formula Einstein E = mc2 dapat diterapkan pada prinsip ekonomi. Dengan sedikit adaptasi teori, kita ketahui, perubahan salah satu kekuatan/energi ekonomi ke bentuk lain dari kekuatan/energi ekonomi tidak dapat mengubah jumlah total ekonomi. Prinsip dasar ekonomi yang mengambil keuntungan/laba besar dari modal/saham kecil hanya dapat diterapkan pada waktu dan atau wilayah sangat terbatas.

Pada jurnal berjudul “The Great Depression. George Bush vs Einstein on economic policy“, dikatakan bahwa Albert Einstein adalah salah satu matematikawan terbesar abad sebelum ini. Jurnal tersebut menentang klaim yang dilakukan oleh Ronald Reagan atau George W. Bush perihal pertumbuhan ekonomi. Ayahnya, George Bush Senior, menyebut “teori ekonomi menetes turun” (trickle down economic theory) sebagai ‘ekonomi voodoo’ ketika ia menantang Reagan untuk nominasi partainya, tapi menjadi diam setelah terpilih menjadi Wakil Presiden. Menurut Einstein  “teori ekonomi menetes turun” (trickle down economic theory) adalah kebijakan ekonomi yang tidak layak sama sekali, juga bukan cara untuk menciptakan pekerjaan. Ini hanya transfer atau pemindahan kekayaan, dengan konsekuensi bencana, termasuk pada akhirnya hilangnya manfaat dan keuntungan bagi banyak fihak. Reaganomics, seperti yang akhirnya disebut, membutuhkan waktu sekitar lima belas tahun untuk mulai menghancurkan perekonomian sehingga berdampak berdasarkan pengalaman kita sekarang.

“Depresi Besar (Great Depression)” adalah kejadian yang biasa dalam perekonomian Amerika tahun 1800-an, berulang secara berkala sepanjang abad, membawa kesedihan bagi bangsa di dunia lagi dan lagi. Depresi Besar yang paling terkenal, dimana orang biasanya merujuk ke saat menggunakan istilah, adalah depresi terkenal yang berlangsung sepanjang dekade tiga puluhan. Karena analisis ekonomi melibatkan matematika dan angka-angka, Albert Einstein menggunakan bakatnya untuk menganalisis penyebab “Depresi Besar” ini. Apa yang dia temukan adalah bahwa Depresi Besar disebabkan oleh apa yang disebut sebagai ‘pekerja yang dibayar murah serta tidak memberikan pasar yang menguntungkan’ (yang menyebabkan hilangnya keuntungan dan aset di zaman itu) serta “motif keuntungan, dalam hubungannya dengan kompetisi di antara kapitalis yang bertanggung jawab dalam akumulasi ketidakstabilan  dan penggunaan modal yang mengarah ke depresi semakin parah”.

Apa yang dimaksud di sini adalah begitu banyak uang menumpuk di atas karena para kapitalis bersaing keras untuk siapa yang dapat menjadi terkaya yang akhirnya bagian bawah perekonomian jatuh dan ambruk, dimana pasar tidak lagi dapat didukung karena ketidakseimbangan dalam distribusi kekayaan. Hal ini menghasilkan kejenuhan barang di pasar yang tidak dapat dijual yang menghasilkan deflasi harga serta mengakibatkan hilangnya keuntungan selanjutnya pemutusan hubungan kerja (PHK)  yang kemudian mengarah ke kerusakan lebih lanjut di pasar sebagai spiral ekonomi yang mengarah menjadi bencana. Depresi besar tidak disebabkan ketika gelembung pasar saham meledak, melainkan ledakan gelembung hanyalah reaksi terhadap keruntuhan di pasar (gejala dan bukan sebab). Depresi Besar disebabkan oleh transfer besar kekayaan pada sebuah minoritas kecil di puncak piramida, yang seperti Einstein mengatakan, penyebab ‘ketidakstabilan’ dalam ‘pemanfaatan modal’ yang kemudian menghasilkan ‘depresi semakin parah’ dengan keparahan depresi berkorelasi langsung dengan tingkat ketidaksetaraan pendapatan yang telah berkembang di masyarakat.

Posted in Business, Filosofi, Innovation, Leadership, Manajemen, Pemikiran, Pendidikan, Pribadi, Tokoh | Tagged , , , , | Tinggalkan komentar

Telematika: “Business Intelligence” Sebagai Penunjang Keputusan Bisnis

Business Intelligence (BI) merupakan suatu proses untuk melakukan ekstraksi data-data operasional perusahaan dan mengumpulkannya dalam sebuah “data warehouse”.‡ Selanjutnya “data warehouse” diproses menggunakan berbagai analisis statistik [atau data mining] sehingga dapat diperoleh berbagai kecenderungan atau pola data.‡ Hasil penyederhanaan data dan informasi tersebut disajikan kepada “end user” yang biasanya merupakan pengambil keputusan. Disini dapat diambil keputusan berdasarkan fakta-fakta aktual serta tidak hanya mengandalkan intuisi dan pengalaman kuantitatif belaka.

Business Intelligence (BI) merupakan aplikasi dan teknologi untuk mengumpulkan, menyimpan, menganalisis dan menyediakan akses ke data dan informasi untuk membantu penggunanya dalam mengambil keputusan bisnis dengan lebih baik.‡Aplikasi ini mencakup beberapa aktivitas sistempendukung keputusan, seperti: query, reporting, OnLine Analytical Processing (OLAP), “Statistical Analysis”, “Forecasting” dan “Data Mining”.

Business Intelligence (BI) akan berfungsi sebagai analis dan sekaligus memberikan rekomendasi pada pengguna terhadap tindakan yang sebaiknya diambil.‡ BI berfungsi sebagai “Dashboard” dimana penggunanya akan cepat mengenali penyimpangan-penyimpangan pada perusahaan sekaligus dengan penyebabnya sebelum hal tersebut berkembang menjadi masalah yang serius. 

 Business Intelligence (BI) memberikan ukuran-ukuran yang dapat menentukan kinerja organisasi.‡ Analogi dengan menggunakan “Dashboard” mobil:

  • BI memberikan informasi kondisi internal, seperti halnya suhu pada kendaraan. 
  • BI memberikan sinyal-sinyal pada pengemudi bilaterjadi kesalahan pada kendaraan, seperti bila bensin akan habis pada kendaraan. 
  • Semuanya berguna bagi pengemudi agar mampu mengendalikan kendaraannya dengan lebih baik dan mampu membuat keputusan yang tepat dengan lebih cepat.
Keungulan-keunggulan  Business Intelligence (BI) :
  1. Membutuhkan biaya yang relatif murah dalampengadaannya. 
  2. Proses pembuatan laporan dapat dilakukan dengancepat 
  3. Adanya “Graphic User Interface (GUI)” yang dapat dibentuk sesuai selera. 
  4. Mampu meminimalisasi masalah-masalah teknis,terutama terkait dengan human error. 
  5. Mudah dalam mengintegrasikan data dan informasi
  6. Adanya konsolidasi informasi, karena data diolah dalam satu platform. 
  7. Adanya respon yang cepat, sehingga dapat digunakan untuk mengantisipasi suatu kejadian.
Posted in Business, Ilmiah, Innovation, Lecture, Manajemen, Telematika, Widyatama | Tagged , , , | Tinggalkan komentar

Pendidikan: EsEmKa, Proses Pembelajaran Yang Panjang Dari Pemangku Kepentingan


Walaupun bukan ulat atau semut hitam, EsemKa sedang naik daun sekarang terutama setelah salah satu karyanya dipakai oleh Walikota Solo Joko Widodo. Semua orang terhenyak dengan hasil karya anak bangsa yang begitu mempesona. Mulai dari mobil SMK-2 Solo sampai dengan pesawat terbang Jabiru SMK-29 Jakarta, seolah memperlihatkan SMK sedang meninggalkan lawan-lawannya di arena “Formula-1” pendidikan. Belum lagi SMK-SMK lain dengan hasil karya yang membanggakan, mulai dari inovasi pertanian, otomotif, kimia sampai elektronika. Kelihatannya setelah dulu menjadi “anak tiri”, SMK bangkit menyeruak kekuatan segmen pendidikan yang patut diperhatikan.

Melalui Tag-line “SMK bisa”, perlahan-lahan program yang dikomandani oleh DR. Joko Sutrisno sebagai Direktur Pembinaan SMK KemDikBud telah memperlihatkan hasilnya. Hampir di semua daerah perkotaan dan pedesaan, kebanggaan menjadi siswa SMK begitu besar. Hal ini menjadikan animo semua pemangku kepentingan termasuk guru, siswa, wali dan dinas pendidikan serta kalangan lain bisa bersatu padu dalam pencapaian hasil pendidikan. Bahkan di beberapa daerah, animo masyarakat untuk memasukkan anaknya ke SMK dapat mengalahkan animo masuk SMU karena “Brand” yang lebih kuat melalui iklan TV, pencapaian siswa, kebutuhan dunia usaha dan lain-lain.

Hal ini tidak datang tiba-tiba, saya masih ingat dengan peran ayah sebagai pensiunan pengawas Dikmenjur (Pendidikan Menengah Kejuruan). Beliau pada kurun tujuh-puluhan sampai akhir sembilan-puluhan berusaha keras untuk juga membangun kompetensi dan strategi SMK-SMK di Jawa Barat. Dan sekarang, kelihatannnya program pendidikan SMK saat ini sudah “cukup membumi” sehingga bisa memberikan kepuasan pada kalangan ”Academic, Business & Goverment” (Akademis, Bisnis dan Pemerintah). Pada akhirnya ini memberikan “Above Average Return” (Tingkat Pengembalian Di Atas Rata-Rata) pada semua fihak yang terlibat karena mendahuluan filosofis “Benefit” (Manfaat) daripada “Profit” (Keuntungan) …..

Diharapkan filosofis yang sama dapat juga “merasuki” segmen dan tingkat pendidikan yang lain seperti PAUD, SD, SMP, SMU, Perguruna Tinggi serta pendidikan non-formal/informal….Semoga….

Posted in Filosofi, Guru, Innovation, Leadership, Manajemen, Pemangku Kepentingan, Pendidikan, Proyek, Wirausaha | Tagged , , , , | Tinggalkan komentar

Pesantren IT (Inspiring Teachers): Guru Kreatif Lokomotif Pendidikan Berkualitas

Kegiatan Pesantren IT yang telah dilaksanakan pada 23-24 Agustus 2011 lalu akan kembali diselenggarakan dengan tujuan untuk lebih memperdalam kemampuan para guru alumni kegiatan tersebut dalam penguasaan perencanaan pembelajaran kreatif.

Sebagai wahana persiapan menghadapi semester baru, kegiatan ini kembali akan diselenggarakan oleh komunitas #gurukreatif Pojok Pendidikan bekerjasama dengan ComLabs USDI ITB pada :

Hari/tanggal : Jumat – Sabtu/6 – 7 Januari 2012

Pukul                     : 09.00 s.d. 16.00

Tempat                : Ruang Seminar & Ruang Pelatihan Multimedia ComLabs USDI ITB, Gedung ComLabs ITB, Jalan Ganesha  No.10 Bandung 40132.

Acara diselenggarakan secara gratis bagi guru-guru alumni pesantren IT tahun lalu.

Agenda Acara :

Hari I

  1. Bedah Buku :
  •  
    • Buku Indonesia Mengajar (dalam konfirmasi)
    • Buku Bunga Rampai Pendidikan Kreatif
  1. Training Motivasi: Guru Kreatif Lokomotif Pendidikan Berkualias
  2. Sosialisasi program Pojok Pendidikan 2012

Hari II

  1. Praktek Pengembangan bahan ajar kreatif berbasis IT
  2. Praktek Pemanfaatan teknologi E-Learning dalam pembelajaran.


Posted in Diklat, Guru, Pendidikan | Tagged , , , | Tinggalkan komentar

Telematika: Fenomena “Social Media Branding” Dahlan Iskan, Joko Widodo dan Marissa Haque

Ada beberapa orang yang terkenal di “Socia Media” sekarang, mereka adalah Dahlan Iskan, Joko Widodo dan Marissa Haque. Mereka bertiga menjadi sorortan publik karena sepak terjangnya yang secara positif atau negatif menjadi ”Social Media Branding” ketiganya. Banyak sorotan dari pemirsa televisi dan media daring yang menanggapi semua ucapan dan perilaku mereka yang menjadi “selebritas” dalam bidang dan topik tertentu.

Pujian dan cacian menjadi makanan sehari-hari tokoh seperti mereka. Misalnya Dahlan Iskan yang punya hobi melakukan hal-hal yang “di luar kebiasaan” seorang menteri seperti naik KRL dan ojek, diberitakan menjadi begitu terkenal serta diharapkan menjadi salah “Kuda Troya” Calon Presiden 2014. Sedangkan Joko Widodo yang Walikota Solo, mendapat sambutan positif dan negatif di media daring (online) karena mulai hari ini menggunakan mobil dinas “Esemka”. Begitu pula Marissa Haque yang menjadi “Trending Topic” di Twitter karena menulis blog sebagai protes pada orang-orang yang meragukan gelar doktornya.

Menurut Techipedia, kebanyakan orang berkecimpung di dunia online adalah membangun “merek” atau persepsi orang. Tapi kadang-kadang orang yang sedang membangun persepsi lupa untuk membuat langkah strategis yang tepat.  Kita telah melihat banyak “Social Media Branding” yang sukses meledak secara online karena sudah berpikir tentang bagaimana mereka ingin dipersepsikan atau telah perlahan-lahan tumbuh menjadi peran mereka saat ini, dengan berbagai eksperimen, keberuntungan dan kerja keras. Media sosial, di sisi lain, memungkinkan kita untuk berhubungan langsung dengan audiens yang ingin ditargetkan dan membangun hubungan dengan mereka.


Posted in Leadership, Pemikiran, Pribadi, Telematika, Tokoh | Tagged , , , , | 2 Komentar