
Andai Kau Pun Tahu
Meski Itu Serpih Haru
Tak Selamanya Mendung Itu Kelabu
Nyatanya Hidup Membersit Biru
Terinspirasi dari Lagu: Kidung (Chrisye)

Mungkin masih banyak lagi artikel yang membahas pentingnya bahasa daerah dari sisi budaya, agama, politik, ekonomi dan lain-lain. Sebagai penutup saya kutip artikel yang memperkuat kekhawatiran akan kemungkina punahnya Bahasa Daerah di harian Kompas, Rabu 14 November 2007 sbb:
726 Bahasa Daerah Terancam Punah
Bisa Dipelihara Melalui Komunitas
Bandar Lampung, Kompas – Sebanyak 726 dari 746 bahasa daerah di Indonesia terancam punah karena generasi muda enggan memakai bahasa tersebut. Bahkan, kini hanya tersisa 13 bahasa daerah yang memiliki jumlah penutur di atas satu juta orang, itu pun sebagian besar generasi tua.
“Anak muda sekarang cenderung memakai bahasa asing dan bahasa nasional daripada bahasa daerah di dalam kehidupan sehari-harinya,” kata Kepala Bidang Pembinaan Pusat Bahasa Mustakim di sela-sela Kongres Bahasa-bahasa Daerah Wilayah Barat di Bandar Lampung, Selasa (13/11).
Menurut Mustakim, sebanyak 13 bahasa daerah yang jumlah penuturnya lebih dari satu juta penutur adalah Bahasa Jawa, Bahasa Batak, Sunda, Bali, Bugis, Madura, Minang, Rejang Lebong, Lampung, Makassar, Banjar, Bima, dan Bahasa Sasak.
Bahkan, tidak sedikit bahasa daerah yang jumlah penuturnya kurang dari satu juta bahkan hanya tinggal puluhan penutur saja. Di antaranya bahasa di daerah Halmahera, Maluku Utara, yang jumlah penuturnya sangat terbatas.
Salah satu faktor penyebab terjadinya penurunan jumlah penutur adalah akibat pengaruh budaya global. Pengaruh budaya itu menyebabkan generasi muda lebih suka berbicara dengan menggunakan bahasa nasional Bahasa Indonesia, sesekali diselingi dengan menggunakan bahasa asing, daripada dengan bahasa daerah.
Cinta bahasa daerah
Kepala Kantor Bahasa Lampung Agus Sri Dhanardana mengatakan, untuk menumbuhkan dan melestarikan bahasa daerah, Pusat Bahasa bekerja sama dengan balai-balai bahasa di setiap provinsi di Indonesia menggiatkan kembali kecintaan generasi muda pada pemakaian bahasa daerah. Selain itu, pemakaian bahasa daerah bisa digarap melalui komunitas-komunitas sastra, lembaga-lembaga bahasa, ataupun jalur pendidikan formal di sekolah.
Akan tetapi, tindakan yang lebih konkret untuk mempertahankan bahasa daerah adalah dengan menerapkan langsung bahasa daerah itu dalam kehidupan sehari-hari.
Mustakim mencontohkan, bahasa daerah juga bisa dipakai dalam percakapan di rumah, untuk nama jalan, nama bangunan, nama kompleks perkantoran, nama kompleks perdagangan, merek dagang, ataupun nama lembaga pendidikan. Nama-nama dalam bahasa daerah itu bisa ditulis di bawah nama dalam bahasa Indonesia.
Lebih lanjut Mustakim mengatakan, pemerintah sebetulnya juga telah menunjukkan keberpihakannya dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 40 Tahun 2007 tentang Pelestarian, Pembinaan, dan Pengembangan Bahasa Nasional dan Daerah. “Peraturan itu seharusnya bisa menjadi pedoman setiap kepala daerah melestarikan bahasa daerah masing-masing,” kata Mustakim.
Meski demikian, menurut Mustakim, peraturan yang paling mengikat untuk bisa melestarikan bahasa daerah dan menghindarkan dari kepunahan adalah diterbitkannya undang-undang bahasa. (HLN)
Di BANGLADESH, 97% dari rumah-rumah dan hampir semua pedesaan kekurangan telepon dan menjadi salah satu negara paling sedikit sarana telekomunikasinya di dunia. Ketiadaan sarana telekomunikasi ini mendukung keterbelakangan dan pemiskinan dari penduduk Bangladesh. Untuk mengatasi masalah ini, GrameenBank suatu lembaga institusi keuangan yang mikro, membentuk dua institusi:
1) Grameen Telecom, suatu organisasi nirlaba secara yang keseluruhan dimiliki GrameenBank untuk menyediakan servis telepon di daerah pedesaan sebagai satu aktivitas penghasil keuntungan untuk para anggota GrameenBank, dan
2) GrameenPhone Ltd. (Suatu kemitraan dengan institusi/perusahaan Amerika, Norwegia, dan Jepang), suatu perusahaan berorientasi keuntungan yang pada tahun 1996 memenangkan lisensi selular nasional GSM. GrameenPhone (GP) sejak itu telah menjadi operator yang dominan, serta menyediakan pelayanan telekomunikasi di wilayah pinggiran perkotaan dan sepanjang jalan kereta api.
Kunci sukses dari telepon pedesaan adalah hasil dari pengembangan kader dibidang wirausaha yang didukung oleh GrameenBank. Setelah Bank menyetujui pembiayaan suatu telepon, GT membeli suatu persetujuan beli telepon selular atas nama wirausaha dan menyediakan koneksi, perangkat keras dan pelatihan untuk mengoperasikannya. GT juga menjejaki trend di dalam telepon gunakan dan mengidentifikasi operator yang mempunyai pemasaran kesukaran atau mengumpulkan pembayaran-pembayaran untuk servis.
Jaringan telepon pedesaan dari GT juga menghasilkan manfaat-manfaat sekunder penting kepada wanita-wanita yang mereka melayani. Karena 95% dari operator adalah wanita, dan telepon-telepon itu di dalam rumah-rumah mereka, pelanggan wanita mempunyai akses pada telepon pedesaan inimerasakan nyaman menggunakannya. Ada juga beberapa bukti, karena telepon-telepon itu demikian penting bagi mereka, menjadi operator telepon pedesaan membantu mereka untuk meningkatkan status dari wanita-wanita tersebut di dalam masyarakat.

Andai Kau Pun Tahu
Meski Itu Serpih Haru
Tak Selamanya Mendung Itu Kelabu
Nyatanya Hidup Membersit Biru
Terinspirasi dari Lagu: Kidung (Chrisye)