Kecap-Kecap Lemes Anyar

Dina hakekatna digunakeunana ragam hormat teh taya lian pikeun nembongkeun rasa hormat ti nu nyarita ka nu diajak nyarita jeung ka saha nu dicaritakeunana. Ragam Basa Hormat aya dalapan rupa nya eta: 1. Ragam Basa Lemes Pisan/Luhur; 2. Ragam Basa Lemes keur Batur; 3. Ragam basa Lemes keur Pribadi/Lemes Sedeng; 4. Ragam Basa Lemes Kagok/Panengah; 5. Ragam Basa Lemes Kampung/Dusun; jeung 6. Ragam Basa Lemes Budak.

Arip Blog

naruto basa sunda

Ku Ajip Rosidi, éséy dina Cupumanik No. 18 (Januari 2005)

Ku sabab kapangaruhan ku alam pikiran undak-usuk basa, nyaéta ngarasa kudu nyarita ku basa lemes, tanda ngahormat ka nu diajak nyarita, sok timbul kecap-kecap anyar anu ku nu mimiti ngagunakeunana disangka kecap lemes.

Baheula kungsi aya nu ngagunakeun kecap “supanten” (maksudna lemesna tina “supaya”), “pribados” (lemesna tina “pribadi” kecap gaganti jalma nu kahiji), “nyondong” (lemesna tina “aya”), “saalit” (lemesna tina “saeutik”), malah ngaran tempat gé sok dilemeskeun upamana Majalengka jadi Maoslengka, Jatiwangi jadi Jatoswangi, jsb.

Kecap-kecap cara kitu sok disebut “lemes dusun”, nyaéta kecap-kecap anu saenyana euweuh dina, atawa taacan asup kana, kosa kecap basa lemes. Sawatara kecap “lemes dusun” aya nu ahirna mah diaku jadi kecap lemes anu henteu dusun, hartina asup jadi kosa kecap basa lemes, cara “pribados” apan ayeuna mah geus prah diparake, henteu dianggap lemes dusun deui.

Lihat pos aslinya 570 kata lagi

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Love to Nature

image

Created with Kwote!

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pahlawan Terbesar Itu Bernama Ayah Bunda

Kasih Ayah sepanjang langkah, Kasih Ibu sepanjang kalbu

syamsuramly

SHOUTH WALES, akhir tahun 1863.
Salju memutih. Titik hitam di atas hamparan salju. Semakin membesar. Dalam balutan kain tebal, tampak seorang ibu tertatih. Ia menggendong bayinya di antara deru dan embusan angin yang sangat menusuk.

Seketika, gemuruh mengurung sang ibu dan bayi yang digendongnya. Entah dari arah mana gunungan salju dalam badai itu datang. Saking dahsyatnya, tak seorang pun yang sejak awal melihat sang ibu memberanikan diri keluar untuk menolongnya.

Badai reda. Beberapa orang yang menyaksikan kejadian tersebut berdiri mematung. Seketika tersadar. Dalam pada itu, mereka berhamburan menuju tempat kejadian. Terlambat ….

Sesosok mayat terbujur kaku. Mantel tebalnya tak lagi membungkus dirinya. Ada sosok kecil dengan kedipan mata jernih yang kini terbungkus kain tebal tersebut. Sang ibu telah mengorbankan jiwa dan raganya demi menyelamatkan generasi penerusnya.

Inggris, 1916.
Sebuah pemerintahan baru. Seorang negarawan. Seorang pemimpin. Seorang David Lloyd George (1863-1945). Ia telah menjadi seorang yang besar dari sebuah pengorbanan seorang…

Lihat pos aslinya 455 kata lagi

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

Englishman In New York

Dance like a butterfly …. Sting like a bee…..

The Journey of A Little Penguin

by. Sting

I don’t drink coffee I take tea my dear
I like my toast done on one side
And you can hear it in my accent when I talk
I’m an Englishman in New York

See me walking down Fifth Avenue
A walking cane here at my side
I take it everywhere I walk
I’m an Englishman in New York

I’m an alien I’m a legal alien
I’m an Englishman in New York
I’m an alien I’m a legal alien
I’m an Englishman in New York

If, “Manners maketh man” as someone said
Then he’s the hero of the day
It takes a man to suffer ignorance and smile
Be yourself no matter what they say

I’m an alien I’m a legal alien
I’m an Englishman in New York
I’m an alien I’m a legal alien
I’m an Englishman in New York

Modesty, propriety can lead to notoriety
You…

Lihat pos aslinya 112 kata lagi

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

(DIY) Daytime Running Light (LED)

Sepertinya perlu untuk My White Livi

Anggi's Blog

kali ini mau sharing lagi nih DIY DRL biar kayak mobil gaul😆

Lihat pos aslinya 424 kata lagi

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Kualifikasi Berganda Presiden Indonesia

Indonesia telah mengalami beberapa kali penggantian pemimpin. Pada saat penggantian kepemimpinan, sering sekali terjadi kontroversi di kalangan masyarakat. Dan sepertinya pergantian Presiden Indonesia di masa lalu mengalami “Ombak Besar”…..Para penumpang Negara Kesatuan Republik Indonesia ikut panik kala “Nakhodanya” kehilangan “Sekoci Penyelamat”….

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=bFeYSpNzYxo]

Untitled-1 Source : ibmtuniversity.wordpress.com

Para penguyah ilmu biologi pasti sudah tidak asing dengan derajat organisasi makhluk hidup. Di sana diceritakan bahwa makhluk hidup tersusun dari molekul-molekul yang melewati berbagai senyawa untuk menjadi sel dan terus berproses menjadi organisme.

Lihat pos aslinya 850 kata lagi

Dipublikasi di Inspirasi, Jakarta, Kebijakan, Leadership, Politik | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Menggali Informasi dan Mencegah Distorsi Media Sosial

Kebebasan dan Aturan Berpendapat di Media Sosial 

Media sosial adalah ranah umum yang disediakan untuk menyampaikan pendapat. Namun, seperti “jalan umum”, ia punya kaidah “berlalu lintas” yangt harus ditaati agar tidak menimbulkan “senggolan atapun kecelakaan sosial” yang tidak diharapkan. Aturan “berlalu lintas pendapat” terhadap kebebasan berekspresi itu ada, terutama sejak pengesahan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) pada 2008.

Drama kasus hukum pencemaran nama baik yang melibatkan mahasiswa pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Florence Sihombing, harus menjadi pengingat bagi kita untuk senantiasa berhati-hati dalam mengutarakan pendapat, baik di dunia maya maupun dunia nyata.

Setelah kasus penghinaan terhadap warga Yogyakarta yang dilakukan mahasiswi S-2 Universitas Gadjah Mada, Florence Sihombing, mencuat melalui akun jejaring sosial Path, kali ini giliran akun Twitter milik Kemal Septiandi yang menjadi sorotan warga Kota Bandung. Melalui akun Twitter-nya, @kemalsept, dia menghina Kota Bandung dengan sebutan kota yang penuh dengan pelacur. Tak hanya satu kali, Kemal tercatat melakukan empat kali kicauan berisi penghinaan terhadap Kota Bandung di akun Twitter-nya.

Mencegah Distorsi di Media Sosial

Perkembangan media sosial memudahkan masyarakat memperoleh informasi dan mendorong demokratisasi. Di sisi lain, keberadaan media sosial tidak lepas dari berbagai banyak kepentingan yang tidak “seimbang dan  linier”. Media sosial menjadi “produsen distorsi” yang menghasilkan “produk” untuk ditawarkan pada audiens sebagai pasarnya. Artinya, eksistensi media sosial juga bergerak dengan logika “masif” dan “pasaran”.

Kepentingan “Distorsi” media sosial inilah yang seringkali akan berada dalam kondisi ”semrawut” dengan fungsi idealnya; menjadi jendela informasi dan sumber data bagi masyarakat. Bahkan dalam suatu kondisi ekstrem, manakala kepentingan “Distorsi” dan “Deception” (Pengelabuan) ini lebih dominan, media tidak lebih berfungsi hanya sebagai sarana perpanjangan tangan kelompok tertentu untuk mencetak “keuntungan” sebesar-besarnya.

“Distorsi” dan “Deception” (Pengelabuan) ini  misalnya, terjadi pada kasus “Kemal Septiandi” yang menjadi sorotan warga Kota Bandung. Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melakukan penelusuran untuk memastikan bahwa pemilik akun twitter @kemalsept bukan mahasiswanya.

“Adanya dugaan pemilik akun twitter @kemalsept adalah mahasiswa UPI, kami membantah dan menyatakan tidak benar,” kata Koordinator Bidang Publikasi dan Dokumentasi Media Humas UPI, Andika Dutha Bachari, dalam konferensi pers di Kampus UPI, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (6/9/2014).

Dijelaskannya, isu bahwa @kemalsept mahasiswa UPI disebutkan dalam situs sosial media. Pemilik akun @kemalsept disebut-sebut bernama “Kemal Septiandi.”

Ia juga disebut sebagai mahasiswa UPI prodi ilmu komputer angkatan 2011. Untuk memastikannya, UPI melakukan penelusuran database sistem informasi akademik dan kemahasiswaan (SIAK). Hasilnya, tidak ditemukan nama tersebut.

Untuk hal ini, sahabat saya Arnold Darwin mengatakan: 

“Sesuatu yang kita dengar atau lihat itu akan mempunyai distorsi karena dalam perjalanannya mengalami gangguan atau noise. Oleh karena itu dalam spesifikasi alat penyampai pendengaran atau audio amplifier selalu diberikan data nilai noise dan distortion (termasuk wow and flutter). Apalagi teks, audio atau videonya kemasyarakat umum yang melalui pengolahan dan penyampaian beberapa kali. Ada baiknya kita melihat Sabda Rasulullah SAW, cara penyampaian melihat, mendengar sendiri secara langsung. Semoga kita termasuk orang yang dapat menjaga perkataan kita.”

Menggali Informasi Presisi di Media Sosial

Dalam beberapa literatur memang disebutkan bahwa Media Sosial adalah salah satu “Top of Minds” yang laku di pasaran “Distorsi Informasi”,  misalnya pada Paper yang berjudul “Free speech perspectives on the internet – The internet as a public sphere and democratic medium”. Masih banyak lagi “perdebatan menarik” dan akan menaikkan rating media sosial perihal “Distorsi Informasi” ini dengan menambahkan Peran Utama, Peran Pembantu, “Stunt Man/Woman” bahkan “Cheer Leader” dalam drama sinetron “Devide et Impera” ini, misalnya perdebatan sengit pada kasus Florence dan “Kemal Septiandi” di atas.

“Distorsi Informasi” ini sering saya pergunakan bila ingin menyitir (baca: agak menyindir) bahwa “informasi kehidupan” itu harus selalu diukur dari selera kebanyakan orang, kebiasaan, pergaulan atau karena “sesuai rating TV/Media Sosial”……Mungkin pada saat SMU atau SMK kita masih ingat bahwa suatu “informasi dapat ditumpangkan pada gelombang pembawa (carrier)”….Namun bila gelombang termodulasi itu (informasi dan “carrier”), pada saat pengiriman terganggu oleh distorsi terlalu besar, maka informasinya akan berubah atau rusak dan tidak akan sama lagi dengan informasi semula…….

Bisakah kita mengerti dan menghayati bahwa “informasi kehidupan” itu bukan sekedar harus mirip atau sama dengan orang lain……Mungkin banyak contoh pengusaha yang sukses….ilmuwan yang hebat,…pemimpin yang cemerlang,…ulama yang zuhud, pekerja yang baik, orang tua teladan, anak yang sholeh,….dan banyak contoh lagi….melakukan terobosan (kadang “pemberontakan”) yang kadang tidak terpikirkan pada zamannya. Mereka dibekali dengan naluri (serta kalbu) bahwa tidak selamanya “data mentah” yang mereka terima adalah sesuatu nilai yang “mutlak”.

Keingintahuan untuk mencari kebenaran hakiki selalu menjadi bekal dan dasar semua pemikiran serta tindakan mereka sehingga menghasilkan “Above Average Return”…..Mereka punya kemampuan memilah informasi dari distorsi yang ada dengan teliti dan sabar…serta punya hikmah bahwa seringkali “Distorsi Lebih Besar Dari Informasi”.

Wallahu Alam Bissawab…..

Dipublikasi di Kebijakan, Pemikiran, Pribadi, Sosial, Telematika, Tokoh, UPI | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar