Apa Yang Bisa Dilakukan Dengan Angklung????

(Klik foto untuk memperbesar)

Mungkin kebetulan atau tidak, Riris menyenangi angklung. Ternyata banyak hal yang bisa didapat dari alat musik asal Bandung ini. Bagi putri kami ini, saya lihat sisi positif diantaranya adanya keseimbangan bagi otak kanannya (seni, kreatifitas dll.) sebagai kompensasi setelah memperoleh gemblengan untuk otak kirinya (logika, ilmu dll.) di sekolah, Bimbingan Belajar dan di rumah.
Saya tidak tahu apakah dia akan terus mengembangkan “karirnya” dan kecintaaannya pada angklung. Namun kalau membaca artikel di bawah ini kelihatannya kami sekuarga akan mendorong dia untuk juga berkiprah pada kesenian ini………..

Dengan Angklung Menaklukkan Eropa

Maulana M Syuhada bersama 35 temannya menjelajahi berbagai negara di belahan Eropa. Misinya hanya satu: Ekspand the Sound of Angklung (ESA). Memperkenalkan alat musik tradisional Sunda yang bisa membawakan berbagai lagu ini merupakan pekerjaan menantang bagi Maulana.

September 2007, buku tentang pengalaman mereka diluncurkan di Bandung: 40 days in Europe. ”Seusai melakukan penjelajahan budaya ke beberapa negara di Eropa ini, saya menilai, pengalaman ini tidak boleh terhapus oleh waktu. Pengalaman ini sangat berharga,” jelas pria kelahiran Bandung, 14 Juni 1977, ini.

Mereka telah berkelana di Eropa pada 22 Juli 2004-30 Agustus 2004. Misi mereka awalnya hanya untuk mengikuti Aberdeen International Youth Festival, salah satu even budaya terbesar di Skotlandia. Peserta festival ini bukan hanya kelompok seniman dari Skotlandia, tapi hampir seluruh kelompok seniman dunia.

Tapi, ibarat pepatah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, alumnus SMA Negeri 3 Bandung angkatan 1996 ini bertekad upaya melanglang buana mengenalkan angklung tak cukup hanya berlabuh di Skotlandia. Sebagai pimpinan rombongan, Maulana bersusah-payah mencari tahu berbagai festival dan even budaya yang digelar di berbagai negara Eropa dalam kurun waktu yang tak jauh berbeda.

”Festival dan konser itu dicari selama satu tahun. Lalu di set up. Selama mencari berbagai even dan festival itu, saya harus bolak-balik Paris, Berlin, Brussel, dan mencari berbagai festival melalui internet, telepon, maupun kopi darat,” tutur jebolan program Master (S2) Manajemen Produksi Technische Universitaet Hamburg, Jerman. Alhasil, dua festival lain bisa diikuti oleh tim ESA pimpinan Maulana ini. Yaitu, International Festival of Highland Folklore di Zakopane, Polandia, dan International Folklore Festival di Kostelec, Republik Czech.

Berbagai pertunjukan ‘gratisan’ juga digelar ESA di berbagai negara dan kota, mulai dari Bremen, Berlin, Muenchen, Paris, Frankfurt, Hamburg, hingga Brussels. Dalam setiap pertunjukan, Maulana dan tim ESA sering menampilkan lagu-lagu daerah dan keroncong. ”Penampilan angklung dengan membawakan lagu-lagu klasik, seperti karya Bach dan lagu-lagu opera seperti Opera Carmen, cukup mendapatkan apresiasi hangat dari para penonton,” jelas kandidat PhD Ilmu Manajemen Lancaster University Management School, Inggris, itu.

Hampir di setiap pertunjukan, penonton bahkan juga juri memberikan standing applaus. Tidak hanya itu, berbagai penghargaan pun diraih ESA dan tentu saja Maulana. ESA meraih juara pertama di festival mendapat di Kostelec, Republik Czech.

Di festival Zakopane, Polandia, selain meraih juara pertama, mereka juga mendapat penghargaan tertinggi, yaitu Ciupaga. Padahal, di festival itu Maulana dan ESA hanya berstatus sebagai bintang tamu. Sebenarnya, Maulana dan kelompok ESA tidak berhak ikut dalam kompetisi folklor karena tidak mewakili jenis kebudayaan folklor dataran tinggi. Tetapi, lantaran performa ESA dinilai sangat berkualitas, tim juri akhirnya tetap memutuskan penghargaan tertinggi itu berhak diraih ESA dan Maulana.

Aktualisasi Diri
Sebelumnya, Maulana adalah peranakan Sunda yang tak begitu mengenal angklung. Perkenalannya dengan angklung terjadi saat mengikuti orientasi siswa baru di SMAN 3 Bandung. Saat itu, kata dia, Keluarga Paduan Angklung SMAN 3 (KPA 3) membawakan soundtrack film McGyver yang saat itu tengah ngetren.

”Ternyata, angklung itu alat musik tradisional yang bisa digunakan untuk membawakan lagu-lagu Top 40, bahkan soundtrack Mcgyver,” kenang mantan Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli dan Sarjana Indonesia di Jerman (IASI) ini. Hingga lulus dari SMAN 3 Bandung dan belajar di Teknik Industri ITB, Maulana belum juga memainkan angklung. Alat musik bambu itu baru ia pelajari justru saat dirinya belajar di Jerman, tepatnya di Hamburg University of Technology, pada 2001.

Maulana memainkan angklung dengan segala keterbatasannya, mulai dari sarana hingga personel. Dia dan rekan-rekan mahasiswa yang sama-sama berasal dari Indonesia, hanya memainkan angklung pada saat digelar International Student Evening.

Sambutan dari para penonton saat dia dan kelompok mahasiswa Indonesia bermain angklung sangat luar biasa. Bahkan, para penonton terlihat begitu antusias. Atas kepuasan penonton itulah, Maulana mengaku bahwa angklung menjadi semacam bentuk aktualisasi dirinya. Lewat angklung pula, ia merasakan pencitraan positif tentang Indonesia. ”Faktor ini yang menyebabkan saya tidak berhenti bermain angklung,” jelas alumnus Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah, Garut, Jawa Barat, ini.

Dengan segala ketekunannya, Maulana menghimpun rekan-rekannya untuk serius mempelajari angklung. Maulana dan rekan-rekannya pun mendirikan Angklung Orchester Hamburg pada 2002. Kini, kata dia, terdapat puluhan anggota Angklung Orchester Hamburg yang berasal dari 10 negara, yaitu Meksiko, Venezuela, Vietnam, Thailand, Ethopia, Elsavador, India, Austria, Rusia, dan Jerman.

Mengambil program doktoral di Inggris, Maulana tetap bermain angklung. Di Lancaster University Management School, Inggris, kata dia, pesertanya, 100 persen orang Inggris. Maulana yakin bahwa mengenalkan angklung di luar negeri merupakan upaya yang sangat efektif untuk diplomasi, khususnya dalam bentuk pencitraan. ”Lewat seni, Indonesia memiliki nilai yang sangat tinggi,” tegasnya.

Bersama 35 orang, Maulana telah menundukkan Eropa. Senjata mereka angklung. ”Ini merupakan pengalaman yang luar biasa,” kata mantan presiden Angklung Orchester Hamburg, Jerman, itu.

Sumber : www.republika.co.id

Tentang djadja

Seorang hamba Allah, ayah, suami, kepala rumah tangga (Commander In Chief), praktisi pendidikan, manajemen dan telematika yang mencoba merunduk di ladang ibadah
Pos ini dipublikasikan di Anak, Keluarga, Lagu, Pribadi dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s