Ibadah Haji: Niat, Kuat dan Sempat

Saat ini banyak orang tua,  saudara, teman dan handai taulan kita dari Indonesia sedang menjalankan ibadah haji…Mereka semua terpilih dari ratusan juta umat muslim negeri ini yang alhamdulillah telah dikarunia oleh Allah SWT dengan tiga hal yaitu :  Niat, Kuat dan Sempat. Sering kali 3 hal tersebut diungkapkan bapak pada saat beliau diminta untuk menyampaikan Tausiah Haji pada beberapa kesempatan mengutip ungkapan dari KH. Sulaeman Faruq.

Begitu pentingkah 3 hal tersebut diatas?  Coba kita analisis satu-persatu:

  1. Niat:

    • Hal ini mejadi “causa prima” dari segala amal yang dperbuat umat manusia…tanpanya suatu pekerjaan tidak akan punya “mind map” yang jelas.

    • Dalam buku  berjudul “Fiqih Niat”, Penulis: Dr Umar Sulaiman Al-Asyqar dan Penerjemah: Faisal Saleh, Lc diungkapkan bahwa : Nabi bersabda, ”Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang memperoleh apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena dunia, ia mendapatkannya, atau karena wanita, ia menikahinya. Hijrah itu sesuai yang dia inginkan.” Abu Dawud berkata, ”Hadisinnamal a’maalu binniyat — ini setengah dari Islam, karena agama itu terdiri dari aspek lahir, yaitu amal, dan aspek batin, yaitu niat.” Hadis di atas menunjukkan urgensi niat. Niat merupakan salah satu hal terpenting dalam kehidupan seorang Muslim, dan menentukan apakah amal kita akan diterima atau tidak. Para ulama meyakini bahwa amal batin lebih utama dari amal lahir. Dan niat orang-orang beriman lebih baik dari amalnya.Begitu pentingnya niat, tak heran kalau pembahasan niat merupakan bahasan pertama dan utama yang dipaparkan oleh para ulama, terutama dalam kajian fikih. Niat juga diibaratkan sebagai posisi akar dari suatu batang, cabang, dan dahan pohon. Maka, bagaimanakah kondisi suatu jasad jika dicabut ruh? Dan bagaimana juga kondisi suatu pohon jika dicabut akarnya?

  2. Kuat (Mampu):

    • Ibadah haji diwajibkan bagi mereka yang mampu pergi ke Tanah Suci untuk mengerjakannya. Mampu di sini maksudnya mampu biaya, mampu fisik dan mampu memahami tata cara melaksanakan haji dengan baik dan benar. Dengan demikian, diharapkan predikat haji mabrur bisa diraih. Dari tanya jawab Pesantren Virtual disebutkan bahwa Ayat 97 surah Ali Imran menjelaskan :”mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup melakukan perjalanan ke Baitullah” Syarat wajib haji adalah mampu “istitha’ah” (mampu ), baik secara financial, fisik maupun memenuhi keperluan perjalanan. Mampu secara finansial, artinya mampu membayar biaya perjalanan dan biaya keluarga yang ditinggalkan. Mampu secara fisik artinya tidak sakit parah dan mampu duduk di kendaraan untuk melewati perjalanan jauh.
      Kemampuan perjalanan artinya mampu untuk memenuhi persyaratan perjalanan haji, seperti keperluan transportasi dan imigrasi serta kondisi perjalanan yang aman. Mampu secara financial artinya memiliki biaya tersebut dari dirinya sendiri.
      Orang yang belum memiliki harta tersebut dari dirinya sendiri belum diwajibkan haji. Bahkan kalau ada orang yang memberinya uang agar berangkat haji dia tidak wajib menerimanya karena itu bukan kemampuan dari dirinya sendiri. Namun orang yang memaksakan dirinya agar bisa berangkat haji, padahal ia belum wajib dengan tanpa menimbulkan mudlarat atau kerugian kepada dirinya atau orang lain, sah hajinya dan mendapatkan pahala. Ini mencerminkan kemauannya yang keras dalam memenuhi perintah Allah. Seseorang yang bisa mendapatkan pinjaman untuk membayar biaya haji, termasuk orang yang mampu, namun kemampuannya tidak sempurna. Ia belum wajib haji namun bila ia berangkat haji dengan uang pinjaman tersebut, sah hajinya dan menggugurkan kewajibannya.

    • Dalam keadaan krisis ekonomi seperti sekarang, sepertinya Ibadah Haji menjadi prioritas nomor sekian dari banyak orang. Pengalaman pribadi, ukuran mampu ini menjadi “subyektif” karena pada saat menunaikan haji tahun 1422 H (2001 M)  saya bertemu dengan  seorang bapak dari Indramayu pada ssat melaksanakan Ibadah Jumrah di Mina….cobak simak ceritanya (summarize)….Saya menunaikan ibadah haji karena merasa inilah adalah salah satu tujuan utama hidup….Biaya haji saya kumpulkan dari menjual kebun mangga di Indramayu karena anak-anak sudah berkeluarga…..Dia menjawab dan yakin bahwa setelah kembali dari Ibadah Haji akan menjadi buruh tani dan mengabdikan diri hanya beribadah pada Allah SWT….Kelihatannya “exxagerated”, namun bercermin dari hal yang agak ekstrim ini mungkin kita bisa bercermin dan menghitung “Cash Flow dan Balance Sheet” apakah sudah sampai Nisab untuk melaksanakan Ibadah Haji.

  3. Sempat:

    • Saat ini komponen waktu menjadi penting bagi kita…Semua prioritas didasarkan pada variabel ini. Aktifitas kita dibidang ibadah, pekerjaan, keluarga, pendidikan, kehidupan bermasyarakat dan lain-lain hanya mempunyai kurun waktu 24 jam sehari yang tidak bisa ditambah atau dikurangi……So…Kita hanya bisa melakukan Ibadah Haji bilamana kita “menyempatkan diri” dan punya komitmen untuk melaksanakan ibadah ini…Prioritas perlu dipikirkan sejak awal agar kita Tawaddu dan siap melaksanakan ibadah besar ini….

    • Menurut KH Quraish Shihab, memahami makna ibadah haji membutuhkan pemahaman secara khusus sejarah Nabi Ibrahim dan ajarannya, karena praktek-praktek ritual ibadah ini dikaitkan dengan pengalaman-pengalaman yang dialami Nabi Ibrahim as. bersama keluarga beliau. Ibrahim as. dikenal sebagai “Bapak para Nabi”, juga “Bapak monotheisme,” serta “proklamator keadilan Ilahi” kepada beliaulah merujuk agama-agama samawi terbesar selama ini. Demikian sebagian kecil dari keistimewaan Nabi Ibrahim, sehingga wajar jika beliau dijadikan teladan seluruh manusia,seperti ditegaskan al-Qur’an surah al-Baqarah 2:127. Keteladanan tersebut antara lain diwujudkan dalam bentuk ibadah haji dengan berkunjung ke Makkah, karena beliaulah bersama putranya Ismail yang membangun (kembali) fondasi-fondasi Ka’bah (QS. al-Baqarah 2:127), dan beliau pulalah yang diperintahkan untuk mengumandangkan syari’at haji(QS. al-Haj 22:27). Keteladanan yang diwujudkan dalam bentukibadah tersebut dan yang praktek-praktek ritualnya berkaitan dengan peristiwa yang beliau dan keluarga alami, padahakikataya merupakan penegasan kembali dari setiap jamaahhaji, tentang keterikatannya dengan prinsip-prinsip keyakinanyang dianut Ibrahim, yang intinya adalah,

      • Pengakuan Keesaan Tuhan, serta penolakan terhadap segala macam dan bentuk kemusyrikan baik berupa patung-patung, bintang, bulan dan matahari bahkan segala sesuatu selain dari Allah swt.

      • Keyakinan tentang adanya neraca keadilan Tuhan dalam kehidupan ini, yang puncaknya akan diperoleh setiap makhluk pada hari kebangkitan kelak.

      • Keyakinan tentang kemanusiaan yang bersifat universal, tiada perbedaan dalam kemanusiaan seseorang dengan lainnya, betapa pun terdapat perbedaan antar mereka dalam hal-hal lainnya.

Pada beberapa kesempatan lain, bapak sering menegaskan juga perlunya menyatukan 3 (tiga) hal diatas yaitu Niat, Kuat dan Sempat agar kita dapat melaksanakan Ibadah Haji……Tanpa satu komponen itu maka Ibadah Haji kita akan tertunda dan untuk menyatukannnya kembali butuh waktu dan tekad yang kuat……

 

Tentang djadja

Seorang hamba Allah, ayah, suami, kepala rumah tangga (Commander In Chief), praktisi pendidikan, manajemen dan telematika yang mencoba merunduk di ladang ibadah
Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Ibadah, Islam, Keluarga, Pemikiran, Pribadi dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Ibadah Haji: Niat, Kuat dan Sempat

  1. Itmam Aulia berkata:

    salam,
    info yang bagus, syukron!

  2. stainless tanks berkata:

    minta info jama’ah haji th ini dong??

  3. Ping balik: Abdurrahman As-Sudais: Imam Besar Masjidil Haram dan Doa Seorang Ibu | Rumahku Di Dunia Maya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s