Renungan Menjelang Hari Ibu: Surga Ada Di Telapak Kaki Ibu

Tanggal 22 Desember akan diperingati sebagai “Hari Ibu”….. Mungkin peringatan itu tidak sebanding dengan jasa-jasa ibu terhadap kita…..Peringatan itu seolah-olah sedikit memberi pencerahan dan penisbahan dari keinginan kita untuk membalas kebaikan seorang ibu….

Walapun saya seorang ayah, benar adanya bahwa Kasih Ibu Sepanjang Kalbu”. Tak dipungkiri ikatan batin, kasih sayang, indra ke enam, telepati, supra natural dan “emotional binding” lainnya ada antara seorang ibu dan anaknya……Saya pribadi yang sudah berumur lebih dari empat dasa warsa masih merasakan ikatan emosional dengan ibu yang sangat intense….Sebagai contoh, tiap pulang dari Jakarta beliau masih menelpon saya untuk menanyakan hal-hal “nitty gritty” namun sangat dalam seperti menanyakan kesehatan, pekerjaan bahkan sholat saya ….Dan pada senin shubuh sebelum berangkat kerja ke Jakarta beliapun masih menyempatkan untuk menelpon serta mendoakan dan mendorong kepergian saya itu. Belum lagi keterlibatan beliau pada momen spesial lainnya yang menjadikannya seseorang yang mengganjilkan dan menggenapkan.
Alangkah bahagianya kaum ibu yang selalu berusaha untuk memperoleh “Oscar” dalam perannya membimbing dan mengiringi hidup putra-putrinya…. Betapa bersyukurnya anak yang sholeh medapatkan ibunya termasuk dalam figur Ibu yang sholeh seperti istrinya Imran yang Memiliki Visi Pendidikan untuk Mengabdi kepada Allah, atau seperti ibunya Nabi Musa yang Memiliki Keyakinan Kuat terhadap Janji Allah, atau

istrinya Fir’aun yang Penuh Suka Cita dalam Mendidik, dan masih banyak lagi ibu teladan dalam Al-Qur’an.Menjelang Hari Ibu, saya sampaikan hormat dan takzim bagi ibu , istri dan calon ibu yang selalu bangga dan sadar atas fungsinya menjadi pilar sebuah keluarga yang “Sakinah Mawaddah Wa Rahmah”…..Amin Ya Robbal Alamin….

Sejarah Hari Ibu di Indonesia (dikutip dari Wikipedia)

Sejarah Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Konggres Perempuan Indonesia I pada 2225 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung yang kemudian dikenal sebagai Mandalabhakti Wanitatama di Jalan Adisucipto. Dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Organisasi perempuan sendiri sudah ada sejak 1912, diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain.

Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara; pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan; pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa; perdagangan anak-anak dan kaum perempuan; perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita; pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan jender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa.

Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Peringatan 25 tahun Hari Ibu pada tahun 1953 dirayakan meriah di tak kurang dari 85 kota Indonesia, mulai dari Meulaboh sampai Ternate.

Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini.

Misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Dari situ pula tercermin semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama. Di Solo, misalnya, 25 tahun Hari Ibu dirayakan dengan membuat pasar amal yang hasilnya untuk membiayai Yayasan Kesejahteraan Buruh Wanita dan beasiswa untuk anak-anak perempuan. Pada waktu itu panitia Hari Ibu Solo juga mengadakan rapat umum yang mengeluarkan resolusi meminta pemerintah melakukan pengendalian harga, khususnya bahan-bahan makanan pokok. Pada tahun 1950-an, peringatan Hari Ibu mengambil bentuk pawai dan rapat umum yang menyuarakan kepentingan kaum perempuan secara langsung.

Satu momen penting bagi para wanita adalah untuk pertama kalinya wanita menjadi menteri adalah Maria Ulfah di tahun 1950. Sebelum kemerdekaan Kongres Perempuan ikut terlibat dalam pergerakan internasional dan perjuangan kemerdekaan itu sendiri. Tahun 1973 Kowani menjadi anggota penuh International Council of Women (ICW). ICW berkedudukan sebagai dewan konsultatif kategori satu terhadap Perserikatan Bangsa-bangsa.

Kini, Hari Ibu di Indonesia diperingati untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu, memuji ke-ibu-an para ibu. Berbagai kegiatan pada peringatan itu merupakan kado istimewa, penyuntingan bunga, pesta kejutan bagi para ibu, aneka lomba masak dan berkebaya, atau membebaskan para ibu dari beban kegiatan domestik sehari-hari.

[sunting] Mother’s day

Peringatan Mother’s Day di sebagian negara Eropa dan Timur Tengah, yang mendapat pengaruh dari kebiasaan memuja Dewi Rhea, istri Dewa Kronus, dan ibu para dewa dalam sejarah Yunani kuno. Maka, di negara-negara tersebut, peringatan Mother’s Day jatuh pada bulan Maret.

Di Amerika Serikat dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hongkong, peringatan Mother’s Day jatuh pada hari Minggu kedua bulan Mei karena pada tanggal itu pada tahun 1870 aktivis sosial Julia Ward Howe mencanangkan pentingnya perempuan bersatu melawan perang saudara.

Iklan

Tentang djadja

Seorang hamba Allah, ayah, suami, kepala rumah tangga (Commander In Chief), praktisi pendidikan, manajemen dan telematika yang mencoba merunduk di ladang ibadah
Pos ini dipublikasikan di Pemikiran, Pribadi dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s