Warisan apa yang akan kita tinggalkan untuk anak cucu pada tahun 2070????

Warisan apa yang akan kita tinggalkan untuk anak cucu pada tahun 2070????

Tentang djadja

Seorang hamba Allah, ayah, suami, kepala rumah tangga (Commander In Chief), praktisi pendidikan, manajemen dan telematika yang mencoba merunduk di ladang ibadah
Pos ini dipublikasikan di Anak, Lingkungan, Pemikiran, Pribadi dan tag , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Warisan apa yang akan kita tinggalkan untuk anak cucu pada tahun 2070????

  1. suherman berkata:

    Pa Djadja, 2070 rasanya terlalu lama. Saya ingin berbagi tulisan

    Kontemplasi dalam membangun indonesia.
    Para peneliti, para pemerhati, para akademisi, para pelaku dan para pemegang otoritas pendidikan baik kelompok masyarakat, pemerintahan maupun negara, hampir semua bersepakat bahwa Entrepreneurship adalah argumen yang tepat untuk ditindak lanjuti dengan pencarian tindakan obyektifnya, agar problematika tentang pengangguran terdidik (dan penganggur terbuka lainnya) yang berdampak pada masalah kesejahteraan masyarakat- bangsa, tidak lagi menguras pemikiran-perhatian yang selama ini tidak pernah kunjung selesai.
    Hampir tidak pernah terbayangkan oleh siapapun selama ini, bahwa para penganggur terdidik (min berpendidikan D3) adalah sangat berpotensi untuk mereka mampu berperan langsung dalam mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan.
    Selama ini seakan telah diklaim bahwa hak dan keberperanan mendapatkan solusi, hanya ada pada mereka dari orang-orang yang punya kekuasaan, punya kepakaran dan punya kekayaan finansial, saja yang mampu mencoba mengatasinya.
    Obyektifitas lain yang terkubur karena terbangun kuatnya paradigma traditional tadi dalam pencarian solusi pengentasan pengangguran-kemiskinan, menggambarkan terbaliknya peran negara yang seharusnya juga berciri pada sifat dan karakter sebagai katalisator sekaligus fasilitator, ternyata dalam penerapannya justru peran itu dilakukan oleh kebanyakan masyarakat yang sudah mengemban sifat mediatr dan inspirator.
    Wajarlah jika kewenangan kekuasaan pemerintah hampir selalu saja dijadikan sebagai institusi penangung jawab atas kegagalan tercapainya keberhasilan atas tata laksana solusi penanggulangannya, padahal adalah sepatutnya justru kebersamaan dan kesetaraan dari pemerintah dan anggota masyarakatlah yang seharusnya berperan aktif dan bertanggung jawab secara seimbang sesuai dengan peran masing masing.
    Sudah cukup banyak klaim solusi dari mereka yang katanya berhasil dalam upaya terkait dengan pengangguran dengan solusi entrepreneurshipnya, namun ternyata tidak ada satupun klaim solusinya yang bisa aplikatif menjawab pertanyaan dari makna solusi itu sendiri, yaitu :
    Apa ukuran, bentuk dan wujud kongkrit atas keberhasilan pengentasan pengangguran dan kemiskinan yang mereka klaim sebagai proposal solusi dari masing masing pembuat solusi.
    Jika seseorang senang dengan ke AKU an dirinya dan tidak mau terbuka untuk berbagi atas pencarian solusi aspiratif dalam upaya pengentasan pengangguran dan kemiskinan, maka saya pastikan kemubaziran pasti akan datang kembali menimpa kita. Dan apakah hal tersebut memang yang disukai ?
    Terhadap siapapun kita yang termotivasi ingin adanya perubahan dan sekaligus memiliki komitmen untuk membangun bangsa berbasis pada kesetiakawanan untuk kebangkitan para penganggur terdidik, upaya pencarian sekaligus penetapan akan adanya solusi aspiratif terkait, harus terus diperjuangkan sesegera mungkin (apalagi jika anda sempat membaca tulisan ini), tanpa menunggu atau terpengaruh oleh sikap skeptis dan sinis dari mereka-mereka penganut solusi tanpa solusi.
    Perguruan Tinggi sebagai institusi formal dalam pencetakan para sarjananya, hampir semuanya tidak memiliki kepentingan/ kepedulian bahkan hampir tidak bertanggung jawab bagi keberhasilan atau belum berhasilnya mereka para alumninya, baik dalam memperoleh atau menciptakan pekerjaan ataupun dalam melakukan kegiatan/ kehidupan apapun lainnya.
    Ada terdapat beberapa Perguruan Tinggi yang melaksanakan pembentukan Entrepereneur bagi sarjana lulusannya, dimana melalui program khusus untuk para mahasiswanya dinyatakan bahwa mereka para alumninya pasti akan berhasil tampil menjadi pengusaha-pengusaha yang sukses.
    Visi perguruan tinggi tersebut sepantasnya perlu mendapat apresiasi dari siapapun, khususnya kita yang peduli pendidikan.
    Namun ada pertanyaan logis yang pantas dikemukakan atas pernyataan perguruan tinggi tersebut, yaitu :
    Apakah hanya seseorang atau orang orang yang berkemampuan saja (cerdas, ada fasilitas kemudahan dan berkecukupan materi) yang bisa memperoleh fasilitas tersebut dan Jaminan seperti apa yang menyatakan bahwa mereka akan mampu berhasil sukses, baik untuk dirinya, untuk orang lain maupun untuk bangsanya.
    Alangkah efektifnya, jika untuk sebuah upaya keberhasilan pemberdayaan para pengangur terdidik yang berkualitas, siapapun para pelaku bisnis/ usaha dibidang pendidikan/ perguruan tinggi dan para stakeholder lainnya, selain menetapkan entrepreneurship sebagai pilihan yang ber NilaiGuna, juga menetapkan penggunaan Solusi Aspiratif yang universal, sebagai basis untuk mencapai keberhasilan pemberdayaan para penganggur terdidik dan sekaligus menetapkan pembentukan sebuah wadah yang terstruktur-nonpartisan-nonprofit-akomodatif. Wadah yang mampu mengakomodir misi tersebut sepatutnya harus terlahir dan berdiri, karena wadah tersebut juga merupakan :

    * Sarana yang tepat dan aspiratif, bagi para penganggur terdidik dan calon sarjana termotivasi termasuk para karyawan terdidik yang termotivasi atau memiliki etos perubahan, guna mereka membentuk diri / dibentuk menjadi pengusaha-pengusaha paradigma baru melalui mekanisme insentif yang aspiratif melalui program pemberdayaan yang berkesinambungan-berkelanjutan
    * Sarana yang mampu mengakomodir program pemeliharaan atas arti sebuah persaudaraan- kesetiakawanan- kedermawanan berbasis pada ukuran-ukuran kepatutan, yang dalam implementasi – aplikasinya akan mampu mendukung upaya peningkatan kesejahteraan bangsa.
    * Sarana yang diperlukan oleh lembaga/ badan perguruan tinggi untuk adanya jaminan kepastian berkegiatan/ berusaha bagi alumnusnya yang termotivasi untuk tidak berkeinginan menjadi pegawai/ birokrat, dan sekaligus peluang bagi para dosen/ pengajar/ tenaga ahlinya guna dapat mengisi kesempatan berapresiasi yang tersedia di wadah tersebut sesuai kompetensinya.

    Janganlah kita kembali menggunakan solusi-solusi lama yang jelas-jelas hanya menghasilkan kemubaziran dan jangan pula kita mengunakan solusi lainnya yang jelas jelas bersifat subyektif.

    TERCIPTANYA RIBUAN KELOMPOK USAHA DENGAN PENGELOLAAN OLEH 326.400 PENGUSAHA PARADIGMA BARU dan 9.302.400 PEKERJA TETAP, AKAN TERJADI PADA 16 TAHUN SETELAH SEMUA PENDIRI SOLIDARITAS MEMBUAT AJAKAN KEDERMAWANAN TERUKUR PERTAMANYA.

  2. suherman berkata:

    Pa Djadja yth, 2070, kok lama sekali? dengan Teori Kedermawanan yang saya tulis dalam buku Solusi Solidaritas ;

    “Siapapun kita, selaku seorang Dermawan yang berkemampuan, sepatutnya pastilah kita akan suka cita menerima ajakan kebajikan yang tidak merepotkan-tidak memberatkan-tidak disalah gunakan, apalagi ajakan tersebut datangnya dari Ibu-Ayah kita tercinta, atau dari Suami/ Istri kita terkasih, atau dari Anak anak tersayang kita, atau dari orang orang dekat lainnya (kakak-adik terdekat kita, atau dari kekasih-sahabat terpilih kita, atau dari atasan- guru-saudara/ kerabat lain )”.
    inilah yang menjiwai dalam dinamika proses keberhasilan bagi lahir-berdiri-hidupnya paradigma sebuah Solidaritas.
    Ukuran keberhasilan dari aktualisasinya adalah,

    TERCIPTANYA RIBUAN KELOMPOK USAHA DENGAN PENGELOLAAN OLEH 326.400 PENGUSAHA PARADIGMA BARU (penganggur terdidik yang berhasil diberdayakan) DAN 9.302.400 PEKERJA TETAP, AKAN TERJADI PADA 16 TAHUN SETELAH SEMUA PENDIRI SOLIDARITAS MEMBUAT AJAKAN KEDERMAWANAN TERUKUR PERTAMANYA.
    Salam.

  3. Ping balik: Anakku, engkau bukan hanya gabungan DNA dari kami | Rumahku Di Dunia Maya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s