Kabayan: Sang Jenius Dari Parahyangan

Sering kali tokoh Kabayan digambarkan sebagai “outlaw”, anti kemapanan, agak porno namun jenius. Menurut Drs. Memen Durachman, M.Hum., cerita Si Kabayan tidak dapat disangkal lagi dikenal sebagai salah satu cerita jenaka (cerita humor) di dunia yang ‘abadi’. Sejajar dengan itu adalah cerita Nasrudin Hoja dan Cerita Abu Nawas. Dua cerita terakhir sudah sangat dikenal luas di dunia, sementara Cerita Si Kabayan sedang dalam proses mendunia. Kedua cerita terakhir sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Akan tetapi, Cerita Si Kabayan baru diterjemahkan ke dalah bahasa Inggris oleh Magareth Muth Alibasah (1975).

Cerita Nasrudin Hoja dan Cerita Si Kabayan sama-sama memiliki cerita yang bermotif pencarian ketuhanan. Motif cerita tersebut tentu dikemukakan dengan cara yang jenaka pada kedua cerita tersebut.

Di Nusantara, Cerita Si Kabayan termasuk cerita yang benar-benar dapat bertahan dalam gempuran media populer saat ini. Bahkan melalui media TV Cerita Si Kabayan melanggerkan keabadiaannya. Pada tahun terakhir ini (2012) Cerita Si Kabayan disiarkan dalam stasiun televisi Indosiar degan Judul Si Kabayan Anak Betawi. Cerita Si Kabayan ini sangat unik bila dibandingkan dengan Cerita-cerita Si Kabayan sebelumnya. Pertama, cerita ini berlatar masyarakat Betawi yang plural. Sementara Cerita-cerita Si Kabayan yang ada sebelumnya dan selama ini umumnya berlatar di tanah Priangan. Kedua, tokoh utama Si Kabayan dalam cerita ini adalah tokoh anak kecil dengan kejenakaan dan ‘kesaktiannya’. Sementara dalam Cerita Si Kabayan yang lain sebelumnya (cerita lisan, komik, sandiwara, maupun film) umumnya Si Kabayan digambarkan sudah dewasa. Ini kasus yang menarik.

Cerita-cerita jenaka lainnya di Nusantara umumnya sudah mulai memudar, bahkan beberapa sudah ‘mati’. Cerita-cerita tersebut hanya menjadi objek studi para peneliti (Radzi, 2000). Misalnya cerita Joko Bodo di Jawa dan cerita jenaka lainnya seperti Pak Belalang dan lainnya di tanah Melayu.

Mungkin itulah sebabnya Snouk Hourgronye (1997) pada abad ke 19 menyatakan bahwa Cerita Si Kabayan menjadi semacam pusat siklus cerita-cerita jenaka di Nusantara. Pada masa itu ia tidak meramalkan Cerita Si Kabayan akan menjadi cerita jenaka yang abadi di Nusantara, bahkan di dunia.

Keabadian Cerita Si Kabayan itu tampak pada bentuk-bentuk “pengaliwacanaan” atau transformasi ke dalam tradisi tulis, maupun ke dalam tradisi kelisanan kedua seperti pada drama dan film. Tokoh Si Kabayan sendiri demikian terkenalnya sehingga menjadi judul acara Si Kabayan Nyintreuk (STV) atau bahkan menjadi merek dagang beberapa rumah makan di tanah Priangan dan di Jakarta.

Drs. Memen Durachman, M.Hum. mengakhirinya dengan pertanyaan: Masalahnya sekarang adalah mengapa Cerita Si Kabayan ‘abadi’? Akankah keabadian itu ‘sempurna’ di tengah gempuran arus globalisasi?

Tentang djadja

Seorang hamba Allah, ayah, suami, kepala rumah tangga (Commander In Chief), praktisi pendidikan, manajemen dan telematika yang mencoba merunduk di ladang ibadah
Pos ini dipublikasikan di Anak, Bandung, Buku, Filosofi, Kebijakan, Keluarga, Pendidikan, Sunda, Tokoh dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kabayan: Sang Jenius Dari Parahyangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s