Indonesia & Mesir: Sahabat Lama Yang Selalu Setia & Seia Sekata

Hubungan Indonesia & Mesir

Mesir merupakan salah satu negara terkemuka dan pertama yang memberikan pengakuan terhadap kemerdekaan Republik Indonesia pada 18 November 1946. Kurang dari setahun kemudian,  secara resmi kedua negara membuka hubungan diplomatik melalui penandatanganan Perjanjian Persahabatan (Treaty of Friendship and Cordiality), yang kemudian dilanjutkan dengan pembukaan perwakilan RI di Cairo pada 1949.

Sejak menjalin hubungan diplomatik, kedua negara senantiasa menjaga hubungan yang baik dan erat secara politis. Hubungan yang baik dan akrab tersebut ditandai antara lain dengan intensitas kunjungan pejabat antara kedua negara, kesamaan pandangan dalam berbagai isu internasional dan regional yang menjadi perhatian bersama, dan koordinasi serta saling dukung dalam pencalonan masing-masing di berbagai organisasi dan forum internasional.

Hubungan diplomatik Indonesia – Mesir sendiri dimulai pada tanggal 10 Juni 1947 setelah ditandatangani perjanjian persahabatan antara Menteri Luar Negeri Indonesia, H. Agus Salim dan Perdana Menteri Mesir, Mr. Fahmy El Nouikrasyi. Dua bulan kemudian berdiri Kantor Perwakilan Indonesia di Mesir dengan HM Rasyidi sebagai kuasa usaha. Pada tanggal 25 Februari 1950 kantor itu ditingkatkan menjadi Kedutaan Besar Republik Indonesia dengan HM Rasyidi sebagai duta besar pertama. Sampai sekarang Pemerintah Indonesia telah menempatkan 18 duta besar luar biasa dan berkuasa penuh di Mesir.

Sahabat Lama Yang Selalu Setia & Seia Sekata

Kairo, 10 April 1947. Seorang petugas imigrasi bertubuh tinggi tegap dengan kumis melintang menghadang empat pria berpakaian kumal, bersandal-sepatu lusuh yang memasuki pintu bandara. Petugas itu mengerenyitkan dahinya saat memeriksa paspor yang disodorkan empat pria tadi. Heran. Paspor yang diserahkan tak berbentuk buku kecil sebagaimana umumnya melainkan secarik kertas lecek dengan sejumlah keterangan kalau empat pria itu datang dari sebuah Republik bernama Indonesia.

Belum habis rasa heran petugas itu, salah seorang yang bertubuh kecil, berkumis dan mengenakan kopiah meluncurkan keterangan, “Mision diplomatique, dari Indonesia, sebuah negara baru di Asia,” katanya. Lelaki tua itu adalah Haji Agus Salim, the grand old man Republik Indonesia, Menteri Muda Luar Negeri sekaligus pemimpin delegasi.

Tapi keterangan Agus Salim hanya ditanggapi kerutan kening, kepala miring dan bahu yang diangkat, tanda kebingungan yang belum tuntas. Matanya masih menatap keempat orang tadi. Sejurus kemudian dia bertanya, “Are you Moslem?” “Yes” jawab mereka berempat serentak, kemudian mereka saling bertatapan dan sontak menertawai tingkah mereka sendiri. “Well, then, Ahlan wa Sahlan, Welcome!” saut petugas yang sedari tadi bertampang dingin.

Tanpa panjang urusan lagi, keempat pria delegasi Indonesia yang terdiri dari Haji Agus Salim, AR Baswedan, Mr. Nazir Pamoentjak dan Rasjidi (kemudian menjadi Prof. Dr) melenggang menuju ruang tunggu di mana sejumlah mahasiswa Indonesia dan Sekjen Liga Arab Azzam Pasha telah menunggu kedatangan mereka.

Perjalanan ke Mesir tersebut merupakan kunjungan balasan dari pihak Indonesia setelah sebelumnya Muhammad Abdul Mun’im, Konsul Jenderal Mesir di Bombay (sekarang Mumbay, India) datang ke Yogyakarta pada 13–16 Maret 1947. Menurut AR Baswedan dalam artikelnya di buku Seratus Tahun Agus Salim mengisahkan kunjungan Mun’im itu untuk mewakili negerinya dan membawa pesan dari Liga Arab yang mendukung kemerdekaan Indonesia. Mun’im datang ditemani Ketut Tantri (Muriel Pearson), perempuan Amerika yang banyak membantu perjuangan rakyat Indonesia di masa revolusi.

Pada 15 Maret 1947, bertepatan dengan ulang tahun kemerdekaan Mesir yang ke-23, demikian AR Baswedan mencatat, “Mun’im menghadap Presiden Sukarno (untuk) menyampaikan pesan-pesan dari Liga Arab,” kata dia pada tulisan yang sama. Pesan itu merupakan hasil keputusan sidang Dewan Liga Arab yang diselenggarakan pada 18 November 1946 yang menganjurkan seluruh anggota Liga Arab mengakui kedaulatan Republik Indonesia berdasarkan ikatan keagamaan, persaudaraan serta kekeluargaan.

Sebuah versi menyebutkan solidaritas negara anggota Liga Arab tersebut dimotori oleh gerakan Ikhwanul Muslimin yang berpusat di Mesir. Gerakan persaudaraan muslim tersebut didirikan oleh Hassan Al-Banna, pemikir sekaligus tokoh pembebasan yang getol menentang kolonialisme Inggris di Mesir dan aktif menggalang persaudaraan di kalangan umat muslim.

Mengetahui kedatangan delegasi Indonesia yang disiarkan luas oleh suratkabar Mesir, Duta Besar Belanda di Mesir berupaya keras menggagalkan upaya Haji Agus Salim cum suis untuk menjalin perjanjian persahabatan antara Indonesia dengan Mesir. Dubes Belanda bersikukuh kalau Indonesia itu bukanlah sebuah Republik yang merdeka berdaulat melainkan masih berada di bawah kekuasaan Belanda. Sehingga tindakan politik apapun yang mengatasnamakan Indonesia sebagai sebuah negara tidak Belanda akui, kecuali atas sepengetahuan dan membawa nama pemerintah Belanda.

Padahal delegasi Indonesia memiliki misi menggalang dukungan internasional untuk mengakui kemerdekaannya. Belanda menutup mata atas fakta kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta, 17 Agutus 1945. Belanda bahkan menyebarkan opini bahwa Republik Indonesia yang baru berdiri itu merupakan hasil kolaborasi ekstrimis Republik dengan fasis Jepang. Pada pengujung 1945 pun beredar kabar Bung Karno dan Bung Hatta akan diadili sekutu sebagai penjahat perang.

Dengan kampanye pencitraan negatif oleh Belanda, maka pihak Republik berusaha mengimbanginya dengan mengirimkan misi diplomatik ke berbagai forum internasional dan negara. Sebelum mendarat di Kairo, Mesir, Haji Agus Salim serta delegasi Indonesia terlebih dulu menghadiri Inter-Asian Relation Conference di New Delhi, India, menggalang solidaritas dari negara-negara Asia yang peduli pada perjuangan bangsa Indonesia.

Menurut catatan AR Baswedan, perjanjian persahabatan antara Mesir dengan Indonesia ditandatangani pada 10 Juni 1947. Abdul Mun’im, konsul Mesir di Bombay yang beberapa bulan sebelumnya berkunjung ke Yogyakarta mengantarkan delegasi Indonesia untuk bertemu dengan Perdana Menteri Mesir Nokrashi Pasha yang juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Mesir.

Tepat pukul sembilan pagi seluruh delegasi Indonesia sudah tiba di kantor Kementrian Luar Negeri Mesir. Namun delegasi diminta untuk menunggu di ruang tamu padahal agenda pada jam itu sudah ditetapkan untuk penandatangan persahabatan Indonesia dengan pihak Mesir. Pihak delegasi tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam ruangan Perdana Menteri sampai 30 menit kemudian. “Sesudah setengah jam menunggu, kami melihat Duta Besar Belanda keluar dari kamar PM Nokrashi dengan wajah yang kecut, dan tergesa-gesa,” kenang AR. Baswedan.

Delegasi kemudian dipersilahkan masuk ke ruangan dan mendengar sendiri dari Nokrashi tentang apa yang terjadi antara dia dan Duta Besar Belanda di Mesir. Menurut Nokrashi, pihak Belanda yang diwakili oleh Duta Besarnya protes dan merasa keberatan dengan cara pemerintah Mesir memperlakukan delegasi Indonesia. Duta Besar Belanda mengingatkan Mesir tentang hubungan ekonomi Mesir dengan Belanda. Belanda juga mengancam akan menarik dukungannya terhadap Mesir terkait persoalan Palestina yang dibawa Mesir ke forum PBB.

Perdana Menteri Nokrashi atas nama bangsa Mesir tak gentar sedikit pun. Dia malah memberikan jawaban di luar dugaan Duta Besar Belanda. “Menyesal sekali kami harus menolak protes Tuan, sebab Mesir selaku negara berdaulat, dan sebagai negara yang berdasarkan Islam, tidak bisa tidak mendukung perjuangan bangsa Indonesia yang beragama Islam. Ini adalah tradisi bangsa Mesir dan tidak dapat diabaikan,” kata Nokrashi seperti dikutip oleh AR Baswedan.

Duta Besar Belanda itu pun meninggalkan Perdana Menteri Nokrashi dengan rasa kecewa. Perjanjian persahabatan antara Mesir dengan Indonesia pun berhasil ditandatangani hari itu antara Menteri Muda Luar Negeri Indonesia Haji Agus Salim dengan Nokrashi Pasha dalam kapasitas sebagai Menteri Luar Negeri Mesir. Penandatanganan tersebut disaksikan oleh AR Baswedan selaku Menteri Muda Penerangan Indonesia, Rasjidi dan Dr. Nazir Dt. Pamoentjak dari pihak Indonesia. Abdul Mun’im dan Sekjen Kemlu Mesir Dr. Kamil dari pihak pemerintah Mesir.

Dengan penandatangan perjanjian persahabatan yang sekaligus menandai pengakuan Mesir secara legal terhadap kedaulatan Republik Indonesia itu maka lengkaplah persyaratan formal berdirinya sebuah negara. Secara de facto dan de jure persyaratan pengakuan dari negara lain atas eksistensi Republik Indonesia tercapai dengan kesepakatan tersebut. Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Republik Indonesia.

Hubungan Mesir dengan Indonesia semakin erat ketika Bung Karno menginisiasi gerakan Non-blok, yang menggalang kekuatan dunia ketiga di Asia-Afrika untuk bersama-sama menghalau potensi perang dunia ketiga antara blok barat (Amerika) dengan blok timur (Uni Soviet). Adalah Gammal Abdul Naser, Presiden Mesir yang memiliki hubungan dekat dengan Presiden Sukarno. Penampilan Bung Karno yang selalu berkopiah memberikan kesan tersendiri bagi rakyat Mesir pada zamannya sehingga setiap kali ada warga Indonesia yang berkunjung ke sana dan mengenakan kopiah maka sontak warga Mesir akan menyebut nama “Sukarno!”.

Transisi  Mesir Yang Mubazir

Kini Mesir dilanda huru-hara. Setelah Rakyat membebaskan diri dari kekuasan Hosni Mubarak yang telah duduk di tampuk kekuasaan selama 30 tahun lebih. Apa yang terjadi di sana mengingatkan kita pada apa yang terjadi di Jakarta Mei 1998. Dan Soeharto, yang ditumbangkan pada tahun itu, melakukan kunjungan kenegaraannya terakhir ke Kairo, Mesir. Dari Mesir, Republik Indonesia mengawali jejaknya dan dari Mesir pula rezim kediktatoran Soeharto mengakhiri langkahnya.

Setelah mundurnya Mubarak, Mesir hingga saat ini tengah menjalani masa transisi pemerintahan dan mencari bentuk sistem politik yang baru. Berbagai pihak mengharapkan sistem politik yang demokratis. Baik kekuatan politik liberal/sekular maupun kekuatan politik berbasis agama kini mendapatkan ruang gerak yang jauh lebih luas. Hingga akhir Agustus 2011, setidaknya pemerintahan transisi telah mengesahkan sebanyak 19 partai politik.

Partai Kebebasan dan Keadilan menjadi Pemenang Pemilu Legislatif November 2011 sebesar 47% suara di parlemen. Kemudian diadakan  Pemilu Presiden pasca revolusi Januari 2011 dilaksanakan pada bulan Mei 2012 dan dilaksanakan dua putaran, dimenangkan oleh DR. Mohammad Moursi dengan perolehan suara 51.73%.

Namun demikian, pihak militer Mesir akhirnya  menggulingkan Presiden Mohamed Morsi dari kepemimpinannya. Meski sudah dijatuhkan, Morsi tetap bersikukuh dirinya masih Presiden Mesir yang sah. Morsi meminta kepada warga Mesir agar mau mempertahankan kepemimpinannya. Pasalnya kursi presiden yang ia dapat berasal dari pemilu yang sah.

“Rakyat Mesir agar mau mempertahankan legitimasi ini,” kata Morsi.

Menteri Pertahanan Mesir Abdel Fattah al-Sisi mengumumkan penggulingan Morsi dari kursi kepresidenan. Ketua Mahkamah Konstitusi Mesir ditunjuk untuk menjadi pemimpin sementara hingga pemilu kembali digelar. Sebelumnya, jutaan warga Mesir menuntut Morsi mundur dari jabatannya. Aksi terus berkembang hingga mendapat dukungan militer. Buntutnya, militer pun memberi ultimatum kepada Morsi agar segera mundur. Namun Morsi menolak. Akhirnya pasukan militer dan tank pun merapat ke arah istana presiden hingga membuat Morsi terkepung.

Kini Mesir menanti akan ke mana garis nasib sejarah membawanya.

Apa Yang Bisa Dilakukan Indonesia Untuk Mesir

Dikutip dari REPUBLIKA.CO.ID, Indonesia diharapkan dapat berperan lebih besar dalam politik internasional terutama dalam mendinginkan suasana Mesir saat ini. Hal itu disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri, Muyhidin Junaidi kepada Republika.

“Kami berharap pemerintah bisa bersikap high politic mempengaruhi kelompok negara Islam OKI untuk mendinginkan suasana Mesir selama Ramadhan,” kata Muyhidin, Ahad (28/7).

MUI prihatin jatuhnya korban jiwa di Mesir di tengah umat Islam dunia melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan dan tidak ada satu pun negara muslim yang berinisiatif mendinginkan suasana di Mesir.

“Karena itu kita berharap Indonesia punya peran lebih, karena hubungan Mesir-Indonesia ada hubungan historis yang harus tetap diingat ketika awal kemerdekaan negeri ini,” ujar Muyhidin.

Ia memahami saat ini pemerintah dan mungkin negara-negara Islam lainnya masih wait and see terkait perkembangan politik Mesir. Namun, setelah jatuhnya korban jiwa atas serangan militer, negara Islam harus segera mengambil sikap mendinginkan suasana di Timur Tengah.

Pada kesempatan lain, dikutip dari Detik.com, tindakan kekerasan yang dilakukan militer Mesir terhadap warga pendukung presiden terguling Mohamed Morsi dikecam dunia. Memiliki kedekatan historis, pemerintah Indonesia diminta berperan lebih proaktif untuk membantu penyelesaian konflik Mesir.

“Indonesia memiliki utang sejarah yang begitu besar. Oleh sebab itu, saat inilah yang tepat bagi negara kita untuk membayar lunas utang tersebut,” ujar Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Bachtiar Nasir dalam jumpa pers di AQL Center, Jalan Tebet Utara I, Jakarta Selatan, Senin (29/7/2013).

Menurut Bachtiar, kekerasan yang terjadi di Mesir saat ini merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan, sekaligus pelanggaran HAM berat. Karena itu Bachtiar mengatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono semestinya dapat memainkan perannya lebih besar lagi dalam mempengaruhi pemerintah Mesir saat ini pasca Morsi.

Apalagi menurutnya, dalam sejarah, Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 silam berkat lobi-lobi para tokoh Islam seperti Syekh Amin Al-Husaini (Mufti Palestina), Syekh Hasan Al-Banna (Mursyid Ikhwanul Muslimin), dan Abdurrahman Azzam Pasya (Sekjen Liga Arab). Lobi-lobi itu dilakukan pada saat banyak negara barat hanya mengakui kemerdekaan RI versi Belanda yaitu paska Konferensi Meja Bundar (KMB).

Sementara Ketua Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (KISPA) Ferry Nur menambahkan pemerintah RI harus proaktif dalam percaturan dunia internasional untuk menghentikan upaya pembunuhan yang dilakukan militer Mesir.

“Kita mendorong dilakukan lobi-lobi tingkat tinggi misalkan ke opsi Liga Arab agar mereka memantapkan lembaga tersebut melakukan penekanan kepada rezim kudeta agar tidak melakukan kejahatan lagi dengan pembunuhan kepada masyarakat sipil yag tidak bersenjata,” tuturnya.

Peran aktif pemerintah lainnya yang bisa dilakukan menurut Ferry seperti mengirimkan delegasi ke Mesir untuk menyampaikan aspirasi masyarakat Indonesia. Diantara yang dapat dikunjungi oleh delegasi ini adalah Grand Syeikh Al Azhar karena kehadirannya dalam pertemuan mendukung kudeta terhadap Morsi.

“Kami juga menyerukan alumni-alumni Al-Azhar untuk bergerak cepat mengambil sikap bagaimana pembunuhan oleh militer ini tidak lagi berlanjut,” tuturnya.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=DRIch247vb8]

Iklan

Tentang djadja

Seorang hamba Allah, ayah, suami, kepala rumah tangga (Commander In Chief), praktisi pendidikan, manajemen dan telematika yang mencoba merunduk di ladang ibadah
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Indonesia & Mesir: Sahabat Lama Yang Selalu Setia & Seia Sekata

  1. eko harsono berkata:

    Semoga presiden kita lebih berani bersuara dan bertindak atas kudeta yg dilakukan militer atas pemerintahan presiden Mursi yang sah hasil demokrasi

    • djadja berkata:

      Semoga kita menghayati arti sebuah persahabatan…Betapapun kecilnya bantuan dan perhatian yang kita berikan……Sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan dorongan 🙂

  2. Ping balik: Indonesia & Mesir: Sahabat Lama Yang Selalu Setia & Seia Sekata | NUSWANTORO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s