Kenangan Pribadi Pada Maskapai Bouraq Indonesia Airlines

Airlines swasta dengan warna khas hijau toska ini telah melalui rintangan dan perjuangan panjang bertahun-tahun dengan menuai berbagi reputasi dan prestasi. Pernah menjadi airlines swasta yang diperhitungkan dengan on-time performance penerbangan domestik terbaik, tapi toh disaat akhir nasib berkata lain.

From Zero to Hero 

Berdiri berkat keinginan gigih dan kejelian bisnis putra Menado, Jerry Albert Sumendap untuk menghubungkan wilayah Kalimantan yang masih terisolir lewat udara. Meskipun jalur sungai dan laut cukup baik, berbeda sekali dengan keadaan transportasi udara dan darat di Kalimantan khususnya Balikpapan dan Tarakan sangat buruk pada tahun 1968. Padahal eksplorasi tambang minyak dan kayu sedang booming luar biasa. Untuk itulah Bouraq hadir untuk mengisi peran yang ditinggalkan Garuda yang telah menghentikan rute domestik di Kalimantan demi melayani penerbangan rute ke luar negeri.

Bulan April 1969, dimulai langkah-langkah membuka jaringan udara yang penuh tantangan di Kalimantan. Bermodalkan tiga unit DC-3 beregistrasi PK-IBA, PK-IBI dan PK-IBS, Bouraq Indonesia Airlines mengudara mulai tanggal 1 April 1970. Tanggal inilah yang ditetapkan sebagai hari kelahiran Bouraq yang beroperasi di lapangan terbang rumput di Balikpapan. Nama Bouraq sendiri diambil dari kendaraan Nabi Muhammad SAW saat peristiwa Isra Miraj, diharapkan airlines ini menjadi yang tercepat baik perkembangan perusahaannya maupun ketepatan waktu pesawat yang dioperasikannya.

Niat utama mendirikan Bouraq bukanlah sebagai airlines berjadwal ataupun penerbangan carter tetapi untuk mempermudah mengantar karyawan perusahaan perkayuan PT Pordisa yang juga dimiliki Jerry Sumendap ke wilayah pedalaman Kalimantan. Nasib memang berkata lain, PT Pordisa gulung tikar malah Bouraq yang tumbuh maju bahkan sampai mendirikan sister company Bali Air tahun 1972 yang mengurusi penerbangan charter dan feederlines sementara Bouraq lebih melayani rute penerbangan berjadwal yang mulai dirambah kemudian. Selain Bali Air, Bouraq juga melahirkan anak perusahaan Bouraq Naltor yang bergerak dibidang konstruksi dan turut serta dalam pembangunan landasan Sam Ratulangi, Menado tahun 1976 serta pelaksanaan overlay dan paving landasan bandara Ngurah Rai, Bali untuk pesawat wide body setahun kemudian.

Terbang Tinggi dengan Penerbangan Berjadwal

Setelah melalui persiapan matang, tahun 1980-an merupakan era penerbangan berjadwal bagi Bouraq dengan menggunakan base di Jakarta dan Balikpapan serta Denpasar untuk Bali Air. Mengandalkan pesawat turboprop empat mesin Vickers Viscount (tipe VC-812 dan VC-843) sebanyak empat unit, 16 unit double turboprop Hawker Siddley HS-748 (tipe 2A dan 2B) dan tiga unit Casa/ IPTN NC-212 Aviocar untuk menjangkau pelosok pedalaman Kalimantan. Sementara Bali Air sendiri mengoperasikan dua unit Britten Norman BN-2A Islander dan empat unit Trislander untuk melaksanakan tugas rute jarak pendek, feeder, charter, dan juga perintis.

Tahun 1990-an, Bouraq berhasil menempatkan dirinya sebagai perusahaan penerbangan swasta dengan on-time performance terbaik untuk penerbangan domestik. Walau demikian muncul juga tuduhan miring “perusahaan penerbangan dengan mengandalkan armada pesawat tua (baca : pesawat non-jet)” santer terdengar. Untuk itulah Bouraq menjawab dengan mendatangkan pesawat jet dari tipe Boeing B737-200 untuk meningkatkan kualitas pelayanan, peremajaan pesawat, dan memenuhi pertumbuhan bisnis yang tumbuh cukup signifikan.

Dengan dana sekitar 70 juta dollar, Dirut Jerry Sumendap menyewa tujuh unit B737-200 bekas pakai Malaysia Air System (MAS) yang rata-rata berusia 10 tahun. Masuknya pesawat jet ini berarti menambah kuantitas armada menjadi 30 unit. Untuk mengoperasikan seluruh armada dipercayakan kepada 100 awak pilot/kopilot. Unik dan jarang ada di airlines Indonesia karena tiga diantaranya adalah penerbang perempuan yaitu Meriam Zanaria, Lokawati Nakagawa, dan Cipluk. Tanggal 11 Februari 1993, B737-200 pertama beregistrasi PK-IJD datang dan tiga hari kemudian melakukan terbang perdana jalur penerbangan Jakarta-Surabaya-Balikpapan p.p.

Back to Zero

Tanggal 6 Juni 1995, sang pendiri Jerry Sumendap wafat dalam umur 69 tahun maka dimulailah babak baru bagi Bouraq. Sang pengganti yang tak lain adalah putranya yaitu Danny Sumendap mulai mengambil alih management akhir tahun 1995. Mempertahankan ternyata lebih sulit daripada mendirikan begitu kata orang, sangat dirasakan Danny Sumendap. Tantangan jauh lebih sulit karena berhadapan dengan orang-orang lama yang dianggap sebagai penghalang dan masalah bagi kemajuan Bouraq oleh karena itu “pengobatan” satu-satunya adalah melakukan pembongkaran susunan manajemen. Organisasi menjadi lebih simpel dengan menekankan empat direktorat utama yaitu operasi, komersial, keuangan, dan general affairs/SDM.

Meskipun berhasil membenahi manajemen ternyata Bouraq harus menghadapi tantangan berikut yang tak diduga. Badai krismon 1998 mulai menggerogoti bisnis di Indonesia tak terkecuali airlines yang padat modal dan berorientasi dollar dalam pembiayaannya. Resep efisiensi terpaksa dilakukan mulai dari mengurangi armada pesawat, negoisasai ulang dengan pemilik pesawat dan mitra kerja sampai mengurangi jumlah karyawan alias PHK. Benar-benar hadiah dan pukulan berat bagi airlines saat usianya mau menginjak umur 30 tahun.

Kenangan Pribadi

Saya punya kenangan manis dengan Bouraq Indonesia Airlines karena pernah beberapa kali naik pesawat ini. Kebanyakan penerbangan yang dilakukan adalah perjalanan bisnis antara tang 1995-2005.

Ada juga kenangan tak terlupakan sebelum bekerja di Merpati Nusantara Airlines (walau sekarang sudah jadi “Alumni”). Saat saya baru lulus tahun 1990, pernah melamar ke maskapai ini namun diinformasikan oleh seorang bapak yang pegawai Personalia/SDM bahwa tidak ada lowongan saat itu di Bouraq Indonesia Airlines.

Setelah mengobrol, karena saya juga sedang melamar di beberapa perusahaan penerbangan lain, bapak yang baik hati ini menawarkan saya untuk menginap di rumahnya. Tawaran mengagetkan tersebut saya sambut dengan suka cita karena tidak menyangka beliau tidak menaruh curiga walaupun baru kenal.

Masih ingat ketika sampai di rumah beliau yang sederhana disambut putranya yang cacad dengan suka cita. Akhirnya saya menginap satu malam untuk esoknya ikut test di maskapai Garuda Indonesia.

Kenangan ini mengisi relung hati apa lagi saat mendengar Bouraq Indonesia Airlines berhenti beroperasi. Saya berterima kasih dan selalu berdoa agar beliau sekeluarga diberikan perlindungan oleh Alla SWT (terutama putera beliau yang cacad) agar bisa meneruskan kehidupan ini.

Salam hormat saya untuk seluruh pemangku kepentingan Bouraq Indonesia Airline. Semoga maskapai ini bisa bereinkarnasi menjadi maskapai yang terbang sampai ke langit ke tujuh sesuai namanya, Bouraq.

Sebagian dikutip dari: http://naufal-indoflyer.blogspot.com/2009/11/kisah-bouraq-airlines.html

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=Ay5aPHuu07Y]

Tentang djadja

Seorang hamba Allah, ayah, suami, kepala rumah tangga (Commander In Chief), praktisi pendidikan, manajemen dan telematika yang mencoba merunduk di ladang ibadah
Pos ini dipublikasikan di Business, Inspirasi, Liputan, Pribadi, Sejarah, Wisata dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Kenangan Pribadi Pada Maskapai Bouraq Indonesia Airlines

  1. suyadi berkata:

    Saya juga pernah naik pesawat buraq pelayanannya sangat baik dsn sangat mengesankan memang sangst disayangkan jika para penerus gak sanggup memanage perusahasn ini dengsn sangat baik,memang yang namanya tantangan harus dihadapi dan bisa dijadiksn peluang.6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s