Menggali Informasi dan Mencegah Distorsi Media Sosial

Kebebasan dan Aturan Berpendapat di Media Sosial 

Media sosial adalah ranah umum yang disediakan untuk menyampaikan pendapat. Namun, seperti “jalan umum”, ia punya kaidah “berlalu lintas” yangt harus ditaati agar tidak menimbulkan “senggolan atapun kecelakaan sosial” yang tidak diharapkan. Aturan “berlalu lintas pendapat” terhadap kebebasan berekspresi itu ada, terutama sejak pengesahan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) pada 2008.

Drama kasus hukum pencemaran nama baik yang melibatkan mahasiswa pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Florence Sihombing, harus menjadi pengingat bagi kita untuk senantiasa berhati-hati dalam mengutarakan pendapat, baik di dunia maya maupun dunia nyata.

Setelah kasus penghinaan terhadap warga Yogyakarta yang dilakukan mahasiswi S-2 Universitas Gadjah Mada, Florence Sihombing, mencuat melalui akun jejaring sosial Path, kali ini giliran akun Twitter milik Kemal Septiandi yang menjadi sorotan warga Kota Bandung. Melalui akun Twitter-nya, @kemalsept, dia menghina Kota Bandung dengan sebutan kota yang penuh dengan pelacur. Tak hanya satu kali, Kemal tercatat melakukan empat kali kicauan berisi penghinaan terhadap Kota Bandung di akun Twitter-nya.

Mencegah Distorsi di Media Sosial

Perkembangan media sosial memudahkan masyarakat memperoleh informasi dan mendorong demokratisasi. Di sisi lain, keberadaan media sosial tidak lepas dari berbagai banyak kepentingan yang tidak “seimbang dan  linier”. Media sosial menjadi “produsen distorsi” yang menghasilkan “produk” untuk ditawarkan pada audiens sebagai pasarnya. Artinya, eksistensi media sosial juga bergerak dengan logika “masif” dan “pasaran”.

Kepentingan “Distorsi” media sosial inilah yang seringkali akan berada dalam kondisi ”semrawut” dengan fungsi idealnya; menjadi jendela informasi dan sumber data bagi masyarakat. Bahkan dalam suatu kondisi ekstrem, manakala kepentingan “Distorsi” dan “Deception” (Pengelabuan) ini lebih dominan, media tidak lebih berfungsi hanya sebagai sarana perpanjangan tangan kelompok tertentu untuk mencetak “keuntungan” sebesar-besarnya.

“Distorsi” dan “Deception” (Pengelabuan) ini  misalnya, terjadi pada kasus “Kemal Septiandi” yang menjadi sorotan warga Kota Bandung. Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melakukan penelusuran untuk memastikan bahwa pemilik akun twitter @kemalsept bukan mahasiswanya.

“Adanya dugaan pemilik akun twitter @kemalsept adalah mahasiswa UPI, kami membantah dan menyatakan tidak benar,” kata Koordinator Bidang Publikasi dan Dokumentasi Media Humas UPI, Andika Dutha Bachari, dalam konferensi pers di Kampus UPI, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (6/9/2014).

Dijelaskannya, isu bahwa @kemalsept mahasiswa UPI disebutkan dalam situs sosial media. Pemilik akun @kemalsept disebut-sebut bernama “Kemal Septiandi.”

Ia juga disebut sebagai mahasiswa UPI prodi ilmu komputer angkatan 2011. Untuk memastikannya, UPI melakukan penelusuran database sistem informasi akademik dan kemahasiswaan (SIAK). Hasilnya, tidak ditemukan nama tersebut.

Untuk hal ini, sahabat saya Arnold Darwin mengatakan: 

“Sesuatu yang kita dengar atau lihat itu akan mempunyai distorsi karena dalam perjalanannya mengalami gangguan atau noise. Oleh karena itu dalam spesifikasi alat penyampai pendengaran atau audio amplifier selalu diberikan data nilai noise dan distortion (termasuk wow and flutter). Apalagi teks, audio atau videonya kemasyarakat umum yang melalui pengolahan dan penyampaian beberapa kali. Ada baiknya kita melihat Sabda Rasulullah SAW, cara penyampaian melihat, mendengar sendiri secara langsung. Semoga kita termasuk orang yang dapat menjaga perkataan kita.”

Menggali Informasi Presisi di Media Sosial

Dalam beberapa literatur memang disebutkan bahwa Media Sosial adalah salah satu “Top of Minds” yang laku di pasaran “Distorsi Informasi”,  misalnya pada Paper yang berjudul “Free speech perspectives on the internet – The internet as a public sphere and democratic medium”. Masih banyak lagi “perdebatan menarik” dan akan menaikkan rating media sosial perihal “Distorsi Informasi” ini dengan menambahkan Peran Utama, Peran Pembantu, “Stunt Man/Woman” bahkan “Cheer Leader” dalam drama sinetron “Devide et Impera” ini, misalnya perdebatan sengit pada kasus Florence dan “Kemal Septiandi” di atas.

“Distorsi Informasi” ini sering saya pergunakan bila ingin menyitir (baca: agak menyindir) bahwa “informasi kehidupan” itu harus selalu diukur dari selera kebanyakan orang, kebiasaan, pergaulan atau karena “sesuai rating TV/Media Sosial”……Mungkin pada saat SMU atau SMK kita masih ingat bahwa suatu “informasi dapat ditumpangkan pada gelombang pembawa (carrier)”….Namun bila gelombang termodulasi itu (informasi dan “carrier”), pada saat pengiriman terganggu oleh distorsi terlalu besar, maka informasinya akan berubah atau rusak dan tidak akan sama lagi dengan informasi semula…….

Bisakah kita mengerti dan menghayati bahwa “informasi kehidupan” itu bukan sekedar harus mirip atau sama dengan orang lain……Mungkin banyak contoh pengusaha yang sukses….ilmuwan yang hebat,…pemimpin yang cemerlang,…ulama yang zuhud, pekerja yang baik, orang tua teladan, anak yang sholeh,….dan banyak contoh lagi….melakukan terobosan (kadang “pemberontakan”) yang kadang tidak terpikirkan pada zamannya. Mereka dibekali dengan naluri (serta kalbu) bahwa tidak selamanya “data mentah” yang mereka terima adalah sesuatu nilai yang “mutlak”.

Keingintahuan untuk mencari kebenaran hakiki selalu menjadi bekal dan dasar semua pemikiran serta tindakan mereka sehingga menghasilkan “Above Average Return”…..Mereka punya kemampuan memilah informasi dari distorsi yang ada dengan teliti dan sabar…serta punya hikmah bahwa seringkali “Distorsi Lebih Besar Dari Informasi”.

Wallahu Alam Bissawab…..

Iklan

Tentang djadja

Seorang hamba Allah, ayah, suami, kepala rumah tangga (Commander In Chief), praktisi pendidikan, manajemen dan telematika yang mencoba merunduk di ladang ibadah
Pos ini dipublikasikan di Kebijakan, Pemikiran, Pribadi, Sosial, Telematika, Tokoh, UPI dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s