Kakaren Lebaran ti Pagerageung – @Tasikmalaya

Masjid Agung Pagerageung

Masjid Agung Pagerageung

Lebaran parantos rengse ……..

Aya sabaraha “kakaren” saparantos Lebaran ti Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya. Kakaren teh asal kecapna tina kakarian, harti sajalantrahna kurang leuwih sesa-sesa. Kakaren lebaran biasana dilarapkeun kana tuangeun sesa lebaran. Pan biasana dintenan lebaran mah sok sagala dituang, sagala dileubeutkeun kana patuangan. Sapertos nu kokomoan, etang-etang ‘balas dendam’ saparantos sabulan campleng sagala disungkeret, dugi ka aya paribasa ‘kokoro manggih mulud, puasa manggih lebaran’. Nu matak, sababaraha dinten saparantos lebaran, biasana nu aya kantun kakaren.

Janten anu namina kakarén lebaran téh nyaéta perkara anu masih kénéh nyésa tina dintenan lebaran. Ngan anu dimaksad di dieu mah sanes tuangeunna wungkul, tapi sagala perkara anu aya kénéh atawa masih nyangsang kénéh sawios lebaranana tos ngalangkung. Langkung tebihna deui,sanes ngan saukur tilas atanapi tapak tina lebaranana wungkul, da anu namina lebaran mah teu tiasa leupas tina anu nyababkeun ayana lebaran atanapi Iedul Fitri, nyaéta bulan puasa atanapi Ramadhan.

Saur Ulama mah, aya nu langkung penting batan kakaren lebaran, nyaeta kakaren puasa. Lamun puasana leres, tangtos dina dintenan lebaran moal kokomoan. Moal sagala dituang, moal sagala dianggo, moal sagala diaya-ayakeun. Puasa saestuna kedah janten madrasah alias diklat pikeun diajar nyengker tur ngadalian hawa napsu. Namina diajar mah pan di mana tos tiasa teh sok teras dianggo atanapi dipraktekkeun. Contona, mun urang diajar nyetir mobil, tangtu mun geus bisa teh dipake nyupiran. Mun teu kitu, kanggo naon atuh hoyong diajar nyetir sagala?

Aya deui kakaren anu “luar biasa” nyaeta macet dina suasana Lebaran. Seueur anu mudik Bandung ka Tasik teh ditempuh dina waktos tujuh jam. Eta teh masih leuheung, da rerencangan abdi mah aya anu tilu belas jam! Anehna, pusat kamacetan sanes di wilayah Nagreg, namung ti Limbangan, Lewo, Malangbong, Gentong parat dugi ka Pamoyanan.

Panyabab kamacetanana seueur, diantarana teh  salepas jalan tanjakan  Gentong, nu aya jambatan di handapna aya jalan kareta api tea. Lebah dinya mah mobil nu perewis teh paspasan pisan, komo lamun nu perewisna bus jeung bus mah. Satungtung can dilegaan mah, eta jalan teh janten sabab kamacetan…..

Iklan
Dipublikasi di Ibadah, Islam, Keluarga, Pribadi, Sunda, Wisata | Tag , , , , | 2 Komentar

Pendukung Fanatik Calon Presiden dan Wakil Presiden

Gambar dari http://posronda.net/

Gambar dari http://posronda.net/

Seperti yang saya sampaikan di sini, bahwa dalam persoalan pendidikan politik,  bukan hanya masalah penyuluhan bagaimana caranya menyoblos yang baik dan benar. Pendidikan politik harusnya menjadi lebih luas daripada sekedar penjelasan hal-hal normatif yang sistemik. Maraknya pelanggaran pemilu yang tidak disadari sebagian warga, mulai dari membawa anak-anak ke kampanye hingga politik uang, adalah bukti bahwa pemilu menjadi momentum prosedural semata untuk meramaikan sesuatu yang kita beri nama demokrasi. Refleksi masyarakat kritis yang dapat membangun negara seyogyanya dapat dilihat dari tanggapan mereka terhadap kampanye politik calon pemimpin.

Codes, Colours, Chemistry

Jadi tadi sore saya berbincang dengan seorang teman di salah satu media sosial. Dia berkata, semula ia hendak memilih Jokowi, tetapi karena kesal pada kelakuan para pendukung beliau di media sosial, dia justru akan memilih Prabowo. Bukan karena dia percaya pada visi Prabowo, bukan karena dia tidak menyukai program-program Jokowi; sekedar karena kesal (dan ingin membuat kesal) para pendukung Jokowi.

Lihat pos aslinya 1.071 kata lagi

Dipublikasi di Inspirasi, Kebijakan, Leadership, Pemangku Kepentingan, Politik, Tokoh | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Kenangan Masa Kecil di @KotaBogor Pada Sungai Cibalok, Cisadane dan @Tjiliwoeng

Salinan gambar "Lokasi dan Tempat Ibu Kota Pakuan Pajajaran" dari buku Kabudayaan Sunda Zaman Pajajaran Jilid 2, 2005)

Salinan gambar “Lokasi dan Tempat Ibu Kota Pakuan Pajajaran” dari buku Kabudayaan Sunda Zaman Pajajaran Jilid 2, 2005)

Antara tahun 1965-1969 saya pernah menjadi anak “Expat” di Bogor setelah pindah dari Bandung. Ayah yang seorang pendidik, menduduki jabatan baru sebagai guru kemudian Kepala STM Negeri Bogor di Gang Aut.

Saat di Bogor, kami pernah tinggal di Gang Aut, Bondongan, dan Lebak Pilar. Yang paling berkesan adalah bahwa ketiga tempat tersebut berada di pinggir kali dan sungai bersejarah di Bogor.

Sisa-sisa STM Negeri Bogor di Gang Aut

Sisa-sisa STM Negeri Bogor di Gang Aut

Rumah dinas bapak di Gang Aut yang resminya adalah sebuah kelas yang disulap menjadi rumah tepat di pinggir kali Cibalok yang deras alirannya. Beberapa bagian tembok/kirmir penahan sudah ada yang runtuh, sehingga selaku anak kecil beberapa kali saat naik sepeda roda tiga diperingatkan ibunda agar tidak sampai masuk kali. Masih teringat bahwa saat itu kondisinya masih bersih dan tidak tercemar sehingga banyak orang mencari ikan di kali tersebut. Juga, tidak akan terlupa suara kali yang menemani tidur saat malam hari sebagai musik yang indah.

Prasasti Batutulis  bagian sejarah dari Kota Bogor

Prasasti Batutulis bagian sejarah dari Kota Bogor

Beda lagi saat di Bondongan. Kami sering tinggal di rumah sahabat bapak bernama Pak Drajat (almarhum) yang seorang pegawai PLN dan salah seorang pengurus Persikabo. Rumah dinas beliau dekat dengan Sungai Cisadane yang menjadi ikon Bogor dengan adanya Prasasti Batu Tulis. Perlu diketahui, Prasasti Ciaruteun atau prasasti Ciampea ditemukan di tepi sungai Ciaruteun, tidak jauh dari sungai Ci Sadane, Bogor. Prasasti tersebut merupakan peninggalan kerajaan Tarumanagara.

Ciliwung Tempo Dulu. riofuku.blogspot.com

Ciliwung Tempo Dulu. riofuku.blogspot.com

Terakhir, saat tinggal di Lebak Pilar masih teringat keramah tamahan penduduknya. Saat kecil, sebagai murid pengajian yang paling kecil saya sering didudukkan di kursi tinggi sementara anak lain belajar Qur’an dengan duduk di atas tikar. Kenangan lain adalah saat, pagi dan sore hari saya sering mencari ikan dan “hurang” (udang air tawar) yang saat itu masih banyak terdapat di Sungai Ciliwung.

Sunggu kenangan yang tak dapat dilupakan saat berada di Bogor, sebagai kota kedua tempat “Bali Geusan Ngajadi”. Tahun 1969, kami pindah kembali ke Muararajeun, sebuat tempat di tengah kota Bandung sampai sekarang.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=i6xr8qp8zqE]

Dipublikasi di Anak, Ayah, Bandung, Filosofi, Inspirasi, Keluarga, Liputan, Pribadi, Sejarah, Sunda | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Manusia Sepanjang Usia

Adam dan Hawa, manusia pertama di dunia

Berharap terus  surga sejak awalnya

Namun mereka makan buah kholdi tanpa terpaksa

Akhirnya harus turun ke dunia yang fana

Ibu Jompo di Panti Wredha Boedi Istri

Ibu Jompo di Panti Wredha Boedi Istri

Manusia kadang lupa kemana harus kelana

Dari kecil hingga dewasa penuh khilaf dan dosa

Andai mereka tahu akhir dari semua cerita

Menuju akhirat yang tiada masa dan akhirnya

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=4NqZLbyrbGc]

Dipublikasi di Anak, Ayah, Bandung, Ibu, Keluarga, Pribadi, Puisi | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Idris Sardi dan Filosofi “Teng Manuk Teng Anak Merak Kukuncungan”

Idris Sardi dan “Biola Maut”

Idris Sardi (lahir di Batavia, Hindia Belanda (sekarang Jakarta), 7 Juni 1938 – meninggal 28 April 2014 pada umur 75 tahun) adalah seorang pemain biola Indonesia. Ia adalah anak dari pemain biola Orkes RRI Studio Jakarta, Bp. Sardi.

Pada usia enam tahun, pertama kali mengenal biola. Pada umur sepuluh tahun ia sudah mendapat sambutan hangat pada pemunculannya yang pertama di Yogyakarta tahun 1949. Boleh dikatakan sebagai anak ajaib untuk biola di Indonesia, karena di usia muda sekali sudah lincah bermain biola.

Tahun 1952 Sekolah Musik Indonesia (SMIND) dibuka, dengan persyaratan menerima lulusan SMP atau yang sederajat. Pada tahun 1952, Idris Sardi baru berusia 14 tahun, sehingga ia belum lulus SMP, namun karena permainannya yang luar biasa ia bisa diterima sebagai siswa SMIND tersebut. Bersama temannya yang juga pemain biola, Suyono (almarhum) namun bukan anak ajaib, yang lebih tua 2 tahun merupakan dua orang siswa SMIND yang berbakat sekali.

Pada orkes slswa SMIND pimpinan Nicolai Varvolomejeff, tahun 1952 Indris yang masih memakai celana pendek dalam seharian duduk sebagai concert master pada usia 14 tahun, duduk bersanding dengan Suyono. Rata-rata siswa SMIND berusia di atas 16 tahun.

Guru biola Idris waktu di Yogyakarta (1952-1954) adalah George Setet, sedangkan pada waktu di Jakarta (setelah 1954) adalah Henri Tordasi. Kedua guru orang Hongaria ini telah mendidik banyak pemain biola di Indonesia (orang Hongaria adalah pemain biola unggul).

Ketika M. Sardi meninggal, 1953, Idris dalam usia 16 tahun harus menggantikan kedudukan sang ayah sebagai violis pertama dari Orkes RRI Studio Jakarta pimpinan Saiful Bahri.

Pada tahun 60-an, Idris beralih dari dunia musik biola serius, idolisme Heifetz, ke komersialisasi Helmut Zackarias.

Seandainya dulu Idris Sardi belajar klasik terus pada tingkat kelas master dengan Jascha Heifetz atau Yahudi Menuhin, maka ia akan menjadi pemain biola kelas dunia setingkat dengan Heifetz dan Mehuhin. Namun, meskipun dia belum pernah belajar biola di luar negeri, ia tetap setingkat dengan Zacharias.

Orang Indonesia yang pernah belajar dengan Haifetz adalah Ayke (Liem) Nursalim, kini keadaannya tidak dapat main biola lagi akibat kram pada jari-jarinya, dan merupakan wanita pemain biola Indonesia yang pernah terpandang (dulu di usia 4 tahun/1955 di Yogyakarta sudah main di orkes).

Darah Seni Mengalir Pada Anak

Ia adalah ayah dari pemain film Santi Sardi dan pemeran muda Indonesia Lukman Sardi dari pernikahannya Zerlita. Setelah perceraiannya dengan Marini, Perkawinannya yang ketiga adalah dengan Ratih Putri.

Idris Sardi mempunyai seorang murid yang telah sukses menjadi violis perempuan papan atas Indonesia, yaitu Maylaffayza Wiguna. Ia juga pernah terkenal karena memiliki tanda nomor kendaraan “B 10 LA” yang dapat dibaca “biola”. Setelah hal ini dipublikasikan secara luas, ia merasa tidak nyaman karena menjadi perhatian masyarakat ke manapun ia pergi. Karena hal ini Sardi mengganti nomor kendaraannya dengan nomor biasa.

Ini sesuai dengan Filosofi Sunda “Téng manuk téng anak merak kukuncungan” yang artinya anak akan selalu mencontoh kepada ayahnya.

Meninggal dunia pada tanggal 28 April 2014

Dikutip dari REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA,  Pemain biola kawakan Indonesia, Idris Sardi, dikabarkan meninggal dunia tadi pagi jam 07.25 di RS Meilia, Cibubur. Idris Sardi adalah ayah dari aktor layar lebar Lukman Sardi. Ia juga merupakan guru dari violis perempuan papan atas, Maylaffayza Wiguna.

Sebelumnya, Idris Sardi sudah dikabarkan dalam kondisi kritis dan mendapat perawatan di rumah sakit. Menurut pengamat musik Amazon, Idris Sardi yang sudah menderita sakit cukup lama ini dirawat di kediamannya di kawasan Beji, Depok, Jawa Barat (Jabar). ”Saat ini beliau dalam kondisi kritis dan dirawat di salah satu rumah sakit di Jakarta,” ungkap Amazon yang tidak bersedia memberitahu di rumah sakit mana Idris Sardi dirawat.

”Mohon doanya yang tulus dari seluruh masyarakat Indonesia. keras. Doakan agar Allah SWT mengangkat penyakitnya, memberikan kesembuhan dan tetap berkarya mengawal generasi pencinta musik Indonesia. Amin,” imbuh Amazon yang hanya mengirimkan foto musisi legendaris itu terbaring lemas dengan mengenakan nafas buatan dan jarum infus menempel di tangan kanannya.

Dipublikasi di Film, Lagu, Pribadi, Tokoh | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Demokrasi Indonesia dan Politik Maju Kena Mundur Kena

Demokrasi Indonesia

Konstitusi Indonesia, UUD 1945, menjelaskan bahwa Indonesia adalah sebuah negara demokrasi. Presiden dalam menjalankan kepemimpinannya harus memberikan pertanggungjawaban kepada MPR sebagai wakil rakyat. Oleh karena itu secara hierachy rakyat adalah pemegang kekuasaan tertinggi melalui sistem perwakilan dengan cara pemilihan umum. Pada era Presiden Soekarno, Indonesia sempat menganut demokrasi terpimpin tahun 1956.

Indonesia juga pernah menggunakan demokrasi semu  pada era Presiden Soeherto hingga tahun 1998 ketika Era Soeharto digulingkan oleh gerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa yang telah memakan banyak sekali harta dan nyawa dibayar dengan senyum gembira dan rasa syukur ketika Presiden Soeharto mengumumkan “berhenti sebagai Presiden Indonesia” pada 21 Mei 1998.

Setelah era Seoharto berakhir Indonesia kembali menjadi negara yang benar-benar demokratis mulai saat itu. Pemilu demokratis yang diselenggarakan tahun 1999 dimenangkan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Pada tahun 2004 untuk pertama kali Bangsa Indonesia menyelenggarakan pemilihan umum presiden. Ini adalah sejarah baru dalam kehidupan demokrasi Indonesia.

Maju Kena Mundur Kena

Idiom Maju Kena Mundur Kena sangat tepat digambarkan film drama komedi Indonesia yang diproduksi pada tahun 1983. Film ini disutradarai oleh Arizal serta dibintangi antara lain oleh Warkop DKI, Eva Arnaz, dan Lydia Kandou.

Sinopsis film ini menggambarkan Dono dan Indro adalah teman satu kos dan anak buah Kasino di bengkel. Kasino melarang Dono dan Indro untuk tidak tertarik oleh wanita. Padahal secara diam diam, Kasino selalu merindukan seorang gadis yang fotonya ia temukan di sebuah majalah. Tanpa sengaja, ketika Dono sedang jaga malam, ia harus memperbaiki mobil Marina (Eva Arnaz).

Hal tersebut membuat Kasino marah marah, karena Marina belum membayar ongkosnya. Di luar dugaan, ternyata Marina pindah kos ke tempat Dono dan kawan kawan. Kasino terperanjat, karena ternyata Marina adalah gadis yang ia rindukan selama ini. Kasino selalu berusaha mendekati Marina, tetapi justru Dono yang mendapat untung. Karena Marina yang ditemui kakek neneknya untuk dikawinkan mengaku sudah menikah dengan Dono.

Demokrasi Indonesia dan Politik Maju Kena Mundur Kena

Seperti film “Maju Kena Mundur Kena”, menurut Yudi Latif Pengamat Politik dari Reform Institute, Demokrasi Indonesia  terus memperlihatkan kecenderungan serba paradoks. Minat mendirikan partai politik tak kunjung surut, sejalan dengan kecenderungan para politisi dan partai politik untuk memperkaya diri. Saat yang sama mutu demokrasi Indonesia tetap miskin (defisit), tidak berhasil melakukan pendalaman (perbaikan institusional) dan perluasan (membawa keadilan dan kesejahteraan).

Indonesia merupakan negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, tetapi memicingkan pandangan terhadap Indeks Demokrasi Global pada 2011 yang menempatkan Indonesia pada peringkat ke-60 dari 167 negara yang diteliti—jauh di bawah Timor Leste (42), Papua Nugini (59), Afrika Selatan (30), dan Thailand (57). Indonesia masuk kategori flawed democracy (cacat demokrasi) yang ditandai, antara lain, dengan pemilu yang tidak bersih, pemerintahan yang korup dan ingkar janji-janji pemilu.

Yah, namanya juga politik, maju kena mundur juga kena. Tapi apresiasi masyarakat mungkin akan jauh berbeda ketika Demokrasi meletakkan fondasinya jauh dari kepentingan pribadi, golongan atau partai  sebagai peserta “Pesta Politik”. Lagi pula posisi masyarakat dalam demokrasi tidak hanya berada di papan bawah atau tengah, namun memberi warna dan irama  elektabilitas Politik yang kian hari kian turun. Bukankah lebih baik menyelesaikan pekerjaan “Peradaban Indonesia” hingga tuntas, ketimbang ngoyo menggunakan “Stanza Demokrasi Barat” yang belum jelas juntrungannya? Tapi ya sudahlah, Selamat Berdemokrasi Indonesia……Semoga hasilnya tidak mengecewakan…….

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=4wZGc6AD660]

Dipublikasi di Filosofi, Inspirasi, Kebijakan, Pemangku Kepentingan, Politik, Pribadi | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Off-Road Bersama Awakee Indonesia

@PojokPendidikan Off-Road Bersama Awakee Indonesia

ASOSIASI WRANGLER CHEROKEE adalah Organisasi sebagai wadah pehobby, share pengetahuan teknik otomotif fourwheeling. Concern terhadap konservasi alam, pengelolaan lingkungan hidup, kegiatan sosial, kegiatan pariwisata / seni budaya / pendidikan /olahraga, PBA/penanggulangan bencana alam, dll

Gambar | Posted on by | Tag , | Meninggalkan komentar